Ini Cerita di Balik Tagar #BlueforSudan Mendadak Mendunia

Jumat, 14 Juni 2019 16:12 Reporter : Tim Merdeka
Ini Cerita di Balik Tagar #BlueforSudan Mendadak Mendunia Suka Cita Rakyat Sudan Rayakan Lengsernya Presiden Umar al-Bashir. ©REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Tanda pagar (tagar) #BlueforSudan populer beberapa hari terakhir. Mendadak banyak pengguna media sosial mengubah gambar profil mereka menjadi biru.

Bukan sekadar tren, tagar #BlueforSudan dan ramai-ramai mengunggah warna biru adalah bentuk solidaritas warganet global kepada para pengunjuk rasa di Sudan. Belasan di antaranya tewas di ibu kota Khartoum.

Dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (14/6), gelombang biru semakin viral di berbagai platform, di mana banyak pengguna Twitter dan Instagram bersama-sama mengenang salah satu korban, Mohamed Mattar, yang warna favoritnya dikabarkan adalah biru.

Insinyur berusia 26 tahun itu ditembak secara brutal hingga tewas dalam bentrok pada 3 Juni lalu, yang disalahkan pada simpatisan unit Rapid Support Forces (RSF), sebuah kelompok paramiliter pimpinan anggota senior Dewan Militer Transisi yang berkuasa di Sudan.

Mattar dilaporkan ditembak ketika berusaha melindungi dua wanita selama pembubaran kamp protes di luar markas militer Sudan.

"Setelah dia dibunuh, teman-teman dan keluarganya mengubah gambar profil mereka sebagai penghormatan, dan akhirnya orang lain mulai mengikuti," kata Shahd Khidir, salah satu teman Mattar.

Khidir yang juga merupakan seorang influencer kecantikan di Instagram, meminta para pengikutnya (followers) untuk mengubah foto profil merek menjadi biru, seperti yang dipasang oleh Mattar di akun Instagram-nya.

"Sekarang (warna biru) mewakili semua orang Sudan yang menjadi korban dalam pemberontakan," jelas Khidir.

Aksi protes yang dimulai pada 6 April lalu itu mencapai puncaknya pada awal Juni, ketika massa yang memilih bertahan dipukul mundur secara paksa oleh pihak keamanan Sudan.

Internet Diblokir

Alasan massa tetap bertahan adalah seruan untuk segera membentuk pemerintahan sipil, setelah sebelumnya rezim penguasa lama Sudan, Omar al-Bashir, berhasil dilengserkan pada 11 April oleh kudeta militer.
Sejak itu, penguasa militer Sudan telah mengurangi akses internet hingga benar-benar diblokir total pada 10 Juni.

Internet, khususnya media sosial, digunakan oleh para pemrotes dan jurnalis warga untuk mengorganisir demonstrasi, dan juga untuk berbagi berita ke seluruh dunia tentang informasi terbaru dari pemberontakan.
Pemblokiran itu menjadi tantangan besar bagi diaspora Sudan, yang memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi dari gerakan protes setempat.

Mereka yang berada di luar Sudan terpaksa mengandalkan panggilan telepon, atau dari mulut ke mulut, untuk menerima informasi dari negara yang tengah berkonflik itu, untuk kemudian mereka bagikan di media sosial.

"Sudan benar-benar dalam kegelapan sekarang," kata Aza Elnimah (25), seorang profesional muda Sudan yang berbasis di Qatar.

"Kami tidak tahu apa yang terjadi. Satu-satunya cara kami dapat menjangkau keluarga di Sudan sekarang adalah melalui telepon, tetapi itu masih belum cukup," ujar Aza prihatin.

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo

Sumber: Liputan6.com [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Sudan
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini