Isu Jabar berpotensi diguncang gempa 8 SR, ini faktanya dari PVMBG

Jumat, 17 Agustus 2018 14:41 Reporter : Wisnoe Moerti
Isu Jabar berpotensi diguncang gempa 8 SR, ini faktanya dari PVMBG Peta kawasan rawan gempa Jabar. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Jagat dunia media sosial sempat heboh dengan kabar potensi gempa di Jawa Barat hingga magnitudo 8 SR akibat pergerakan lempeng Pulau Jawa. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) langsung memberikan klarifikasi. Pernyataan sebenarnya dari Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi adalah Sesar Cimandiri berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan intensitas VIII MMI.

Dari laman resmi PVMBG, dijelaskan ada perbedaan pengertian antara magnitudo dan intensitas gempabumi. Magnitudo adalah besarnya energi yang dilepaskan oleh sumber gempa bumi dan diukur secara instrumental dari data seismik. Besarnya magnitudo dinyatakan dalam satuan Mw (Moment Magnitude) atau satuan lain seperti Mb, Ms, dan lain-lain.

"Sedangkan intensitas adalah dampak guncangan gempa bumi atau tingkat kekuatan goncangan di suatu titik. Besarnya intensitas dipengaruhi oleh magnituda, jarak terhadap sumber gempa bumi, dan kondisi geologi setempat. Satuan intensitas adalah MMI (Modified Mercalli Intensity)," jelas PVMBG melalui keterangan tertulis.

Untuk potensi gempa bumi di Jawa Barat, PVMBG telah menerbitkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi pada 2014. Peta ini dibuat berdasarkan analisis bahaya gempa bumi yang memperhitungkan parameter sumber gempa bumi, penjalaran gelombang seismik serta kerentanan tanah. Analisis bahaya gempa bumi dilakukan menggunakan metode probabilistik yang memperhitungkan ketidaktentuan dari besaran, lokasi dan waktu kejadian gempa bumi.

Berdasar peta tersebut, wilayah Jawa Barat terdiri dari KRB menengah yang berpotensi terlanda guncangan gempa bumi dengan intensitas VII – VIII MMI, serta KRB Tinggi yang berpotensi terlanda guncangan gempa bumi dengan intensitas lebih besar dari VIII MMI. KRB tinggi berlokasi di wilayah yang berdekatan dengan sumber gempa bumi dan daerah yang dengan sifat fisis tanah yang sangat lunak.

Wilayah yang pernah mengalami gempa bumi di masa lalu, kemungkinan besar akan mengalami kejadian lagi, Namun dengan waktu dan kekuatan yang belum dapat diprediksi secara akurat. Untuk itu, penting bagi masyarakat mengetahui sejarah peristiwa gempa bumi di suatu daerah.

Berdasarkan katalog gempa yang diterbitkan PVMBG Badan Geologi, terdapat beberapa kejadian gempa bumi yang merusak di wilayah Jawa Barat. Termasuk kejadain gempa bumi Tasikmalaya yang terjadi pada akhir 2017. Sumber gempa bumi merusak bisa terjadi dari zona subduksi yang biasanya dengan magnitudo besar dan juga dari sesar aktif di darat.

"Upaya-upaya mitigasi bencana geologi yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi bahkan meniadakan jatuhnya korban jiwa maupun kerugian harta benda yang diakibatkan oleh gempa bumi."

Terkait isu-isu gempa yang beredar, berkali-kali Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi dengan tepat dan akurat: kapan, di mana, dan berapa kekuatan gempa yang akan terjadi.

Karena itu, Rahmat mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat juga diminta tetap tenang. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Gempa
  2. Cek Fakta
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini