Sebuah agen marketing dunia, Bartle Bogle Hegarty (BBH), yang berkantor di Kota New York, Amerika Serikat, melakukan eksperimen kontroversial, yaitu menggunakan tunawisma sebagai pemancar berjalan nirkabel generasi 4G. Menurut koran the Daily Mail, Rabu (14/3), percobaan ini dilakukan di Kota Austin, Negara Bagian Texas, Amerika. BBH menyatakan proyek ini bertujuan memutakhirkan cara berjualan koran yang tadinya berupa lembaran kertas menjadi bentuk digital. Bos BBH, Emma Cookson, mengatakan setiap tunawisma akan dibayar USD 20 saat pertama kali mengajukan diri menjadi pemancar. Jika bekerja enam jam saban hari mereka akan memperoleh bayaran USD 50. BBH merekrut tiga belas gembel dari sebuah lembaga sosial Front Step Shelter yang berada di Austin. Lembaga itu menampung tunawisma korban badai Katrina yang melanda sebagian besar Amerika tahun lalu. Proyek ini baru diuji coba kemarin. Menurut www.homelesshotspot.com, para pengguna layanan ini akan dikenakan tarif USD 2 tiap seperempat jam. Para pengguna layanan ini dapat mencari para pemancar berjalan itu lewat aplikasi Google Maps. Ciri mereka mengenakan baju bertulisan "Saya adalah hotspot 4G berjalan".Program kontroversial ini menuai banyak tanggapan. Ada yang menilai itu sebuah terobosan baru dalam dunia teknologi. Lainnya berkomentar miring terhadap proyek ini.Cookson mengatakan proyek ini bukan hanya sebuah terobosan dalam mengakses data digital, tapi juga terobosan sosial yang memperbaiki interaksi antara kaum tunawisma yang sering dianggap masyarakat kelas dua dengan masyarakat umumnya. Dusty White, seorang anggota pemancar berjalan, mengatakan yang dia lakukan hal positif. Namun, pendapat lain mengatakan ini bentuk eksploitasi baru karena manusia sudah dijadikan komoditas perdagangan secara halus. Lainnya mengatakan ini hal gila yang pernah dilakukan dan dengan menggunakan manusia sebagai instrumen pemancar nirkabel berjalan berarti kini dunia sudah memasuki masa perbudakan mutakhir.
Gembel Amerika dijadikan pemancar hotspot 4G
Ada pihak yang menilai menggunakan manusia sebagai pemancar berjalan sebagai bentuk perbudakan mutakhir.
Advertisement
Rekomendasi