Orang Singapura lebih suka jadi pengemis ketimbang bekerja
Merdeka.com - Sejumlah warga negara Singapura rupanya lebih suka menjadi pengemis jalanan ketimbang jadi pekerja. Mereka beralasan lebih mudah mendapat uang dengan cara mengemis daripada bekerja.
Menurut juru bicara Kementerian Sosial dan Pembangunan Keluarga (MSF), para pengemis itu bisa mendapat Rp 1,3 juta hingga Rp 2,6 juta hanya dalam beberapa jam, seperti dilansir situs Asia One, Ahad (2/8).
"Sebagian pengemis itu berusia sekitar 40-an tahun. Badan mereka sehat dan bisa bekerja, tapi mereka tidak mau," kata juru bicara itu. "Mereka juga ada yang berpura-pura jadi orang tunadaksa atau memakai perban di kaki atau kepala."
Sejumlah warga Singapura menjadi pengemis karena mereka memang tak punya uang dan diusir dari keluarganya.
Sebagaimana di Indonesia, pada bulan Ramadan yang baru lalu pengemis juga membanjiri jalanan di Singapura. Pengemis asing kebanyakan berasal dari Malaysia dan Indonesia, tapi ada juga yang terbang jauh-jauh dari India, Bangladesh, dan Pakistan.
MSF mengatakan mereka menerima laporan makin banyaknya pengemis di musim Ramadan, Tahun Baru Imlek, dan Natal. Mereka kerap ditemui di luar masjid, kuil, pusat perbelanjaan, dan kawasan ramai lainnya.
"Mereka jalan-jalan dan meminta uang kepada orang lewat. Mereka tidak lagi cuma duduk-duduk. Mereka juga tidak berpakaian kumal. Kita tidak akan menduga mereka pengemis."
Tahun lalu MSF menemukan ada 71 pengemis, meningkat dari 53 pada 2013 dan 61 pada 2012. Paling banyak pada 2010 yakni ada 133 pengemis. (mdk/pan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya