Peringati 5 Tahun Gerakan Payung, Ribuan Demonstran Hong Kong Serukan Demokrasi

Minggu, 29 September 2019 12:13 Reporter : Merdeka
Peringati 5 Tahun Gerakan Payung, Ribuan Demonstran Hong Kong Serukan Demokrasi Demonstran Hong Kong. ©2019 REUTERS/Kai Pfaffenbach

Merdeka.com - Puluhan ribu warga memadati pusat pemerintahan Hong Kong untuk memperingati lima tahun Gerakan Payung, Sabtu (28/9) malam. Payung menjadi simbol gerakan pro-demokrasi Hong Kong.

"Bebaskan Hong Kong! Demokrasi saat ini juga!" seru para demonstran.

Kerumunan orang tumpah ruah di taman kota dan jalanan sekitar gedung pemerintahan. Beberapa dari mereka mendekati halaman kantor dan melemparkan bom molotov. Kaca jendela kantor pun dihancurkan dengan batu bata.

Polisi anti huru hara menembakkan gas air mata dan meriam air untuk memecah konsentrasi massa. Namun para pengunjuk rasa tidak gentar. "Kami akan kembali," sumpah mereka.

Musim gugur 2014, untuk pertama kalinya gerakan pro-demokrasi dilakukan. Selama 79 hari, para demonstran mengepung kompleks perkantoran pemerintah dan kawasan bisnis di pusat kota. Namun, upaya ini tidak berhasil meluluhkan pemerintah China untuk memberikan hak pemilihan bebas dan adil bagi warga Hong Kong.

"Setiap gerakan memunculkan gerakan berikutnya. Sepanjang yang kita perjuangkan adalah demokrasi sejati," ungkap Benny Tai, profesor hukum yang juga menjadi salah satu inisiator gerakan ini.

Dikutip dari Al Jazeera, dalam 16 minggu terakhir, demonstran Hong Kong semakin kuat menyuarakan gerakan pro-demokrasi. Gejolak politik di Hong Kong, menjadi salah satu faktor yang memperkuat keinginan warga untuk pisah dari campur tangan pemerintahan China daratan.

"Selama bertahun-tahun dan terutama beberapa bulan terakhir, masalah dengan pemerintah kami telah menggelembung," tutur MJ Fung (31), seorang demonstran yang diwawancarai Al Jazeera.

Bagi Fung dan sebagian besar demonstran lainnya, dorongan untuk melakukan aksi protes bermula dari RUU ekstradisi, bulan Juni lalu. Undang-undang tersebut memungkinkan setiap warga Hong Kong untuk dikirim ke China daratan dan menjalani hukum pengadilan di sana. Sementara, pengadilan China yang dikuasai Partai Komunis dinilai tidak jelas. Tidak ada kepastian untuk mendapatkan hukuman yang adil.

Serangkaian aksi protes, akhirnya membuahkan keputusan pemerintah untuk mencabut rancangan undang-undang ekstradisi, awal bulan lalu. Namun, keputusan ini dinilai terlambat.

Sejumlah bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi, memicu desakan penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi. Para pengunjuk rasa juga ingin pemerintah memberikan amnesti, bagi mereka yang dijerat hukum hanya karena berpartisipasi dalam aksi demo.

Lepas dari semua itu, tuntutan terpenting yang diinginkan demonstran adalah hak demokrasi bagi Hong Kong. Tidak lagi berada di bawah bayang-bayang pemerintah China.

"Gerakan Payung telah mengajarkan banyak hal kepada mereka, termasuk pentingnya solidaritas dan bagaimana menciptakan semangat masyarakat dengan cara melibatkan banyak pihak berpartisipasi," jelas Profesor Universitas Sains dan Teknologi Dixon Ming Sing.

Joshua Wong, aktivis muda yang paling dikenal dalam Gerakan Payung mengatakan, aksi demo yang saat ini semakin memanas hanya menjadi rangkaian dari protes berlarut-larut di Hong Kong.

Wong sendiri saat ini getol melobi perhatian internasional untuk mendukung perjuangan Hong Kong. Setelah hampir dua bulan ditahan polisi, Wong pergi ke Jerman dan Amerika Serikat demi meminta bantuan parlemen.

"Kita harus memberi tahu dunia tentang ketekunan warga Hong Kong," tandasnya.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [idr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Protes Hong Kong
  3. Hong Kong
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini