Pemimpin Oposisi dan Mantan Buruh Pabrik Lee Jae-myung Terpilih Jadi Presiden Korea Selatan, Partai Penguasa Akui Kekalahan
Lee pernah menembus barikade militer untuk memberikan suara menolak dekrit darurat militer yang dikeluarkan pendahulunya, Yoon Suk Yeol.
Kandidat dari Partai Demokrat, Lee Jae-myung, berhasil terpilih sebagai presiden Korea Selatan dalam pemilu yang berlangsung pada Selasa (3/6). Pemilu ini dilaksanakan enam bulan setelah Lee menembus barikade militer untuk memberikan suara menolak dekret darurat militer yang dikeluarkan pendahulunya, Yoon Suk Yeol.
Kemenangan Lee diharapkan dapat membawa perubahan signifikan dalam peta politik negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia ini, terutama setelah adanya gelombang penolakan terhadap kebijakan darurat militer yang menyebabkan Yoon, seorang pendatang baru dari kalangan konservatif, terpaksa mundur. Sebelumnya, Yoon mengalahkan Lee dalam pemilu 2022 dengan selisih suara yang sangat tipis.
Tingkat partisipasi pemilih mencapai hampir 80 persen dari total 44,39 juta pemilih yang memenuhi syarat di Korea Selatan, menjadikannya sebagai tingkat partisipasi tertinggi dalam pemilu presiden sejak tahun 1997. Lee menyebut pemilu kali ini sebagai "hari penghakiman" terhadap kebijakan darurat militer yang diterapkan oleh Yoon, serta kegagalan Partai Kekuatan Rakyat (PPP) untuk menjauhkan diri dari keputusan tersebut, seperti dilaporkan Channel News Asia.
Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Nasional, dengan lebih dari 99 persen suara yang telah dihitung, Lee memperoleh 49,3 persen suara, unggul dari kandidat PPP Kim Moon-soo yang hanya meraih 41,3 persen. Dalam pidatonya, Kim mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat kepada Lee atas kemenangan tersebut, serta menyatakan ia menerima keputusan rakyat dengan sikap rendah hati.
Lee telah lama menjadi kandidat favorit untuk meraih kemenangan. Sorakan gembira para pendukungnya terdengar ketika hasil jajak pendapat dari berbagai stasiun TV terkemuka di Korea menunjukkan ia unggul jauh atas Kim. Dalam pidato singkat yang disampaikan kepada para pendukung yang berkumpul di luar gedung parlemen setelah pemungutan suara ditutup, Lee mengungkapkan komitmennya untuk menjalankan tugas sebagai presiden dan berupaya membawa persatuan bagi bangsa.
"Kita bisa mengatasi kesulitan sementara ini dengan kekuatan kolektif rakyat kita, yang memiliki kemampuan luar biasa," ujarnya.
Ia juga menegaskan niatnya untuk menghidupkan kembali perekonomian dan menjalin perdamaian dengan Korea Utara yang bersenjata nuklir melalui dialog dan kekuatan.
Situasi politik yang kacau setelah dekret darurat militer dan enam bulan ketidakstabilan, termasuk tiga presiden sementara serta berbagai persidangan pidana yang menimpa Yoon dan beberapa pejabat tinggi, telah menciptakan kehancuran politik yang mengejutkan bagi mantan presiden tersebut. Hal ini secara efektif mengalihkan jabatan presiden kepada rival terbesarnya. Yoon dimakzulkan oleh parlemen yang dipimpin oleh Lee dan kemudian dicopot dari jabatannya oleh Mahkamah Konstitusi pada April, kurang dari tiga tahun setelah masa jabatannya yang seharusnya berlangsung selama lima tahun. Kejadian ini memicu pemilihan mendadak yang diperkirakan akan mengubah arah kepemimpinan politik serta kebijakan luar negeri negara yang merupakan sekutu utama Amerika Serikat.
Mantan Buruh
Lee Jae-myung bukan berasal dari kalangan elite politik atau keluarga kaya raya. Dikutip BBC, Rabu (4/6), dulu Lee adalah seorang buruh yang harus bekerja keras sejak usia muda untuk membantu perekonomian keluarga. Perjalanan hidup sosok yang kini jadi orang nomor satu di Korsel itu penuh perjuangan dan tak sedikit menginspirasi banyak orang.
Dalam memoarnya yang terbit 2017, Lee menggambarkan masa kecilnya "penuh penderitaan". Ia lahir pada tahun 1963 di sebuah desa pegunungan di Andong, Provinsi Gyeongbuk, anak kelima dari lima putra dan dua putri.
Setelah lulus dari sekolah dasar, Lee harus bekerja di berbagai pabrik di Seongnam, kota dekat Seoul, karena keluarganya tidak mampu membiayai pendidikan menengahnya. Karena kesulitan ekonomi keluarga, ia terpaksa putus sekolah menengah pertama dan bekerja secara ilegal.
Sebagai pekerja muda di pabrik sarung tangan bisbol, Lee mengalami kecelakaan industri ketika jarinya tersangkut di sabuk mesin pabrik. Pada usia 13 tahun, tangannya mengalami cedera permanen setelah pergelangannya hancur oleh mesin press.
Lee mengatakan juga mengalami pemukulan di pabriknya, dan benci bertemu dengan seorang gadis yang merupakan tetangganya saat ia membantu ayahnya yang seorang pemulung di pasar tradisional.
Putus asa, Lee sempat mencoba bunuh diri dua kali, namun gagal. Ia kemudian bangkit dan mendaftar SMA lalu universitas, lulus masing-masing pada tahun 1978 dan 1980. Ia melanjutkan studi hukum di Universitas Chung-Ang Seoul dengan beasiswa penuh dan lulus Ujian Pengacara pada tahun 1986. Ia kemudian menjadi pengacara hak asasi manusia.
Lee bekerja sebagai pengacara HAM selama hampir dua dekade sebelum memasuki dunia politik pada 2005 dengan bergabung ke Partai Uri yang sosial-liberal, pendahulu Partai Demokrat Korea yang saat itu berkuasa. Ia terpilih sebagai wali kota Seongnam pada 2010, menerapkan serangkaian kebijakan kesejahteraan gratis selama masa jabatannya, dan pada 2018 menjadi gubernur Provinsi Gyeonggi.