Putin: Kapal Perang Rusia Akan Dilengkapi Senjata Nuklir Hipersonik & Drone Bawah Air
Merdeka.com - Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan peningkatan persenjataan militer negaranya, termasuk melengkapi Angkatan Laut (AL) dengan senjata penyerang nuklir supersonik, drone nuklir bawah air, termasuk 40 unit kapal baru tahun ini.
Putin menyampaikan hal tersebut dalam parade AL yang menandai peringatan Hari AL di Rusia pada Minggu di St Petersburg.
"Penyebarluasan teknologi digital canggih yang tidak ada bandingannya di dunia, termasuk sistem serangan hipersonik dan drone bawah air, akan memberi armada keunggulan khusus dan peningkatan kemampuan tempur," jelasnya, dikutip dari Press TV, Senin (27/7).
Senjata-senjata baru itu termasuk drone nuklir bawah laut Poseidon, yang dirancang untuk dibawa oleh kapal selam, dan rudal jelajah hipersonik Tsirkon (Zircon), yang dapat digunakan di kapal-kapal permukaan.
Putin tidak merinci kapan AL akan menerima senjata nuklir baru, hanya menyebut dalam waktu dekat.
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDalam pernyataan terpisah, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pengujian Belgorod, kapal selam pertama yang mampu membawa drone Poseidon, sedang berlangsung dan pengujian sistem senjata sedang dilakukan.
Putin sebelumnya memperingatkan Moskow akan mengambil tindakan jika Amerika Serikat menggunakan senjata nuklir jarak menengah di Eropa.
Presiden AS, Donald Trump menarik diri dari Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF) dengan Rusia pada tahun 2019, dan sekarang berusaha untuk tidak memperbarui perjanjian senjata nuklir lainnya.
INF telah melarang semua rudal darat dengan jangkauan antara 500 dan 5.500 kilometer dan termasuk rudal yang membawa hulu ledak nuklir dan konvensional.
Putin sebelumnya telah memperingatkan, pertarungan senjata tidak akan terhindarkan jika Washington tidak memperbarui Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (START).
Perjanjian START Baru adalah perjanjian kontrol senjata nuklir besar terakhir antara Moskow dan Washington yang membatasi pengembangan dan penyebaran hulu ledak nuklir strategis kedua negara. Ini dapat diperpanjang untuk lima tahun ke depan, melampaui tanggal kedaluwarsa pada Februari 2021, dengan kesepakatan bersama.
Di bawah START Baru, yang ditandatangani pada April 2010, AS dan Rusia sepakat untuk mengurangi separuh jumlah rudal nuklir strategis mereka dan membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan menjadi 1.550.
Rusia juga telah berulang kali menyuarakan keprihatinan tentang pemasangan rudal Patriot AS dan penempatan pasukan di negara-negara Baltik, serta latihan NATO yang dipimpin AS di dekat perbatasan Rusia.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya