Hubungan antara orang tua dan anak, khususnya antara ibu dan anak perempuan, bisa jadi sangat rumit. Namun, hubungan ibu dan anak ini memiliki peranan yang sangat penting, terutama bagi banyak anak perempuan yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Hal ini dikarenakan anak perempuan sering kali mengandalkan ibu mereka untuk mendapatkan rasa aman secara emosional serta sebagai panutan dalam berperilaku di masyarakat. Sayangnya, ada kalanya ibu lebih memilih untuk menjadi sosok yang mengkritik daripada memberikan dorongan positif.
Ketika seorang ibu terus-menerus mengkritik anak perempuannya, hal ini dapat memengaruhi cara pandang anak terhadap diri mereka sendiri. Jika kritik tersebut terjadi secara berulang, anak perempuan bisa jadi lebih fokus pada kesalahan atau kekurangan mereka daripada pada kelebihan yang dimiliki.
Melansir dari Psych Central, bagaimana pengaruh seorang ibu yang sering mengkritik terhadap anak perempuan mereka? Memiliki orang tua yang bersikap kritis sering kali berhubungan dengan dampak negatif pada kesehatan mental.
Ibu yang kritis dapat membentuk cara pandang anak perempuan mereka mengenai diri sendiri dan memengaruhi harga diri mereka. Selain itu, orang tua yang selalu mengkritik juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental. Berikut adalah beberapa dampak buruk yang dialami anak perempuan yang tumbuh di bawah pengawasan ibu yang suka mengkritik, dilansir Merdeka.com dari Psych Central pada, Selasa(18/3/2025).
Advertisement
Tingkat Depresi yang Lebih Tinggi
Depresi sering kali dikaitkan dengan sikap kritis orang tua. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa anak-anak yang merasa orang tua mereka sangat kritis cenderung mengalami tingkat depresi yang lebih tinggi. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa dampak depresi yang dialami anak-anak dari orang tua yang bersikap kritis dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Advertisement
Pengaruh Terhadap Otak
Memiliki seorang ibu yang bersikap kritis dapat berdampak pada sistem penghargaan di otak Anda. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh ibu yang sering mengkritik cenderung memiliki aktivitas otak yang lebih rendah saat merespons penghargaan dan kerugian.
Hal ini menunjukkan bahwa sikap kritis dari ibu dapat mengganggu cara anak berinteraksi dengan isyarat lingkungan. Jika Anda tumbuh dalam lingkungan seperti ini, sistem penghargaan di otak Anda mungkin mengalami gangguan.
Advertisement
Ketidakpuasan terhadap Tubuh dan Pola Makan yang Tidak Teratur
Ibu yang sering mengkritik penampilan fisik anak perempuan mereka dapat memberikan dampak negatif yang signifikan. Penelitian mengungkapkan bahwa anak perempuan yang mendapatkan ejekan atau kritik terhadap tubuh mereka dari ibu melaporkan adanya ketidakpuasan yang tinggi terhadap penampilan fisik serta cenderung memiliki pola makan yang tidak teratur. Kondisi ini dapat berlanjut hingga dewasa dan memengaruhi kesehatan mental serta fisik mereka.
Advertisement
Sikap yang Mengutamakan Kesempurnaan
Orang tua yang bersikap kritis dapat menanamkan sifat perfeksionis pada anak-anak mereka. Ketika orang tua memiliki harapan yang tinggi terhadap prestasi akademik anak, hal ini berpotensi memicu munculnya sikap perfeksionis.
Sebuah tinjauan pustaka yang diterbitkan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa kritik dari orang tua serta ekspektasi yang meningkat berhubungan erat dengan perkembangan sikap perfeksionis di kalangan anak-anak. Selain itu, penelitian tersebut juga mengungkap bahwa harapan orang tua terhadap pencapaian akademik anak-anak telah mengalami peningkatan seiring berjalannya waktu.
Advertisement
Tingkat Kritik diri yang Tinggi
Sebuah tinjauan pustaka yang dilakukan pada tahun 2023 mengkaji dampak dari penolakan dan kritik yang diberikan oleh orang tua, dan menemukan bahwa hal tersebut dapat membuat anak-anak menjadi sangat kritis terhadap diri mereka sendiri.
Penelitian ini secara khusus mengaitkan penolakan yang dialami anak dari orang tua dengan meningkatnya tingkat kritik diri yang mereka rasakan. Dengan demikian, pengaruh orang tua dalam bentuk kritik dapat berimplikasi besar terhadap cara anak-anak memandang diri mereka sendiri.
Advertisement
Menghadapi Ibu yang sangat Kritis Memerlukan Pendekatan yang Bijaksana
Jika Anda memiliki seorang ibu yang sering mengkritik, penting untuk mengembangkan keterampilan dalam mengatasi masalah demi penyembuhan diri. Anda mungkin bisa melakukan penyesuaian sendiri, atau mungkin memerlukan dukungan dari seorang profesional di bidang kesehatan mental.
1. Tentukan batasan yang sehat
Apabila Anda sering berinteraksi dengan ibu yang kritis, sangat penting untuk mempelajari cara menetapkan batasan dalam menghadapi kritik yang dilontarkannya. Jika Anda tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kritik, Anda mungkin merasa perlu untuk menjauhi situasi tersebut ketika sudah dewasa. Sebagai contoh, jika perilaku kritis tersebut terus berlanjut, Anda bisa mempertimbangkan untuk:
- Meninggalkan percakapan
- Berhenti berkomunikasi atau mengunjungi
- Meminta ibu Anda untuk tidak berbicara kepada Anda dengan cara tertentu
Apabila Anda merasa kesulitan dalam menetapkan batasan yang sehat, mencari bantuan dari seorang profesional bisa menjadi langkah yang bijak.
2. Tentukan batasan yang sehat
Mengembangkan rasa kasih sayang terhadap diri sendiri pada masa-masa sulit, terutama ketika kritik dari ibu Anda terngiang di pikiran, dapat membantu Anda menghadapinya dengan lebih baik. Rasa kasih sayang ini dapat diwujudkan melalui pembicaraan positif dengan diri sendiri atau memberi diri Anda izin untuk melakukan kesalahan dan belajar dari pengalaman tersebut.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan untuk berwelas asih kepada diri sendiri akan semakin berkembang. Oleh karena itu, jangan merasa putus asa jika Anda merasa kesulitan pada awalnya. Mempraktikkan welas asih terhadap diri sendiri adalah sebuah perjalanan yang terus berlangsung.
3. Manfaatkan Afirmasi Positif
Afirmasi positif berfungsi sebagai pengingat tentang betapa kuat dan mampu Anda sebenarnya. Mengucapkannya dapat membantu meningkatkan citra diri Anda secara keseluruhan. Beberapa contoh afirmasi positif yang dapat Anda gunakan adalah:
- "Saya kuat."
- "Hanya karena saya mengacau bukan berarti saya pecundang."
- "Saya dapat menangani apa pun yang hidup berikan kepada saya hari ini."
- "Saya percaya pada diri saya sendiri."
Sangat penting untuk menemukan afirmasi yang sesuai dengan diri Anda agar dapat memberikan dampak yang efektif.
4. Berjumpalah dengan terapis
Mencari bantuan dari seorang profesional bisa menjadi langkah penting untuk mengatasi dampak dari seorang ibu yang bersikap kritis. Hal ini karena sikap kritis dari ibu sering kali berhubungan dengan masalah harga diri, serta dapat berpotensi menimbulkan depresi atau tantangan kesehatan mental lainnya.
Dengan menemui seorang terapis, Anda dapat memperoleh dukungan yang diperlukan. Terapis akan menggunakan berbagai teknik dan strategi untuk membantu Anda mengatasi kritik yang diterima dengan lebih efektif. Selain itu, mereka juga dapat membantu Anda memahami sikap perfeksionis yang mungkin Anda miliki dan membantu Anda membangun harapan yang lebih realistis terhadap diri sendiri.
Sikap kritis dari seorang ibu dapat memberikan dampak yang signifikan pada anak perempuan mereka. Jika Anda dibesarkan dalam lingkungan yang demikian, Anda mungkin perlu belajar bagaimana berbicara dengan diri sendiri secara positif dan menetapkan batasan yang sehat dengan orang lain untuk proses penyembuhan.
Jika Anda merasa memerlukan dukungan lebih lanjut, menghubungi seorang profesional kesehatan mental bisa menjadi solusi yang baik. Mereka dapat memberikan bantuan dalam beberapa aspek, seperti:
- Mempelajari cara menetapkan batasan
- Meningkatkan rasa percaya diri
- Belajar melalui hubungan yang bersifat menyembuhkan
Advertisement