Media sosial X baru-baru ini ramai membahas unggahan seorang ibu yang mengaitkan konsumsi kerang saat hamil dengan autisme pada anaknya. Dalam cuitannya, ia mengungkapkan penyesalannya karena mengonsumsi kerang saat ngidam dan menduga pencemaran merkuri sebagai penyebab utama.
Meskipun ia mengakui kemungkinan adanya faktor lain, unggahannya memicu perdebatan luas hingga akhirnya dihapus.Menanggapi isu ini, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Victor Prana Andika Santawi, menegaskan bahwa kerang bukan makanan yang harus dihindari selama kehamilan, asalkan dikonsumsi dalam kondisi matang dan segar.
Ia menambahkan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan konsumsi kerang dengan autisme, berbeda dengan merokok, alkohol, dan makanan mentah yang memang terbukti berdampak negatif pada janin. Oleh karena itu, ibu hamil perlu lebih selektif dalam memilih makanan demi kesehatan bayi yang dikandung, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber, Selasa (4/2/2025).
Advertisement
Terdapat Berbagai Faktor yang Berkontribusi Terhadap Autisme
Victor menjelaskan bahwa terdapat berbagai faktor yang berhubungan dengan autisme pada individu. "Autis itu kan ibaratnya ada 1001 faktor, bisa faktor bawaan, paparan sesuatu, atau faktor lain yang kita tidak ketahui," ungkap lulusan fakultas kedokteran Universitas Indonesia ini.
Hal ini menunjukkan bahwa penyebab autisme sangat kompleks dan tidak dapat disederhanakan hanya pada satu aspek saja. Berbagai elemen seperti genetik, lingkungan, dan pengalaman hidup dapat berkontribusi terhadap perkembangan kondisi ini.
Advertisement
Faktor Risiko Autisme pada Anak
Penyebab pasti autisme masih belum diketahui, tetapi kemungkinan besar berkaitan dengan gangguan pada bagian otak yang bertugas menginterpretasikan masukan sensorik dan memproses bahasa. Autisme lebih sering terjadi pada anak laki-laki dengan rasio empat banding satu dibandingkan anak perempuan.
Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja tanpa dipengaruhi oleh ras, etnis, atau latar belakang sosial. Selain itu, faktor seperti pendapatan keluarga, gaya hidup, dan tingkat pendidikan tidak berperan dalam meningkatkan risiko autisme. Namun, beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami autisme.
Risiko lebih tinggi ditemukan pada anak dengan orang tua yang berusia lebih tua. Ibu hamil yang terpapar zat berbahaya seperti alkohol dan obat anti-kejang juga berisiko melahirkan anak dengan autisme. Kondisi kesehatan ibu, seperti diabetes dan obesitas, turut menjadi faktor risiko. Selain itu, penelitian mengaitkan autisme dengan fenilketonuria yang tidak diobati (PKU) serta infeksi rubella selama kehamilan.
Advertisement
Memahami Autisme
Gangguan spektrum autisme (ASD) atau yang lebih dikenal dengan sebutan autisme adalah sebuah kondisi yang berkaitan dengan perkembangan saraf. Menurut informasi dari Cleveland Clinic, individu yang mengalami autisme cenderung memiliki cara berperilaku, berinteraksi, dan belajar yang berbeda dibandingkan dengan orang pada umumnya.
Mereka sering kali menghadapi tantangan dalam berinteraksi secara sosial serta dalam memahami dan menggunakan komunikasi baik verbal maupun nonverbal. Autisme merupakan suatu kondisi yang berada dalam spektrum, sehingga jenis dan tingkat keparahan gejala yang muncul dapat bervariasi.
Dengan demikian, tidak ada karakteristik tunggal yang dapat digunakan untuk mendefinisikan ASD secara keseluruhan.