Seorang dokter bedah asal Amerika Serikat, Dr. Feroze Sidhwa, mengungkapkan kesaksian mengerikan atas apa yang dilihatnya selama bertugas di Jalur Gaza, Palestina. Sidhwa, seorang dokter bedah trauma dan perawatan kritis, berdiri di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan pesan yang sangat menyakitkan untuk diabaikan.
“Saya di sini untuk menjadi saksi penghancuran sistem perawatan kesehatan Gaza yang disengaja,” jelasnya, dikutip dari Quds News Network, Jumat (30/5).
“Sampai penargetan rekan-rekan saya. Hingga pemusnahan suatu bangsa.”
Dr. Sidhwa menjadi relawan dua kali di Gaza selama genosida Israel. Ia bekerja di Rumah Sakit Eropa dan Kompleks Medis Nasser. Sidhwa mengungkapkan, apa yang ia lihat di Gaza akan menghantuinya selamanya.
“Anak-anak tidak meninggal karena luka-luka mereka tidak dapat disembuhkan. Mereka meninggal karena kami tidak punya (kantong) darah, tidak ada antibiotik, bahkan persediaan paling dasar yang bisa Anda temukan di rumah sakit besar mana pun di dunia,” jelasnya.
Selama lima minggu, tidak seorang pun dari pasien yang dia tangani adalah pejuang Palestina.
“Pasien saya adalah anak-anak berusia enam tahun dengan pecahan peluru di jantung dan peluru di otak mereka,” katanya.
“Wanita hamil yang panggulnya hancur. Janin terpotong jadi dua saat masih dalam kandungan.”
Advertisement
Sistem Kesehatan Sengaja Dihancurkan
Ia mengatakan sistem kesehatan Gaza sengaja dihancurkan secara sistematis melalui kampanye militer berkelanjutan yang melanggar hukum humaniter internasional.
Selama dua kali bertugas di Gaza, ia melihat perubahan nyata dalam kesehatan masyarakat. Kelaparan dan kekurangan gizi semakin parah. Malnutrisi terlihat jelas pada kesehatan anak-anak.
Dia menyampaikan, tentara Israel melanggar gencatan senjata pada 18 Maret dan pada pagi yang sama, ia menyaksikan peristiwa korban massal terburuk dalam kariernya.
“Kompleks Medis Nasser menerima 221 pasien trauma dalam beberapa jam, 90 meninggal saat tiba. Hampir setengahnya adalah anak-anak yang terluka parah,” jelasnya.
“Tidak ada sistem kesehatan di bumi yang dapat mengatasi hal ini.”
Sebagian besar pasiennya berusia di bawah 12 tahun.
“Tubuh mereka hancur oleh bahan peledak. Tercabik-cabik oleh logam yang beterbangan. Banyak yang meninggal. Mereka yang selamat pergi dan mendapati seluruh keluarga mereka telah tiada.”
Advertisement
Dampak Psikologis
Dr. Sidhwa sebelumnya menerbitkan sebuah laporan di The New York Times. Laporan tersebut mensurvei 65 pekerja kesehatan Amerika yang bertugas di Gaza.
“83 persen dari mereka mengatakan mereka melihat anak-anak tertembak di kepala atau dada,” katanya.
“Saya pribadi menangani 13 kasus seperti itu di Rumah Sakit Eropa hanya dalam waktu dua minggu.”
“Orang tua menghafal pakaian anak-anak mereka untuk mengidentifikasi jenazah.”
Mengungkap dampak psikologis genosida, ia menambahkan hampir setengah dari anak-anak Gaza sekarang memiliki kecenderungan bunuh diri, dan bertanya, “Mengapa saya tidak mati bersama keluarga saya?”
Dr. Sidhwa memohon kepada Dewan Keamanan PBB untuk menegakkan tujuh langkah, termasuk embargo senjata, dan menyebut kelambanan mereka sebagai “bukti dari runtuhnya hati nurani” karena dokter-dokter terakhir di Gaza dan satu generasi warga Palestina menghadapi operasi pemusnahan.
“Anda tidak dapat mengaku tidak tahu,” simpulnya, “ketika anak-anak tidak lagi ingin hidup.”