Penjelasan Singkat Kudeta Militer di Myanmar

Selasa, 2 Februari 2021 07:39 Reporter : Hari Ariyanti
Penjelasan Singkat Kudeta Militer di Myanmar kudeta militer di myanmar. ©AFP

Merdeka.com - Militer Myanmar kemarin menggulingkan pemerintahan demokratis yang rapuh dalam sebuah kudeta dengan menangkap sejumlah pemimpin sipil, memutus jaringan internet, dan menutup penerbangan.

Kudeta tersebut mengembalikan negara itu ke kekuasaan penuh militer setelah pelaksanaan demokrasi singkat yang dimulai pada 2011, ketika militer, yang telah berkuasa sejak 1962, menggelar pemilu parlemen dan reformasi lainnya.

Merdeka.com merangkum penjelasan singkat kudeta, seperti dikutip dari The New York Times, Senin (1/2).

Penyebab kudeta

Parlemen dijadwalkan pada pekan ini menyelenggarakan sidang pertama sejak pemilu 8 November, di mana Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai yang dipimpin sipil, memenangkan 83 persen kursi yang tersedia di parlemen.

Militer menolak hasil pemilu, yang dinilai sebagai referendum untuk popularitas Aung San Suu Kyi, pimpinan NLD, yang merupakan pemimpin de facto negara tersebut sejak 2015.

Parlemen baru diperkirakan mendukung hasil pemilu dan menyetujui pemerintahan berikutnya.

Aroma kudeta tercium dalam beberapa hari terakhir. Militer, yang mencoba menggugat hasil pemilu ke Mahkamah Agung berpendapat hasil pemilu itu curang, mengancam akan bertindak dan mengerahkan tentara ke parlemen.

Bagaimana kudeta berlangsung?

Pada Senin, militer menangkap para pemimpin NLD termasuk Aung San Suu Kyi dan Presiden U Win Myint, bersama sejumlah menteri kabinet, kepala menteri sejumlah daerah, politikus oposisi, penulis, dan aktivis.

Kudeta secara efektif diumumkan di stasiun televisi yang dikelola militer, Myawaddy TV, di mana pembaca berita mengutip konstitusi 2008 yang memperbolehkan militer mengumumkan darurat nasional. Darurat nasional akan berlangsung selama setahun.

Militer kemudian dengan cepar mengambil alih infrastruktur, menghentikan siaran televisi, dan membatalkan seluruh penerbangan domestik dan internasional, menurut sejumlah laporan.

Akses telepon dan internet diputus sementara di kota-kota utama. Pasar saham dan bank ditutup, dan antrean panjang terlihat di mesin-mesin ATM di berbagai tempat. Di Yangon, bekas ibu kota negara dan kota terbesar di Myanmar, penduduk menyerbut pasar untuk membeli persediaan makanan dan persediaan lainnya.

Baca Selanjutnya: Kebohongan militer...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini