Kebangkrutan Negara, Penyebab Utama dan Konsekuensi yang Perlu Diketahui

Ketahui dampak besar dari kebangkrutan negara, seperti kehancuran ekonomi, krisis pangan, inflasi yang melambung, dan ketegangan sosial.

Laudia Tysara
Oleh Laudia Tysara - Reporter
Kebangkrutan Negara, Penyebab Utama dan Konsekuensi yang Perlu Diketahui
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid- (© 2025 Liputan6.com)

Apa konsekuensi yang akan muncul ketika sebuah negara mengalami kebangkrutan? Pertanyaan ini sangat penting, terutama bagi para pembuat kebijakan, ekonom, investor, dan masyarakat umum. Ketika sebuah negara mengalami sovereign default, yang berarti tidak mampu memenuhi kewajiban utangnya, dampak yang ditimbulkan akan sangat signifikan dan dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Secara sederhana, kebangkrutan negara menunjukkan bahwa negara tersebut tidak lagi mampu memenuhi kewajiban finansialnya, yang dapat berujung pada krisis ekonomi yang meluas. Siapa pun yang peduli terhadap stabilitas ekonomi suatu negara perlu memahami akibat dari kebangkrutan tersebut. Dampak yang muncul tidak hanya dirasakan oleh para investor dan pelaku pasar keuangan, tetapi juga menyentuh setiap individu di negara tersebut.

Berbagai hal, mulai dari harga barang-barang kebutuhan sehari-hari hingga kestabilan politik, semuanya akan terpengaruh. Oleh karena itu, penting untuk memahami potensi dampak ini agar dapat mengambil langkah-langkah yang tepat sebagai antisipasi dan mitigasi. Kebangkrutan negara bukan hanya sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan merupakan krisis yang bersifat multidimensi dan dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Dari penurunan tajam dalam pertumbuhan ekonomi hingga kemungkinan terjadinya kekacauan sosial, konsekuensi dari kebangkrutan negara sangatlah luas dan kompleks. Oleh karena itu, memahami penyebab dan dampaknya menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya skenario terburuk. Seperti yang diungkapkan oleh Merdeka.com, Rabu (19/2/2025).

Apa yang Terjadi Jika Suatu Negara Bangkrut? Ini Penyebab Paling Sering Terjadi
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid- © 2025 Liputan6.com

Jika suatu negara mengalami kebangkrutan, kemungkinan besar kondisi ekonominya akan memburuk secara signifikan. Pemotongan anggaran pemerintah akan dilakukan secara besar-besaran akibat terbatasnya dana, yang menyebabkan pengurangan stimulus ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan melambat, bahkan bisa berujung pada resesi yang berkepanjangan.

Berdampak pada Industri dan Sektor Informal

Semua sektor perekonomian, baik industri maupun sektor informal, akan merasakan dampak dari situasi ini. Berdasarkan data dari Trading Economics 2022, negara-negara maju seperti Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat memiliki rasio utang yang melebihi 100% dari PDB. Hal ini menunjukkan bahwa negara maju pun dapat mengalami krisis utang jika pengelolaan keuangannya tidak dilakukan dengan baik.

Sulitnya Perdagangan Internasional

Selanjutnya, negara akan menghadapi kesulitan dalam perdagangan internasional. Ketidakmampuan dalam mengakses devisa akan menyulitkan negara untuk melakukan impor barang-barang penting, seperti bahan pangan dan bahan baku industri.

Selain itu, ekspor juga akan terhambat karena hilangnya kepercayaan dari negara lain. Situasi ini akan memperparah krisis ekonomi dan mengakibatkan kelangkaan barang. IMF juga mengingatkan tentang risiko meningkatnya perang dan proteksionisme perdagangan yang dapat memperburuk kondisi ekonomi global.

Awalnya, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,3% pada tahun 2025, namun prediksi tersebut dipangkas menjadi 3,2% akibat peringatan akan risiko perang dan proteksionisme yang meningkat.

Krisis Pangan Jadi Konsekuensi

Krisis pangan menjadi salah satu konsekuensi yang sangat mungkin terjadi. Kekurangan devisa untuk impor serta penurunan produksi dalam negeri dapat mengakibatkan kelangkaan pangan dan lonjakan harga yang signifikan. Situasi ini berpotensi memicu panic buying dan penimbunan, yang akan semakin memperburuk keadaan. Selain itu, inflasi yang tinggi akan muncul akibat kelangkaan barang dan menurunnya daya beli masyarakat. Inflasi dapat melampaui angka 30%, seperti yang pernah terjadi di beberapa negara yang mengalami krisis ekonomi sebelumnya.

Ketergantungan Pajak Meningkat

Ketergantungan pada pajak akan meningkat seiring dengan kondisi ini. Karena kekurangan devisa, negara akan sangat bergantung pada pendapatan pajak. Namun, kondisi ekonomi yang buruk membuat masyarakat kesulitan untuk membayar pajak, sehingga pendapatan negara semakin terbatas.

Pemerintah mungkin akan terpaksa menurunkan pajak untuk mendorong pembayaran, tetapi langkah ini justru dapat memperburuk defisit anggaran. Selain itu, hilangnya kepercayaan dari investor asing juga akan terjadi, yang menyebabkan nilai mata uang negara jatuh drastis.

Kepercayaan investor asing terhadap ekonomi negara tersebut akan lenyap, dan masyarakat mungkin beralih ke sistem barter akibat kehilangan kepercayaan terhadap mata uang nasional.

Memicu Kekacauan Sosial dan Politik

Akhirnya, kondisi ekonomi yang memburuk dapat memicu kekacauan sosial dan politik. Ketidakpuasan masyarakat berpotensi menyebabkan demonstrasi, kerusuhan, bahkan kekerasan.

Lembaga keuangan juga akan mengalami kekacauan akibat situasi ini. Berbagai program pendanaan pemerintah, termasuk jaminan kesehatan, keamanan, pendidikan, dan infrastruktur, akan terhenti. Semua ini akan berdampak negatif pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Menkeu Purbaya Tarik Rp 200 Triliun dari Bank Indonesia, Bos BI Bilang Begini
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (16/7/2025). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia) © 2025 Liputan6.com
  1. Ekonomi yang Lemah: Pertumbuhan ekonomi yang tidak optimal atau resesi berkepanjangan dapat mengakibatkan penurunan pendapatan negara, sementara pengeluaran tetap tinggi. Hal ini menyebabkan pemerintah kesulitan dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi pada tahun 1998, yang sebagian besar disebabkan oleh kondisi ekonomi yang lemah dan pengelolaan utang yang tidak baik.
  2. Korupsi dan Penggelapan Aset: Praktik korupsi mengurangi pendapatan negara dan mengakibatkan berkurangnya dana untuk membayar utang. Dana yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan serta kesejahteraan masyarakat sering kali disalahgunakan, sehingga memperburuk keadaan keuangan negara. Oleh karena itu, diperlukan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi dalam pengelolaan keuangan negara untuk mencegah terjadinya korupsi.
  3. Ketidakstabilan Politik: Situasi politik yang tidak stabil dapat menakut-nakuti para investor dan mengganggu kegiatan investasi, sehingga pertumbuhan ekonomi terhambat. Investor cenderung enggan menanamkan modal di negara yang memiliki ketidakstabilan politik, karena risiko kerugian yang tinggi. Stabilitas politik sangat penting untuk menarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
  4. Ketergantungan pada Sumber Daya Alam yang Terbatas: Ketergantungan pada satu atau beberapa jenis sumber daya alam membuat negara rentan terhadap perubahan harga komoditas di pasar global. Ketika harga komoditas mengalami penurunan, pendapatan negara bisa menurun drastis, yang berujung pada kondisi keuangan yang semakin buruk. Oleh karena itu, diversifikasi ekonomi menjadi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam.
  5. Kebijakan Ekonomi yang Salah: Kebijakan ekonomi yang tidak tepat, seperti pengeluaran pemerintah yang berlebihan atau pengelolaan utang yang buruk, dapat berujung pada kebangkrutan. Pengelolaan utang yang tidak baik dapat menyebabkan beban utang negara meningkat secara signifikan, sehingga memperburuk kondisi keuangan negara. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi perlu dirancang dengan cermat dan mempertimbangkan dampak jangka panjang.
  6. Hutang Negara yang Tinggi: Tingginya rasio utang terhadap PDB menyulitkan negara dalam membayar bunga dan pokok utang. Beban bunga yang tinggi dapat menggerus pendapatan negara, yang pada gilirannya memperburuk kondisi keuangan. Oleh karena itu, pengelolaan utang yang baik sangat penting untuk mencegah peningkatan beban utang negara.
  7. Inflasi yang Tinggi dan Tidak Terkendali: Inflasi yang tinggi dapat mengikis daya beli masyarakat dan menyulitkan negara dalam membayar utang. Inflasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan sosial, sehingga memperburuk situasi keuangan negara. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah yang efektif untuk mengendalikan inflasi.

Melansir dari antaranews.com, sebagaimana diketahui, 61% warga Yunani menolak tuntutan yang diajukan oleh kreditur internasional yang akan memberi Yunani sejumlah dana segar untuk membayar hutang-hutangnya ke IMF yang jatuh tempo pada akhir Juni 2015.

Ini menunjukkan bahwa bahkan negara yang sudah tergabung dalam zona euro pun bisa mengalami krisis utang jika tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya.

BI Ciptakan Payment ID, Bisa Pantau Pendapatan hingga Transaksi Gopay
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang suda © 2025 Liputan6.com

Di tahun 2024 dan 2025, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan yang diakibatkan oleh ketidakpastian global yang rumit. Menurut setkab.go.id, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa perekonomian nasional masih berada di bawah tren jangka panjang dengan risiko penurunan.

Hal ini dipicu oleh berbagai faktor geopolitik, termasuk ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, konflik antara Rusia dan Ukraina, serta perselisihan antara Amerika Serikat dan China. Situasi tersebut berujung pada penguatan dolar AS dan tingginya suku bunga di negara-negara maju, yang berkontribusi pada depresiasi nilai tukar mata uang, termasuk Rupiah.

Walaupun demikian, beberapa komoditas seperti CPO, nikel, dan tembaga menunjukkan tren kenaikan harga yang diharapkan mampu meningkatkan nilai ekspor Indonesia. Pada triwulan pertama tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,11 persen, dengan PMI Manufaktur yang menunjukkan tanda-tanda ekspansi positif selama 33 bulan berturut-turut.

Namun, "Ketidakpastian itu inflasi masih tinggi, suku bunga The Fed yang diperkirakan dipangkas ternyata tidak terjadi. Jadi eskalasinya terus meningkat, maka para investor larinya ke aset US Dollar dan emas. Tentu ada depresiasi nilai tukar di seluruh dunia, termasuk Rupiah, juga termasuk mata uang lain termasuk Jepang," ungkap Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, seperti yang dilansir dari sumber yang sama.

Seperti yang dilaporkan oleh Bisnis Liputan6.com, pada 17 Februari 2025, Rupiah mengalami penguatan dan ditutup naik 23 poin terhadap Dolar AS. Namun, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengingatkan agar pasar keuangan tetap waspada terhadap potensi perang dagang dan dampak dari tarif dagang yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang 16.180-16.230," jelas Ibrahim. Data dari BPS menunjukkan bahwa Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan sebesar USD 3,45 miliar pada Januari 2025. Meskipun demikian, ekspor Indonesia mencatatkan penurunan sebesar 8,56 persen dibandingkan bulan Desember 2024, yang menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan di tengah situasi global yang tidak menentu.

Data inflasi dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan komitmen untuk menjaga keseimbangan antara supply dan demand di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah. Meski terdapat beberapa indikator yang menunjukkan perkembangan positif, tetap penting untuk waspada terhadap potensi risiko yang mungkin muncul.

Pemerintah perlu terus mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memprediksi dampak negatif yang mungkin timbul akibat ketidakpastian global. Memahami konsekuensi dari kemungkinan kebangkrutan negara sangat penting untuk merumuskan langkah-langkah pencegahan dan mitigasi yang tepat.

Rekomendasi