Di salah satu bangsal anak-anak di Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara, Ahmed Al-Ghalban terbaring dengan mata cekung dan tubuh kurus kering. Bocah malang ini seakan-akan berada di ambang kehancuran akibat beratnya rasa sakit fisik dan psikologis setelah kehilangan kedua kakinya dan kehilangan saudara kembarnya, Mohammed, selama perang genosida Israel yang dilancarkan di Gaza.
Al-Ghalban adalah satu dari hampir 1.000 anak yang kehilangan anggota tubuh selama perang genosida berlangsung, di mana anak-anak merupakan lebih dari 35 persen korban, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (29/4).
Ahmed tidak hanya kehilangan kedua kakinya, tetapi juga kehilangan sebagian besar jiwanya setelah saudara kembarnya, Mohammed, terbunuh akibat rudal Israel di lingkungan mereka di Jalur Gaza utara.
Maret lalu, lingkungan Al-Shaima di Beit Lahia, di Jalur Gaza utara, menjadi sasaran serangkaian serangan Israel. Salah satu serangan ini menargetkan daerah pemukiman keluarga Al-Ghalban. Ahmed dan saudaranya Mohammed sedang dalam perjalanan ke tempat perlindungan yang lebih aman setelah pasukan penjajah Israel menetapkan daerah mereka sebagai "zona merah."
"Saya memegang tangan saudara laki-laki saya, yang tidak pernah meninggalkan saya. Kami berada di kereta kuda, menuju daerah yang lebih aman setelah lingkungan kami dibom. Kami membawa beberapa barang rumah tangga," tutur Ahmed.
"Tiba-tiba, kami menjadi sasaran penjajah. Ketika aku terbangun di rumah sakit setelah siuman, aku kaget menemukan kakiku telah diamputasi dan juga mengetahui aku telah kehilangan saudara laki-laki dan pamanku. Saat itu aku tahu bahwa hidupku telah berubah selamanya, dan aku kehilangan kaki."
Menurut Kementerian Kesehatan, terlepas dari kekejamannya, kisah saudara Ahmed dan Mohammed tidak berbeda dengan kisah lebih dari 16.000 anak yang menjadi syuhada dan hampir 1.000 anak yang anggota tubuhnya diamputasi selama agresi tersebut.