Muhammadiyah Siap Tuntut The Wall Street Journal karena Berita soal Muslim Uighur

Selasa, 17 Desember 2019 18:07 Reporter : Merdeka
Muhammadiyah Siap Tuntut The Wall Street Journal karena Berita soal Muslim Uighur Muhammadiyah bertemu Dubes China untuk Indonesia. ©2018 Merdeka.com/Yunita Amalia

Merdeka.com - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menuntut media dan reporter harian asal Amerika Serikat the Wall Street Journal (WSJ) atas tulisannya tentang Uighur. Apabila tidak ada iktikad baik untuk klarifikasi, maka the Wall Street Journal berpotensi dibawa ke pengadilan.

Dalam artikel berjudul How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps, ormas Islam seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah dianggap berhasil dibungkam oleh pemerintah China setelah diajak berkunjung ke Xinjiang.

"Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendesak agar Wall Street Journal meralat berita tersebut dan meminta maaf kepada warga Muhammadiyah. Apabila hal tersebut tidak dipenuhi, Muhammadiyah akan mengambil langkah hukum sebagaimana mestinya," jelas Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti pada konferensi pers di Jakarta, Senin (16/12).

Artikel di WSJ menyebut pejabat senior Muhammadiyah berubah sikapnya setelah ikut melawat ke Xinjiang pada Februari lalu. WSJ mengutip pernyataan pejabat Muhammadiyah yang berkata kamp Xinjiang memiliki kondisi "excellent" dan bukan penjara. WSJ tak menyebut siapa pejabat itu.

1 dari 3 halaman

Tidak Ada yang Berjilbab di Xinjiang

Salah satu tokoh yang ikut ke Xinjiang adalah Muhyiddin Junaidi, Ketua Biro Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah. Dia berkata melihat banyak hal mencurigakan saat ikut ke mengecek kondisi Uighur seperti tulisan penunjuk kiblat di hotel yang tampaknya baru saja dipasang dan delegasi yang datang juga diawasi ketat.

"Di jalanan (Xinjiang) tidak ada orang menggunakan jilbab. Tidak ada, karena itu namanya radikal tidak boleh," ujar Muhyiddin Junaidi.

"Kami jarang menemukan ada restoran itu halal. Tidak ada. Karena Halal itu bahasa agama. Agama tak boleh berada di ruang umum," lanjutnya.

Muhyiddin menyebut konstitusi China memang dasarnya anti setiap agama. Kamp Xinjiang pun dianggap bukan deradikalisasi, melainkan de-agamisasi.

Muhammadiyah juga membantah sikapnya berubah terkait Uighur. Selama ini mereka mengaku tak ingin membuat pro dan kontra terkait kasus ini sehingga memilih menyampaikan dahulu ke pemerintah lewat Kementerian Luar Negeri.

2 dari 3 halaman

Minta Klarifikasi

Sementara, Bendahara Umum PP Muhammadiyah Suyatno berkata akan menunggu iktikad baik dari Wall Street Journal. Bila tidak, pihaknya siap mengambil langkah hukum ke Wall Street Journal dan Amerika Serikat.

"Nanti setelah dia enggak ada respons, kita akan tunggu dulu, kita minta tuntut salah satunya kepada Journal dan pemerintah Amerika," ujarnya.

Meski siap melaporkan Wall Street Journal, Muhammadiyah menegaskan tak akan langsung membawa kasus ini ke meja hukum. Muhyiddin masih berprasangka baik bahwa niat reporter WSJ itu positif, yakni mengekspos HAM Uighur.

"Kami minta klarifikasi dari wartawan tersebut dari mana sumbernya agar beliau menjelaskan, karena tanpa memberikan sumbernya itu namanya provokasi dan tuduhan. Jangan-jangan dengan adanya berita itu maka kita mengadakan preskon, masalah Uighur terangkat kembali," jelasnya.

3 dari 3 halaman

Sudah Melapor kepada Pemerintah soal Kejanggalan di Xinjiang

Laporan di Wall Street Journal menyebut diplomat-diplomat AS sempat turun tangan untuk bertemu para ulama Indonesia. Tujuannya untuk meyakinkan terkait pelanggaran HAM di Uighur.

Ketika ditanya apakah sudah ada diplomat AS yang bertemu Muhammadiyah, Muhyiddin berkata Kedutaan Besar AS sudah mengundang Muhammadiyah untuk membahas Uighur, namun belum dapat dipenuhi atas dasar netralitas.

"Kami belum tahu. Belum ada. Kami memang diundang. saya ketua delegasi atas nama MUI diundang kedutaan ebsar AS membahas masalah Ughur. Tapi kantornya di kantor kedutaan saya tolak. Saya minta di ruang terbuka dan netral," ujarnya.

Sebagai catatan, Oktober lalu Duta Besar AS untuk Republik Indonesia Joseph Donovan sempat berkunjung ke kantor Muhammadiyah untuk membahas Uighur.

"Kami membahas sejumlah isu internasional. Dan saya mendorong Muhammadiyah untuk tetap menyuarakan keprihatinan guna melawan opresi dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Uighur minoritas di China," jelas Donovan selepas lawatan ke Kantor PP Muhammadiyah.

Lebih lanjut, Muhyiddin juga menegaskan sudah melaporkan kepada pemerintah terkait kejanggalan di kamp Xinjiang tempat "pendidikan" warga Uighur. Laporan dibuat sepulangnya delegasi kembali dari China.

Pihaknya pun tak paham mengapa Kemenlu belum mengambil tindakan. Meski demikian, dia menyebut sikap Muhammadiyah konsisten mengecam pelanggaran HAM di Uighur.

"Saya enggak tahu (kenapa tak ada tindak lanjut). Tanyalah Bu Menlu, tanya pemerintah. Kami dari ormas, dari NGO, sama tidak berubah," tegasnya.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com [pan]

Baca juga:
Kesal Dikritik soal Muslim Uighur, China Undang Mesut Ozil ke Xinjiang
Soal Uighur, Anggota DPR Ingatkan Pemerintah Hati-hati Bersikap
Kecaman China Saat Mesut Ozil Bela Muslim Uighur
Bocoran-bocoran Dokumen Rahasia Negara yang Menggemparkan Dunia Internasional
Lawan Kritik Penindasan Muslim, China Rilis Dokumenter Penyerangan Milisi Separatis
Peringati Hari HAM Sedunia, AS Singgung Penindasan China Terhadap Muslim Xinjiang

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini