Erdogan Ibaratkan Kenaikan Harga Bahan Makanan Sama dengan Serangan Teroris
Merdeka.com - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengibaratkan kenaikan harga bahan makanan sama dengan serangan teroris. Kenaikan harga bahan makanan ini menurutnya dilakukan oleh kekuataan yang tak terjamah, yang sedang berperan dalam sebuah permainan di Turki.
Ini disampaikan Erdogan saat berkampanye pada Senin (11/2) lalu. Dalam kesempatan itu Erdogan juga membandingkan upaya menurunkan harga bahan makanan dengan perjuangan 34 tahun melawan separatis Kurdi di tenggara negara itu. Demikian dilansir dari Al Jazeera, Kamis (14/2).
Pemerintah lokal di Istanbul dan Ankara mulai menjual sayur-sayuran dengan harga murah pekan ini ketika Turki tengah berupaya menurunkan tekanan inflasi. Pemeritah lokal di dua kota terbesar di Turki itu menawarkan makanan pokok Turki setengah harga dari toko-toko dan pasar.
Pembukaan 50 poin penjualan di Istanbul dan 15 di Ankara pada hari Senin terjadi setelah angka inflasi Januari menunjukkan harga makanan dan minuman non-alkohol naik 31 persen. Ini dilakukan sebelum Pemilu lokal pada tanggal 31 Maret mendatang. Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dimana Erdogan bernaung ingin tetap memegang kendali di Istanbul dan Ankara di tengah kemerosotan ekonomi yang terus menghantam.
Dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat menyalahkan para distributor dan pengecer atas mahalnya harga bahan pangan seperti tomat, terong, kentang, dan bawang merah. Mereka disalahkan karena dinilai hanya mengejar untung.
Salahkan Pihak Asing
Sebelumnya, Erdogan dan pejabat Turki menyalahkan pihak asing atas kondisi ekonomi di negaranya.Pemerintah Turki juga telah melakukan gelombang inspeksi di toko-toko, pasar dan kios makanan untuk memerangi spekulan. Pekan lalu, Kementerian Perdagangan Turki mengatakan 88 perusahaan didenda total 2 juta lira (USD 380.000) karena membebankan harga terlalu tinggi.
"Pemerintah merasa kenaikan harga pangan baru-baru ini bukan karena faktor pasar saja, tetapi dipicu aktor asing atau lainnya," kata peneliti dari Istanbul Economics Research, Can Selcuki.
"Saya percaya alasan sebenarnya di balik kenaikan itu adalah masalah struktural di sektor pertanian kita. Apakah orang-orang mereka mencoba menggunakan ini untuk keuntungan mereka dan menghasilkan uang? Tentu saja, tetapi skalanya kecil," lanjutnya.
Ada juga yang berpendapat melonjaknya harga pangan di Turki dipicu kenaikan upah tenaga kerja dan transportasi, serta banjir yang baru-baru ini melanda kawasan pertanian di Antalya, di pantai selatan Turki.
Pada titik distribusi di Sihhiye, Ankara tengah, pembeli mengantri di depan tenda kota pada hari Senin, di mana mereka dibatasi membeli hanya beberapa kilo untuk setiap produk.
"Saya tidak tahu apakah ini terorisme pangan tetapi harga di pasar terlalu mahal untuk saya akhir-akhir ini," kata salah seorang warga, Handan Kececi (49). "Tak baik mengantri terlalu lama tapi apa yang bisa saya lakukan? Setidaknya pemerintah membantu kami dengan (menurunkan) harga yang mahal ini," lanjutnya.
Pensiunan pegawai negeri yang menolak dicantumkan namanya mengatakan telah mengantre lebih dari sejam hanya untuk membeli tomat dan bawang. "Saya tak mau mengantre seperti ini setiap hari tapi sepertinya ada hal yang baik," ujarnya.
"Apakah kondisi ini berlanjut setelah Pemilu, saya tidak tahu. Orang-orang berjanji akan menurunkan harga demi memenangkan Pemilu dan selanjutnya segalanya akan kembali seperti semula dan harga akan terus meningkat. Insyaallah, itu tidak akan terjadi," sambungnya.
Ekonom di BlueBay Asset Management London, Timothy Ash memperingatkan potensi risiko pemilih, seperti meremehkan pedagang kecil.
"Mengingat AKP memiliki basis dukungan yang kuat di antara pemilik toko kecil, menurut saya mereka perlu berhati-hati dengan ini," katanya.
Can Selcuki juga menyoroti potensi reaksi politik melalui media sosial, dengan memunculkan perbandingan kondisi saat ini dengan penjatahan makanan selama tahun 1940-an. Oposisi, kata dia, bisa memainkan hal ini karena Erdogan pernah mengkritik periode pemerintahan Ismet Inonu selama Perang Dunia Kedua dimana saat itu makanan untuk masyarakat harus dijatah.
"Kedua, jika kondisi ini berlangsung terlalu lama, saya tidak tahu bagaimana orang-orang bisa bahagia menunggu setengah jam atau satu jam hanya untuk beberapa kilo terong," jelasnya.
"Saya tidak tahu apakah itu akan melampaui 31 Maret, saya kira tidak. Tetapi bahkan jika mereka tetap buka setelah pemilihan, saya tidak tahu bagaimana perasaan orang tentang harus berbelanja di tempat-tempat ini. Terbiasa dengan standar hidup tertentu dan mereka tidak suka jika ini berlangsung dalam waktu yang lama," pungkasnya.
Pemerintah mengatakan akan memperluas penjualan ke berbagai kota khususnya barang-barang lain seperti produk pembersih dan kacang-kacangan.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya