Pangeran Muhammad bin Salman, Penangkapan Keluarga Kerajaan & Kursi Kekuasaan
Merdeka.com - Pangeran Arab Saudi Muhammad bin Salman kembali menangkap sejumlah anggota keluarga kerajaan karena berbagai tuduhan. Tindakan ini dilakukan sejak sang ayah, Raja Salman bin Abdul Aziz melakukan perombakan kabinet dalam pemerintahannya dan memberi lebih banyak kekuasaan kepada putra kesayangannya itu.
Salah satu alasan penangkapan anggota kerajaan tersebut terkait dengan upaya perencanaan kudeta. Namun sejumlah pengamat menilai tindakan penangkapan ini sebagai upaya untuk memperkuat dan menyingkirkan ancaman kekuasaan terhadap Pangeran Muhammad bin Salman:
Aksi Bersih-Bersih Pangeran Saudi
Pada 2017 lalu, Raja Salman membentuk Komite Anti-Korupsi yang diketuai Pangeran Muhammad bin Salman. Aksi bersih-bersih ala Pangeran Muhammad bin Salman menangkap dan menahan 11 pangeran, empat menteri, 10 mantan pejabat, dan sejumlah pengusaha atas dugaan sederet perkara.
Sejumlah tokoh penting Saudi itu dilaporkan terlibat dalam kasus penyogokan, penggelapan, pencucian uang, hingga penyalahgunaan wewenang. Mereka ditahan di Hotel Ritz Carlton di Riyadh.
Agar para tahanan bisa bebas, diharuskan membuat kesepakatan penyelesaian dengan membayar USD 1 miliar. Salah satunya Pangeran Miteb adalah putra Almarhum Raja Abdullah, yang memimpin Garda Nasional yang berkuasa sampai 2017. Dia dibebaskan pada Selasa (28/11/2017).
"Setidaknya tiga tersangka korupsi lainnya juga telah menyelesaikan kesepakatan penyelesaian," kata pejabat tersebut.
Penangkapan AlWaleed karena Tuduhan Korupsi
Aksi bersih-bersih yang dilakukan Pangeran Muhammad bin Salman turut menangkap Pangeran Alwaleed bin Talal. Diduga penangkapan Alwaleed dilakukan karena dia melakukan korupsi. Pangeran AlWaleed juga sempat berada di rumah tahanan Hotel Ritz Carlton di Riyadh.
Selama hampir tiga bulan AlWaleed ditahan, akhirnya dibebaskan pada 27 Januari 2018. Dia ditahan di penjara mewah Ritz-Carlton di Ryadh. AlWaleed dibebaskan setelah mencapai kesepakatan keuangan dengan jaksa agung.
Menurut kabar yang beredar, demi bisa bebas AlWaleed harus membayar USD 6 miliar. Menurut laporan Wall Street Journal, AlWaleed masuk dalam deretan tahanan yang diminta uang tebusan dengan nominal paling tinggi.
Penangkapan karena Tuduhan Perencanaan Kudeta
Pihak berwenang Arab Saudi menangkap tiga pangeran termasuk saudara dan keponakan Raja Salman atas tuduhan merencanakan kudeta. Demikian dilaporkan media Amerika Serikat (AS) pada Jumat, mengisyaratkan konsolidasi kekuasaan lebih jauh oleh pemimpin de facto kerajaan.
Pangeran Ahmed bin Abdulaziz Al-Saud, saudara Raja Salman, dan keponakan raja, Pangeran Mohammed bin Nayef dituding atas pengkhianatan dan ditangkap di rumahnya pada Jumat pagi oleh pengawal kerajaan berseragam hitam. Demikian dilaporkan Wall Street Journal, mengutip sumber-sumber yang tak disebut namanya.
Pengadilan kerajaan Arab Saudi menuduh dua pangeran itu, yang pernah menjadi calon potensial pengganti Raja Salman merencanakan kudeta untuk menggulingkan raja dan putra mahkota. Keduanya terancam hukuman penjara seumur hidup atau eksekusi mati.
The New York Times juga melaporkan penangkapan tersebut, menambahkan bahwa adik paling kecil Pangeran Nayef, Nawaf bin Nayef juga ditangkap.
Penangkapan Disebut Upaya Memperkuat Kekuasaan
Banyak yang menduga bahwa penangkapan yang dilakukan Pangeran Muhammad bin Salman adalah upaya untuk memperkuat kekuasaannya sebagai pemimpin Arab Saudi. Banyak ahli menilai, yang sebenarnya terjadi adalah putra mahkota sekaligus pewaris takhta Saudi sengaja memenjarakan saingan potensialnya untuk memperkuat kekuasaan.
"Tuduhan korupsi bisa dialamatkan kepada siapa pun yang ada di ruang lingkup pemerintahan ataupun bisnis," kata Colin Kahl, profesor di Universitas Georgetown yang menjabat sebagai asisten deputi menteri pertahanan untuk Timur Tengah dalam pemerintahan Obama, dikutip dari Vox, Selasa (7/11/2017).
"Tetapi ini sepertinya langkah akhir yang dikonsolidasikan otoritas di bawah kekuasaan Pangeran Muhammad untuk menyingkirkan orang yang mungkin menjadi penantang politiknya," lanjutnya.
Sementara itu, seorang profesor ilmu politik di Universitas Duke, Abdeslam Maghraoui, menilai tindakan keras yang dilakukan akhir pekan ini bukan hanya tentang perselisihan keluarga, namun juga sebuah aksi signifikan untuk melawan kebijakan politik Arab Saudi di masa depan.
"Penangkapan tokoh-tokoh terkemuka yang dekat dengan keluarga kerajaan ini sangat tidak biasa dan merupakan masalah besar. Ini bukanlah langkah yang pernah diambil oleh pemerintahan Saudi sebelumnya dan terkesan tergesa-gesa," papar Maghraoui.
Penangkapan Anggota Kerajaan Sebagai Upaya Menyingkirkan Ancaman Kekuasaan
Tak hanya soal penangkapan dalam kasus korupsi, penangkapan yang dilakukan Pangeran Muhammad karena dugaan perencanaan upaya kudeta juga dilakukan demi menyingkirkan ancaman terhadap kekuasaannya.
"Pangeran Muhammad berani-dia menyingkirkan segala ancaman terhadap kekuasaannya dan memenjarakan atau membunuh kritik terhadap rezimnya tanpa dampak apa pun," kata Becca Wasser, seorang analis kebijakan di RAND Corporation yang berbasis di AS.
"Ini adalah langkah lebih lanjut untuk menopang kekuatannya dan pesan kepada siapa pun-termasuk kalangan kerajaan-untuk tidak menghalanginya".
Pangeran Muhammad telah menyingkirkan Pangeran Nayef, mantan pangeran mahkota dan menteri dalam negeri, pada 2017 untuk menjadi pewaris takhta paling kuat di kerajaan.
Pada saat itu, saluran televisi Saudi menunjukkan Pangeran Muhammad mencium tangan pangeran yang lebih tua dan berlutut di hadapannya untuk menunjukkan rasa hormat.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya