Pertanyaan mengenai apakah orang yang telah meninggal dunia masih bisa mengamati kehidupan kita di bumi, sering kali menjadi topik yang menarik perhatian banyak orang. Banyak yang berharap bahwa orang-orang tercinta yang telah tiada dapat menyaksikan perjalanan hidup mereka, merasakan kebahagiaan, dan mengawasi dari jarak jauh. Pertanyaan ini pun dijawab secara lugas oleh ulama terkenal dari Cirebon, KH Yahya Zainul Ma'arif, yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Yahya.
Dalam salah satu ceramahnya, Buya Yahya membahas isu ini secara mendalam dan mengajak pendengarnya untuk merenungkan aspek batin dari kehidupan setelah mati. Dalam kajiannya yang diambil dari kanal YouTube @AlBahjahTV pada Jumat, 18 April 2025, Buya Yahya menjelaskan interaksi antara dunia yang fana dan alam barzakh, tempat di mana ruh-ruh orang yang telah berpulang bersemayam.
Ia menjelaskan bahwa alam barzakh adalah dunia yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan kita. Menurut Buya Yahya, orang yang telah meninggal tidak lagi terikat oleh dimensi fisik maupun waktu seperti yang kita alami di dunia ini. "Orang meninggal dunia itu alamnya alam mutlak, tidak terikat dengan materi," ungkap Buya Yahya, menekankan bahwa cara pandang mereka telah sepenuhnya berubah setelah berpisah dari tubuh fisik.
Namun, meskipun telah meninggalkan dunia ini, bukan berarti mereka tidak dapat mengetahui apa yang terjadi di dunia kita. Dalam penjelasannya, Buya Yahya menyatakan bahwa mereka masih bisa melihat, tetapi dengan perspektif yang berbeda. Hal ini memberikan pengertian baru mengenai hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada, serta menambah kedalaman pemahaman kita tentang kehidupan setelah kematian, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber pada, Selasa(22/4/2025).
Advertisement
"Jadi melihat gerak-gerik kita, cuma cara pandangnya di alam yang berbeda," jelasnya. Ini berarti bahwa yang mereka amati bukan hanya tindakan fisik kita, melainkan juga esensi yang terkandung di balik setiap amal perbuatan tersebut. Sudut pandang ini tidak lagi bersifat duniawi, melainkan berlandaskan pada nilai-nilai akhirat.
Mereka tidak melihat kita sebagai anak, pasangan, atau saudara, sebagaimana kita memandang satu sama lain. "Jadi bukan mandang anakku hubungan suami istri dengan suaminya atau istrinya," tutur Buya Yahya. Dalam pandangan mereka, hubungan biologis atau status sosial telah kehilangan relevansinya. Yang terpenting hanyalah kebaikan dan amal yang dilakukan.
Buya Yahya menekankan bahwa dimana perhatian mereka lebih difokuskan pada amal saleh yang kita lakukan. Setiap bentuk kebaikan yang dilakukan oleh keturunan mereka akan sampai dan memberikan kebahagiaan di alam barzakh. "Amal saleh mengalir kepadanya," tegas Buya Yahya. Amal baik yang ditujukan kepada mereka, atau yang sekadar dilakukan oleh keturunannya, akan menjadi pahala yang terus mengalir. Ini sejalan dengan konsep amal jariyah yang dikenal dalam Islam. Ketika seorang anak bersedekah, mendoakan, atau melanjutkan kebaikan orang tuanya, maka itu akan menjadi bekal berharga bagi orang tua mereka di alam sana.
Buya Yahya menegaskan bahwa kasih sayang Allah sangat besar, sehingga memungkinkan orang tua yang telah meninggal tetap memperoleh manfaat dari anak-anak mereka yang masih hidup, selama mereka beramal dengan niat yang tulus. Penjelasan ini menjadi pengingat yang mendalam bagi para pendengar bahwa hubungan antara dunia dan akhirat tidak sepenuhnya terputus. Masih ada jalur spiritual yang dapat menghubungkan kedua alam tersebut.
Advertisement
Ceramah ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam. Setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi orang-orang yang telah mendahului kita. Buya Yahya mendorong kita untuk memperbanyak amal bagi orang tua dan kerabat yang telah berpulang.
Amal tersebut bisa berupa doa, sedekah, membaca Al-Qur'an, dan berbagai perbuatan baik lainnya. Ceramah ini juga memberikan penghiburan bagi mereka yang kehilangan orang terkasih, mengingatkan bahwa meskipun fisik telah terpisah, koneksi spiritual tetap terjalin.
Kehidupan setelah mati bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, ini membuka dimensi baru yang memungkinkan mereka yang telah pergi tetap berperan melalui doa dan amal keturunannya. Buya Yahya mengajak kita untuk menjadikan hubungan dengan orang tua sebagai sumber pahala yang tidak terputus. Kasih sayang tidak terhenti dengan kematian justru dapat semakin mendalam melalui amal yang kita lakukan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga perbuatan kita di dunia ini. Siapa tahu, mereka yang telah tiada sedang mengawasi kita, menunggu doa, dan berharap amal dari anak-anak mereka.
Kesimpulan dari penjelasan Buya Yahya bukanlah sekadar jawaban atas pertanyaan spiritual, tetapi juga pengingat yang kuat tentang tanggung jawab kita terhadap orang tua dan leluhur. Dengan memahami hal ini, kita akan lebih berhati-hati dalam bersikap, memperbanyak amal, dan tidak pernah lelah mendoakan mereka yang telah lebih dulu menghadap Sang Khalik. Meskipun mereka telah tiada, hubungan spiritual tetap ada. Dengan kasih sayang Allah, setiap amal baik yang kita niatkan untuk mereka akan menjadi cahaya di alam barzakh.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul