Amnesty International: Tempat Penahanan Muslim Uighur di China Mirip Kamp Konsentrasi
Merdeka.com - Lembaga pembela hak asasi Amnesty International dan Panel PBB mengatakan kamp penahanan massal muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China, lebih mirip kamp konsentrasi zaman perang.
Menurut Amnesty, sekitar satu juta etnis warga Uighur, Kazakh, dan kelompok etnis minoritas lainnya ditahan di sebuah tempat pengasingan di sebelah barat Xinjiang.
Dikutip dari laman the Independent, Senin (17/12), pemerintah China mengatakan mereka menahan warga pelaku kejahatan kecil dan menempatkan mereka di sebuah 'pusat kejuruan' dan para tahanan itu merasa 'bersyukur' berada di sana.
Namun aktivis pembela Uighur mengatakan ada sekitar tiga juta warga Uighur yang ditahan di kamp itu.
"Skalanya mengerikan. Kita belum pernah melihat dalam sejarah China belum lama ini ada orang-orang ditahan dalam jumlah sebanyak itu," kata Patrick Poon, pengamat China di Amnesty International kepada The Independent.
"Jadi menurut saya orang boleh prihatin tentang bagaimana kamp itu beroperasi mirip seperti kamp konsentrasi zaman perang. Dalam hal jumlah penghuninya mirip."
Poon menuturkan, Amnesty punya laporan dari sejumlah mantan tahanan yang mengaku mereka dipaksa menghadiri pelajaran politik dan menyanyikan lagu politik. Laporan sebelumnya juga menyatakan warga muslim dipaksa keluar dari agama mereka dan bersumpah setia kepada Partai Komunis China. Mereka juga dipaksa makan babi dan minum alkohol.
China sejauh ini kerap menyangkal tudingan mereka menekan minoritas Uighur. Wartawan dari sejumlah kantor berita diajak berkeliling ke kamp dan menyaksikan bagaimana pengamanan di sana cukup longgar dan ada sejumlah kegiatan seperti bermain basket dan kegiatan seni.
Banyak laporan yang mengungkapkan bahwa warga Muslim Uighur telah ditahan selama berbula-bulan di kamp-kamp tersebut. Namun pihak pemerintah China membantah tuduhan itu.
Pemerintah menegaskan bahwa laporan tentang penahanan satu juta warga Muslim Uighur di tahanan Xinjiang sangat tidak benar.
Para pejabat berdalih, bahwa orang-orang Uighur ini memiliki hak penuh tetapi telah terjebak dalam ekstremisme agama. Oleh karena itu, pemerintah akan berusaha memberikan pemukiman dan pendidikan kembali kepada orang-orang itu.
"Argumen mengenai satu juta warga Uighur yang ditahan di pusat-pusat sama sekali tidak benar. Warga Xinjiang, termasuk Uighur, menikmati kebebasan dan hak yang sama," kata wakil direktur Departemen Kerja Front Amerika Serikat Komite Sentral Partai Komunis China, Hu Lianhe.
"Kami memang mengadakan program pemukiman dan pendidikan ulang, bukan penahanan" lanjutnya.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya