Sejarah dan Perkembangan Tradisi Lebaran Ketupat di Indonesia, Yuk Simak!

Artikel ini membahas secara mendalam sejarah tradisi Lebaran Ketupat di Jawa, mencakup peran Sunan Kalijaga serta makna filosofis dari ketupat.

Mabruri Pudyas Salim
Oleh Mabruri Pudyas Salim - Reporter
Sejarah dan Perkembangan Tradisi Lebaran Ketupat di Indonesia, Yuk Simak!
Seorang penjual menganyam daun kelapa atau kulit ketupat sambil menunggu pelanggan di sebuah pasar tradisional di Jakarta pada 2 April 2024. (BAY ISMOYO/AFP) (© 2025 Liputan6.com)

Lebaran Ketupat, atau yang dikenal juga sebagai Bakda Kupat, merupakan perayaan yang berlangsung pada 8 Syawal, seminggu setelah Idul Fitri, dengan makna budaya yang mendalam, terutama bagi masyarakat Jawa. Perayaan ini tidak hanya sekadar makan-makan, tetapi mengandung nilai-nilai spiritual, sosial, dan kultural yang penting.

Tradisi ini menandakan selesainya ibadah puasa Ramadhan dan Syawal, dirayakan dengan keceriaan bersama keluarga dan hidangan khas seperti ketupat. Asal-usul tradisi ini terkait dengan penyebaran Islam di Jawa oleh Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya lokal, menghasilkan perpaduan harmonis yang tetap relevan hingga saat ini.

Lebaran Ketupat menjadi simbol akulturasi budaya Jawa dan Islam, serta mencerminkan bagaimana nilai agama dan budaya dapat saling memperkaya, simak sejarah lengkapnya berikut ini sebagaimana telah dirangkum oleh Merdeka.com dari berbagai sumber, Senin(10/2/2025).

Tradisi Lebaran Ketupat di Indonesia

Peran Sunan Kalijaga dalam pengenalan tradisi Lebaran Ketupat sangat penting, karena beliau berhasil mengharmoniskan ajaran Islam dengan budaya Jawa.

Melalui istilah "Bakda Lebaran" dan "Bakda Kupat", Sunan Kalijaga menciptakan perayaan yang menggabungkan tradisi keagamaan dan lokal, dengan Bakda Kupat dirayakan seminggu setelah Idul Fitri dengan penyajian ketupat.

Tradisi Lebaran Ketupat telah berkembang seiring waktu, tetap mempertahankan nilai-nilai inti meskipun beradaptasi dengan zaman.

Perayaan ini mencerminkan akulturasi budaya Islam dan Jawa, serta mengajarkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan kebersamaan.

Lebaran Ketupat menjadi bukti bahwa agama dan budaya dapat hidup berdampingan secara harmonis, serta pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya.

Makna Filosofis Ketupat

Sejarah dan Makna Filosofis Ketupat Lebaran dan Falsafah Jawa
Seorang penjual menganyam daun kelapa atau kulit ketupat sambil menunggu pelanggan di sebuah pasar tradisional di Jakarta pada 2 April 2024. (BAY ISMOYO/AFP) © 2025 Liputan6.com

Bahan utama ketupat, yaitu beras dan janur, mengandung makna filosofis yang sangat mendalam. Beras melambangkan nafsu manusia yang seharusnya dikendalikan, sedangkan janur (daun kelapa muda) merepresentasikan "jati ning nur", yang berarti hati nurani yang bersih dan suci.

Nasi, sebagai simbol nafsu, mengingatkan kita untuk senantiasa mengontrol hawa nafsu dan bertindak dengan bijak. Sementara itu, janur sebagai simbol hati nurani mengajak kita untuk selalu berbuat baik dan menjaga kesucian hati. Filosofi janur (jati ning nur) mengajarkan kita untuk berpegang pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Janur yang dianyam dengan baik melambangkan kesabaran serta ketekunan dalam menjalani kehidupan.

Bentuk anyaman ketupat yang khas, yaitu segi empat, melambangkan konsep "kiblat papat lima pancer". Konsep ini mengajarkan bahwa apapun arah yang diambil dalam hidup, manusia pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Anyaman ketupat yang rumit juga melambangkan kerumitan serta berbagai kesalahan yang pernah dilakukan oleh manusia.

Ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu melakukan introspeksi dan memperbaiki kesalahan di masa lalu. Warna putih ketupat yang terlihat setelah dibelah melambangkan kesucian serta kebersihan hati setelah memohon ampun. Hal ini sejalan dengan ungkapan "ngaku lepat" (mengakui kesalahan), yang mengingatkan kita untuk selalu rendah hati dan berani mengakui kesalahan.

Tak hanya itu, ketupat juga melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Beras yang terdapat di dalam ketupat diharapkan dapat membawa berkah serta rezeki bagi siapa saja yang mengonsumsinya.

Selain itu, warna kuning pada janur diyakini sebagai penolak bala. Dengan demikian, ketupat tidak hanya menjadi simbol makanan, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual dan moral yang dalam.

Tradisi Lebaran Ketupat

Sejarah Tradisi Lebaran Ketupat, Pahami Makna Filosofi dan Perkembangannya
Seorang penjual menganyam daun kelapa atau kulit ketupat sambil menunggu pelanggan di sebuah pasar tradisional di Jakarta pada 2 April 2024. (BAY ISMOYO/AFP) © 2025 Liputan6.com

Persiapan untuk Lebaran Ketupat biasanya dimulai beberapa hari sebelum hari raya itu sendiri. Masyarakat mulai membuat ketupat dengan cara menganyam janur secara rapi. Kegiatan pembuatan ketupat sering dilakukan secara bersama-sama, yang dapat mempererat hubungan antar keluarga dan masyarakat.

Membuat ketupat bukan hanya sekadar aktivitas, tetapi juga memiliki makna yang dalam. Proses menganyam janur memerlukan kesabaran dan ketelitian, yang melambangkan penyucian diri serta persiapan untuk menyambut hari raya yang suci.

Selain ketupat, berbagai hidangan pendamping juga disiapkan, seperti opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng, dan masih banyak lagi. Hidangan-hidangan tersebut menambah suasana meriah dalam perayaan dan semakin memperkuat kebersamaan di antara masyarakat.

Ritual utama dalam perayaan Lebaran Ketupat adalah berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Masyarakat saling mengunjungi dan berbagi makanan, yang pada gilirannya mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan.

Silaturahmi dengan tetangga dan kerabat juga menjadi aspek penting dalam perayaan ini. Selama perayaan, masyarakat saling bermaaf-maafan dan memperkuat hubungan antar sesama. Tradisi khusus dalam merayakan Lebaran Ketupat bervariasi di setiap daerah. Beberapa daerah mengadakan acara hajatan, sementara yang lain menggelar permainan tradisional yang meriah.

Penggantungan ketupat di atas kusen pintu rumah juga merupakan tradisi unik yang ada di beberapa daerah. Ketupat yang digantung diyakini dapat berfungsi sebagai penolak bala atau pengusir energi negatif.

Variasi dalam perayaan Lebaran Ketupat di berbagai wilayah mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Meskipun terdapat banyak perbedaan, inti dari perayaan ini tetap sama, yaitu mempererat tali silaturahmi dan bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan.

Nilai-nilai yang Terkandung dalam Tradisi Lebaran Ketupat

Sejarah Tradisi Lebaran Ketupat, Pahami Makna Filosofi dan Perkembangannya
Seorang penjual menganyam daun kelapa atau kulit ketupat sambil menunggu pelanggan di sebuah pasar tradisional di Jakarta pada 2 April 2024. (BAY ISMOYO/AFP) © 2025 Liputan6.com

Tradisi Lebaran Ketupat mengandung nilai spiritual dan keagamaan yang sangat mendalam. Perayaan ini melambangkan penyempurnaan ibadah puasa Ramadhan serta puasa Syawal.

Dalam tradisi ini, kita diajarkan untuk bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan selalu mengingat pentingnya menjaga kesucian hati setelah melaksanakan ibadah puasa.

Selain itu, nilai sosial kemasyarakatan yang terkandung dalam tradisi ini juga sangat signifikan. Perayaan Lebaran Ketupat berfungsi untuk memperkuat hubungan sosial melalui aktivitas silaturahmi dan berkumpul bersama keluarga dan teman. Kegiatan gotong royong serta kebersamaan dalam menyiapkan dan menikmati hidangan Lebaran Ketupat mencerminkan nilai-nilai luhur yang masih ada di tengah masyarakat kita.

Selain nilai-nilai tersebut, filosofi ketupat juga mengandung pendidikan moral yang penting. Tradisi ini mengajarkan kita tentang kerendahan hati, kemampuan untuk mengakui kesalahan, serta pengendalian nafsu. Mengingat pentingnya menjaga kesucian hati menjadi inti dari pelajaran yang dapat kita ambil dari perayaan ini.

Dengan demikian, Lebaran Ketupat tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan momen untuk refleksi diri dan pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan yang luhur.

Potensi Pariwisata Budaya

Sejarah Tradisi Lebaran Ketupat, Pahami Makna Filosofi dan Perkembangannya
Seorang penjual menganyam daun kelapa atau kulit ketupat sambil menunggu pelanggan di sebuah pasar tradisional di Jakarta pada 2 April 2024. (BAY ISMOYO/AFP) © 2025 Liputan6.com

Festival Lebaran Ketupat yang diselenggarakan di berbagai daerah memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Acara ini memperlihatkan keunikan tradisi serta keragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Selain itu, pengembangan destinasi wisata kuliner ketupat juga bisa dilakukan.

Berbagai jenis ketupat dan hidangan pendampingnya dapat menarik perhatian wisatawan. Dengan mengembangkan tradisi Lebaran Ketupat sebagai atraksi wisata budaya, perekonomian masyarakat setempat dapat meningkat. Perayaan ini berpotensi menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.

Dampak ekonomi dari pengembangan wisata budaya Lebaran Ketupat dapat dirasakan oleh banyak pihak. Hal ini berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pelestarian budaya.

Oleh karena itu, melestarikan tradisi Lebaran Ketupat sebagai warisan budaya sangatlah penting. Tradisi ini juga mengajarkan nilai-nilai luhur yang tetap relevan dengan kehidupan modern saat ini.

Harapan kami adalah tradisi Lebaran Ketupat dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang. Perayaan ini menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai agama dan budaya dapat hidup berdampingan dengan harmonis.

Rekomendasi