Militer Israel Sebut 'Kesalahan Teknis' Serangan Udara Sebabkan 8 Anak Tewas di Gaza Saat Mengambil Air

Militer menyatakan bahwa serangan tersebut mengenai target yang tidak tepat.

Teddy Tri Setio Berty
Oleh Teddy Tri Setio Berty - Reporter
Militer Israel Sebut 'Kesalahan Teknis' Serangan Udara Sebabkan 8 Anak Tewas di Gaza Saat Mengambil Air
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 549 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.000 orang terluka akibat penembakan tentara Israel di dekat pusat bantuan dan lokasi truk makanan Per (© 2025 Liputan6.com)

Tragedi kembali melanda Gaza. Pada Minggu (13/7/2025), setidaknya delapan warga Palestina, sebagian besar adalah anak-anak, kehilangan nyawa dan belasan lainnya mengalami luka-luka di Gaza tengah saat mereka sedang mengambil air.

Menurut militer Israel, serangan udara yang terjadi merupakan kesalahan sasaran yang disebabkan oleh kerusakan teknis. Mereka menjelaskan bahwa rudal yang diluncurkan seharusnya diarahkan kepada seorang militan Jihad Islam, tetapi mengalami malfungsi dan jatuh "puluhan meter dari target".

"IDF (militer Israel) menyesalkan jatuhnya korban sipil yang tidak bersalah," demikian pernyataan resmi mereka, dan menambahkan bahwa insiden ini sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut, seperti yang dikutip dari laman Japan Today pada Senin (14/7).

Serangan tersebut menghantam lokasi distribusi air di kamp pengungsi Nuseirat. Menurut dr. Ahmed Abu Saifan dari Rumah Sakit Al-Awda, enam anak termasuk di antara delapan orang yang tewas, sementara sekitar 17 orang lainnya mengalami cedera. Krisis air di Gaza semakin memburuk dalam beberapa pekan terakhir, dengan kekurangan bahan bakar yang memaksa fasilitas desalinasi dan sanitasi untuk tutup.

gaza
gaza Reuters

Akibatnya, warga kini bergantung pada pusat pengumpulan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Belum lama ini, serangan Israel yang terjadi di sebuah pasar di Kota Gaza juga menewaskan sedikitnya 12 orang, termasuk seorang dokter terkenal, Ahmad Qandil. Hingga saat ini, militer Israel belum memberikan tanggapan terkait insiden tersebut.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa jumlah total korban tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023 telah melebihi 58.000 jiwa, dengan lebih dari separuhnya adalah perempuan dan anak-anak. Dalam 24 jam terakhir, sebanyak 139 orang dilaporkan meninggal dunia.

Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, utusan Timur Tengah dari Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, menyatakan pada Minggu bahwa ia "berharap" negosiasi gencatan senjata yang tengah berlangsung di Qatar akan membuahkan hasil. Witkoff berencana untuk bertemu dengan pejabat senior Qatar di sela-sela final Piala Dunia Antarklub FIFA. Namun, harapan tersebut tampaknya mulai memudar, sebab perundingan tidak langsung di Doha yang membahas proposal gencatan senjata selama 60 hari terhambat oleh perbedaan yang signifikan, terutama terkait sejauh mana Israel akan menarik pasukannya. Kedua pihak justru saling menuduh keras kepala.

Netanyahu menyatakan bahwa Israel tidak akan mundur

Serangan Rudal Israel Tewaskan 8 Anak Gaza yang Sedang Mengambil Air
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 549 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.000 orang terluka akibat penembakan tentara Israel di dekat pusat bantuan dan lokasi truk makanan Per © 2025 Liputan6.com

Pada malam Minggu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan untuk memimpin rapat kabinet yang bertujuan membahas perkembangan terkini dalam perundingan. Dalam sebuah video yang diunggah ke Telegram, Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan mengubah tuntutan utama mereka: membebaskan semua sandera, menghancurkan Hamas, dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman.

Konflik ini dimulai pada 7 Oktober 2023 ketika Hamas dan kelompok militan lainnya menyerang Israel, mengakibatkan sekitar 1.200 orang tewas dan 251 orang disandera ke Gaza. Dari jumlah sandera tersebut, diperkirakan hanya 20 orang yang masih hidup dari sekitar 50 sandera yang masih ditahan. Keluarga para sandera mendesak pemerintah Israel untuk segera mencapai kesepakatan.

"Mayoritas rakyat Israel sudah bersuara dengan lantang. Kami ingin ada kesepakatan, meski itu berarti mengakhiri perang ini sekarang juga," kata Jon Polin, ayah dari Hersh Goldberg-Polin yang disandera oleh Hamas dan dibunuh pada Agustus 2024.

Dalam rapat kabinet, Netanyahu juga akan membahas rencana untuk memindahkan ratusan ribu warga Gaza ke Rafah di bagian selatan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut rencana tersebut sebagai "kota kemanusiaan" yang akan dibangun. Namun, wacana ini diperkirakan akan memicu kecaman internasional karena dianggap sebagai pemindahan paksa.

Sebuah sumber di Israel menyatakan bahwa kompleks pengungsian di Rafah akan dibangun jika gencatan senjata tercapai. Namun, Hamas menolak peta penarikan pasukan yang diajukan oleh Israel karena tetap meninggalkan sekitar 40% wilayah Gaza, termasuk Rafah, di bawah kendali Israel. Serangan yang terus menerus telah menggusur hampir seluruh populasi Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta orang.

Warga Gaza menegaskan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman. Pada Minggu dini hari, sebuah rudal menghantam rumah di Kota Gaza yang sebelumnya digunakan sebagai tempat berlindung setelah keluarga itu diperintahkan untuk meninggalkan rumah asal mereka di selatan. "Bibi saya, suaminya, dan anak-anaknya semua tewas. Apa dosa anak-anak ini hingga menjadi korban dalam pembantaian berdarah saat fajar?" ujar Anas Matar, sambil berdiri di antara puing-puing bangunan yang rata dengan tanah.

Rekomendasi