Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

"Dunia Saya Telah Berakhir. Semuanya Lenyap Ditelan Gempa"

"Dunia Saya Telah Berakhir. Semuanya Lenyap Ditelan Gempa"

"Dunia Saya Telah Berakhir. Semuanya Lenyap Ditelan Gempa"

Bumi bergetar di bawah kaki Said Afouzar saat ia berada di rumah saudaranya ketika gempa bumi mengguncang. Tanpa berpikir panjang, dia bergegas pulang, berusaha mati-matian untuk menyelamatkan istri dan kedua anaknya yang berada di rumah.

Namun, saat dia mencoba membuka pintu rumah, segalanya runtuh.

Rumah mereka roboh dengan cepat, dan Afouzar bisa mendengar teriakan minta tolong dari keluarganya. Tanpa ragu, dia mulai menggali melalui reruntuhan, walaupun kakinya terluka puing-puing. Para tetangga bergabung dengannya. Hingga pukul 02.00 dini hari, tiga jam setelah gempa, mereka berhasil menarik istrinya dari bawah puing-puing. Baru sekitar pukul 10 pagi pada hari Sabtu, setelah menggali tanpa henti, mereka berhasil menemukan kedua anaknya.

Tapi sudah terlambat.

Selama hampir dua hari, Afouzar mengatakan bahwa dia tidak bisa bicara. Baru pada Minggu sore, 40 jam setelah gempa, dia mulai memahami semuanya yang telah lenyap.

Rumah mereka, bangunan dua lantai yang dulunya berdiri megah, kini hanya menjadi jurang beton yang penuh dengan semen yang hancur, plesteran yang terkelupas, dan serpihan kayu yang hancur. 

Sumber: The Washington Post

Dan yang lebih tragis, dia kehilangan kedua anaknya: Hamza, 18 tahun, dan Yusra, 13 tahun. Saat para penyelamat menemukan jasad mereka, Hamza masih memeluk erat adiknya, seolah-olah untuk melindunginya. Kedua anak itu harus dimakamkan di pemakaman desa.

Foto: Sima Diab for The Washington Post

“Saya merasa dunia sudah berakhir bagi saya,” ujar Afouzar dengan air mata mengalir di wajahnya. 
"Saya kehilangan rumah saya, saya kehilangan keluarga saya."

Sumber: The Washington Post

Hidup dalam Keputusasaan

Di tengah puing-puing tersebar sisa-sisa kebahagiaan mereka: botol Fanta kosong di atas meja ruang tamu, bantal brokat biru cerah yang kini tertutup debu, tanaman dalam pot yang masih menempel di ambang jendela.

Karena tidak ada tempat untuk ditinggali, Afouzar, dengan kakinya yang dibalut karena luka, tertatih-tatih di atas tongkat di sekitar tempat parkir di mana keluarga pengungsi telah membangun tenda dari selimut yang digantung di kabel.

Mereka bisa hidup dari roti dan teh, katanya, tetapi "kita hanya perlu rumah untuk tidur."

Mereka bisa hidup dari roti dan teh, katanya, tetapi "kita hanya perlu rumah untuk tidur."

This is descriptionBeberapa saat kemudian, istrinya, Elgoufi Nezha, tersandung keluar dari mobil van. Dia baru saja keluar dari rumah sakit di Marrakesh, tempat dia dirawat setelah diselamatkan dari reruntuhan. Sebuah luka di dahinya terlihat di bawah jilbabnya. Dia mengangkat pakaiannya untuk memperlihatkan memar ungu di lengan dan perutnya.

Dia bersandar pada suaminya, menceritakan perjuangan untuk mencapai kamar anak-anak mereka ketika puing-puing menghujani bahu dan punggungnya. Suara mereka berteriak minta tolong sampai mereka terdiam selamanya.

Tak Ada Bantuan

Afouzar menjelaskan tidak ada otoritas lokal di tempat kejadian malam itu, bahkan di pagi hari, tidak ada alat berat baik buldoser maupun derek. Hanya ada tetangga yang saling menguatkan, bersatu dalam upaya menyingkirkan lempengan beton yang berat.

Pada Minggu sore, asosiasi setempat membagikan makanan di kota itu. Tetapi tidak ada tanda-tanda bantuan dari negara. Bahkan tenda yang layak sangat langka.

Setiap sudut kota penuh dengan puing-puing rumah yang telah berdiri selama berabad-abad, sekarang tinggal kenangan. Saat beberapa rumah masih sebagian utuh, keluarga-keluarga yang tinggal di sana mengirimkan putra atau saudara laki-laki mereka untuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan, seperti selimut, bantal, alat teh, dan kompor, lalu berkemah di lahan terbuka.

Sumber: The Washington Post

Janette yang berusia tiga tahun, wajahnya dipenuhi goresan, tidak berhenti menangis dalam dua malam sejak rumahnya hancur, kata ayahnya, Hassem Lassoum.

"Pihak berwenang mengatakan 'jangan masuk ke dalam,'" ujar Lassoum.

Bangunan masih runtuh, mereka memperingatkan, dan gempa susulan masih menjadi ancaman. Tetapi bagi sebagian besar, itu sepadan dengan risikonya.

"Sulit untuk menjadi tunawisma," kata Afouzar.

Perempuan dan anak-anak mencari perlindungan dari matahari terik dengan berbaring di bawah selimut yang dihamparkan di bawah payung pantai. Sementara pria-pria berlutut untuk melaksanakan shalat sore di atas tikar jerami di lahan yang tandus.

Foto: Sima Diab for The Washington Post

Fatima Bouskri, seorang nenek berusia 60 tahun, masih mengenakan piyama yang sama ketika gempa bumi membangunkannya dari tidurnya, dan dia masih dalam keadaan syok.

"Kami hanya tinggal di sini, memohon kepada Tuhan untuk melakukan sesuatu," katanya.

Gempa Maroko Tewaskan Separuh Penduduk Desa, Sisanya Hilang

Gempa Maroko Tewaskan Separuh Penduduk Desa, Sisanya Hilang

Penduduk Tafeghaghte, Maroko, menyampaikan keluh kesah mereka tentang kehancuran akibat gempa dahsyat Jumat lalu.

Baca Selengkapnya
Niat Menjebak Musang, Petani Ini Malah Temukan Hewan yang Dianggap Punah 130 Tahun Lalu

Niat Menjebak Musang, Petani Ini Malah Temukan Hewan yang Dianggap Punah 130 Tahun Lalu

Hewan langka ini pertama kali terlihat pada tahun 1880-an.

Baca Selengkapnya
Kota Kuno Bawah Tanah Terluas Ditemukan di Turki, Ada Istana Sampai Bengkel

Kota Kuno Bawah Tanah Terluas Ditemukan di Turki, Ada Istana Sampai Bengkel

Luas kota kuno bawah tanah ini empat kali lipat lebih besar dari dugaan sebelumnya.

Baca Selengkapnya
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Ilmuwan Temukan Dunia Prasejarah yang Belum Pernah Diketahui Sebelumnya, Di Sini Lokasinya

Ilmuwan Temukan Dunia Prasejarah yang Belum Pernah Diketahui Sebelumnya, Di Sini Lokasinya

Ilmuwan Temukan Dunia Prasejarah yang Belum Pernah Diketahui Sebelumnya, Di Sini Lokasinya

Baca Selengkapnya
Peradaban Terbesar di Bumi Ternyata Ada di Bawah Tanah, Ada 'Ratu', Prajurit, Sampai Petani

Peradaban Terbesar di Bumi Ternyata Ada di Bawah Tanah, Ada 'Ratu', Prajurit, Sampai Petani

Peradaban ini ada di bawah kaki kita, tapi mungkin seringkali tidak kita sadari.

Baca Selengkapnya
Mengapa Patung-Patung Yunani Kuno Bugil? Ternyata Ini Maknanya

Mengapa Patung-Patung Yunani Kuno Bugil? Ternyata Ini Maknanya

Apakah ketelanjangan ini merupakan cerminan realitas masyarakat pada zaman Yunani Kuno? Simak penjelasannya.

Baca Selengkapnya
Ini Desa Paling Aman di Dunia, Semua Rumah Tanpa Pintu dan Kunci, Di Sini Lokasinya

Ini Desa Paling Aman di Dunia, Semua Rumah Tanpa Pintu dan Kunci, Di Sini Lokasinya

Kendati semua rumah di desa ini tanpa pintu dan kunci, namun angka kejahatan nol.

Baca Selengkapnya
Ilmuwan Temukan Lumba-Lumba Langka, Ada Jempolnya Seperti Manusia

Ilmuwan Temukan Lumba-Lumba Langka, Ada Jempolnya Seperti Manusia

Ini pertama kali ditemukan dalam 30 tahun ketika peneliti melakukan survei di laut terbuka.

Baca Selengkapnya
Nyamuk Jantan Ternyata Pernah Jadi Serangga Penghisap Darah, Temuan Fosil Tertua Berusia 145 Juta Tahun Ini Buktinya

Nyamuk Jantan Ternyata Pernah Jadi Serangga Penghisap Darah, Temuan Fosil Tertua Berusia 145 Juta Tahun Ini Buktinya

Saat ini diyakini yang menghisap darah hanya nyamuk betina.

Baca Selengkapnya