Mengungkap Novel Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdie Masih Kontroversial Hingga Kini

Sabtu, 13 Agustus 2022 16:46 Reporter : Pandasurya Wijaya
Mengungkap Novel Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdie Masih Kontroversial Hingga Kini buku the satanic verses. ©abebooks

Merdeka.com - Salah satu buku paling kontroversial dalam sejarah sastra dunia adalah novel Ayah-Ayat Setan (The Satanic Verses) karya Salman Rushdie. Novel yang diterbitkan tiga dasawarsa lalu itu hampir pasti memicu kemarahan sebagian warga muslim di seluruh dunia.

Hari ini Salman Rushdie ditikam seorang pria di New York ketika dia hendak jadi pembicara di sebuah acara. Rushdie hingga kini masih dalam perawatan di rumah sakit akibat luka parah.

Setahun setelah terbit, pada 1989 Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran kala itu Ayatullah Khomeini mengeluarkan fatwa yang menyerukan orang Islam membunuh penulis kelahiran India itu.

Pria 75 tahun yang berasal dari keluarga muslim itu kemudian tinggal di Inggris dan menjadi warga negara di sana. Dia lalu menjadi ateis, meninggalkan iman Islamnya.

Kontroversi

Myriam Renaud, kandidat PhD bidang Etika dan Iman Keagamaan di Universitas Chicago menulis di laman the Independent, novel Ayat-Ayat Setan memang isinya menantang keimanan muslim dengan sejumlah bagian yang tampaknya ditulis untuk mengolok-olok sejumlah tokoh Islam.

Umat Islam meyakini Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril. Wahyu atau firman Allah itulah yang dituangkan dalam bentuk kitab suci Alquran. Nabi kemudian menyampaikan wahyu itu kepada para pengikutnya. Firman Allah itu lalu ditulis dan menjadi ayat serta surat dari Alquran.

Novel Rushdie itu menyerang inti dari keimanan muslim. Salah satu karakter dalam novel itu, Gibreel Farishta, mengalami serangkaian mimpi yang di dalam mimpinya dia menjadi malaikat Jibril. Dalam mimpinya itu, Jibril bertemu dengan karakter utama novel itu seperti kejadian Nabi Muhammad bertemu malaikat Jibril yang diyakini umat Islam.

Rushdie memilih nama karakter yang provokatif bagi Muhammad. Di novel ini sang nabi diberi nama Mahound, nama sebutan lain bagi Muhammad di masa Abad Pertengahan oleh kaum Nasrani.

Mahound diceritakan memasukkan kata-katanya sendiri ke mulut Jibril dan menyampaikan wahyu itu kepada para pengikutnya. Namun dalam buku itu, juru tulis Mahound yang bernama Salman menolak keaslian wahyu yang disampaikan Mahound.

Dalam bukunya itu, Rushdie tampaknya meragukan keaslian Alquran.

2 dari 2 halaman

Menantang teks agama

Sejak terbitnya Ayat-Ayat Setan, Rushdie berpendapat teks-teks agama harusnya terbuka untuk dikritisi.

"Mengapa kita tidak boleh memperdebatkan Islam? kata Rushdie dalam sebuah wawancara pada 2015.

"Kita bisa menghormati individu, melindungi mereka dari intoleransi, tapi sekaligus meragukan keyakinan mereka, bahkan mengkritisi pandangan mereka."

Pandangan ini, tentu bertentangan dengan mereka yang meyakini Alquran adalah firman Tuhan.

Setelah kematian Khomeini, pemerintah Iran pada 1998 mengumumkan tidak akan mempertahankan fatwa pembunuhan Rushdie atau menyerukan orang lain untuk melakukan itu. Rushdie saat ini tinggal di Amerika Serikat dan kerap muncul di depan publik.

Kini, 30 tahun kemudian, ancaman pembunuhan masih menghantui Rushdie. Meski demo-demo sudah berhenti tapi isi dari novel Ayat-Ayat Setan masih cukup panas untuk diperdebatkan. [pan]

Baca juga:
Penulis Novel Ayat-Ayat Setan Salman Rushdie Ditikam di New York
Usai Ditikam, Salman Rushdie Dipasangi Ventilator dan Bisa Kehilangan Satu Matanya
Detik-Detik Penulis Novel Ayat-Ayat Setan Salman Rushdie Ditikam di New York
Salman Rushdie, Penulis yang Difatwa untuk Dibunuh dan Nyawanya Berharga Rp 43 Miliar
Bersimpati pada Ekstremisme, Ini Sosok Pria yang Menikam Penulis Salman Rushdie

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini