76 Negara Bergabung Aliansi COVAX, Beli dan Distribusikan Vaksin Covid-19 Secara Adil
Merdeka.com - Sebanyak 76 negara kaya disebut berkomitmen untuk bergabung dengan rencana alokasi vaksin Covid-19 global yang dipimpin bersama oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Aliansi ini bertujuan untuk membantu membeli dan mendistribusikan vaksin secara adil.
Seth Berkley, kepala eksekutifGlobal Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI), mengatakan rencana terkoordinasi, yang dikenal sebagai COVAX, telah diikuti oleh Jepang, Jerman, Norwegia, dan lebih dari 70 negara lain yang telah mendaftar. Pada prinsipnya negara-negara itu setuju untuk mendapatkan vaksin Covid-19 melalui COVAX untuk didistribusikan ke masing-masing negara.
"Kami memiliki, saat ini, 76 negara berpenghasilan menengah ke atas dan negara berpenghasilan tinggi yang telah mengirimkan konfirmasi niat untuk berpartisipasi - dan kami berharap jumlah itu meningkat," kata Berkley kepada Reuters dalam sebuah wawancara yang dilansir Kamis (3/9).
"Ini kabar baik. Ini menunjukkan bahwa fasilitas COVAX terbuka untuk bisnis dan menarik minat di seluruh dunia yang kami harapkan," katanya.
Dia menambahkan, koordinator COVAX sedang dalam pembicaraan dengan China apakah negara itu tertarik untuk bergabung.
"Kami melakukan diskusi kemarin dengan pemerintah (China). Kami belum memiliki kesepakatan yang ditandatangani dengan mereka. Tetapi Beijing telah memberikan sinyal positif," tambahnya.
Cegah Penimbunan Vaksin
COVAX dipimpin bersama oleh GAVI, WHO dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), dan dirancang untuk mencegah satu negara menimbun vaksin Covid-19 dan untuk fokus pada vaksinasi pertama orang-orang yang paling berisiko tinggi di setiap negara.
Para pendukungnya mengatakan bahwa strategi ini harus mengarah pada biaya vaksin yang lebih rendah untuk semua orang dan lebih cepat mengakhiri pandemi yang telah merenggut sekitar 860.000 nyawa secara global.
Negara-negara kaya yang bergabung dengan COVAX akan membiayai pembelian vaksin dari anggaran nasional mereka, dan akan bermitra dengan 92 negara miskin yang didukung melalui sumbangan sukarela untuk rencana memastikan vaksin dikirimkan secara adil, kata Berkley.
Negara-negara kaya yang berpartisipasi juga bebas untuk mendapatkan vaksin melalui kesepakatan bilateral dan rencana lainnya.
AS Menolak Terlibat
Amerika Serikat mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka tidak akan bergabung dengan COVAX karena keberatan administrasi Trump atas keterlibatan WHO, sebuah langkah yang digambarkan oleh beberapa kritikus sebagai "mengecewakan".
Berkley mengatakan dia tidak terkejut dengan keputusan AS, tetapi akan berusaha melanjutkan pembicaraan dengan Washington.
Dalam apa yang tampaknya menjadi perubahan posisi pada hari Rabu, Uni Eropa mengatakan negara-negara anggotanya dapat membeli vaksin Covid-19 potensial melalui COVAX.
Koordinator COVAX berusaha menambah fleksibilitas untuk bergabung dalam perjanjian untuk mendorong partisipasi yang lebih besar, kata Berkley.
WHO menggambarkan COVAX sebagai "polis asuransi yang tak ternilai" bagi semua negara untuk mengamankan akses ke vaksin Covid-19 yang aman dan efektif ketika dikembangkan dan disetujui. Koordinator rencana telah menetapkan batas waktu 18 September bagi negara-negara yang mendaftar untuk membuat komitmen yang mengikat.
Tujuan COVAX adalah untuk mendapatkan dan mengirimkan 2 miliar dosis vaksin yang disetujui pada akhir tahun 2021. Saat ini COVAX memiliki sembilan kandidat vaksin Covid-19 dalam portofolionya yang menggunakan berbagai teknologi dan pendekatan ilmiah yang berbeda.
Beberapa sudah dalam uji klinis tahap akhir dan dapat memiliki data yang tersedia pada akhir tahun.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya