5 ⁠Ciri-ciri Psikopat Dilihat dari Makanan Favoritnya, Ini Penjelasannya Menurut Studi

Sebuah penelitian ilmiah menunjukkan hubungan menarik antara pilihan makanan dan karakteristik psikopat. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Thomas Wardana
Oleh Thomas Wardana - Reporter
5 ⁠Ciri-ciri Psikopat Dilihat dari Makanan Favoritnya, Ini Penjelasannya Menurut Studi
Ilustrasi psikopat Foto oleh Elti Meshau dari Pexels (© 2025 Liputan6.com)

Psikopat adalah gangguan kepribadian yang kompleks, yang ditentukan berdasarkan pola perilaku, emosi, dan interaksi sosial yang menyimpang, bukan sekadar pilihan makanan. Meskipun demikian, beberapa penelitian ilmiah telah menginvestigasi hubungan antara kebiasaan makan atau preferensi rasa tertentu dengan karakteristik yang dikenal sebagai 'Dark Triad', yang mencakup psikopati, narsisme, dan Machiavellianisme.

Dalam artikel ini, akan dibahas beberapa karakteristik tersebut yang ditemukan dalam penelitian tersebut, yang mengaitkan kebiasaan makan dengan kecenderungan psikopat. Namun, penting untuk diingat bahwa korelasi ini tidak berarti ada hubungan sebab-akibat yang langsung, dan menyukai jenis makanan tertentu tidak secara otomatis menjadikan seseorang sebagai psikopat.

5 Ciri-ciri Psikopat Dilihat dari Makanannya, Apakah Anda Termasuk?
Ilustrasi psikopat Foto oleh Elti Meshau dari Pexels © 2025 Liputan6.com

Salah satu topik yang sering dibahas dalam penelitian adalah hubungan antara selera terhadap rasa pahit dan kecenderungan kepribadian antisosial serta sadistik. Penelitian yang dilakukan oleh University of Innsbruck, Austria, melibatkan 953 peserta dari Amerika Serikat dan menemukan adanya koneksi antara kedua hal tersebut.

Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite ini menunjukkan bahwa orang yang menyukai makanan dan minuman pahit, seperti kopi hitam, cokelat hitam, serta beberapa jenis minuman beralkohol (contohnya gin dan tonik), cenderung menunjukkan perilaku sadis yang lebih tinggi. Penelitian tambahan oleh Sagioglou dan Greitemeyer juga mendukung temuan ini dengan menunjukkan adanya korelasi positif antara preferensi rasa pahit dan sifat-sifat kejam.

Beberapa makanan dan minuman pahit yang disebutkan dalam penelitian ini mencakup kopi, lobak, bir, dan air tonik. Selain itu, studi ini mencatat bahwa fenomena 'supertasting', yang merujuk pada peningkatan sensitivitas terhadap rasa pahit, berkaitan dengan tingginya tingkat emosi yang dialami oleh individu.

Ilustrasi Makanan
Ilustrasi Makanan (Foto dok : Freepik/freepik).

Penelitian terbaru oleh Shi et al. (2022), yang dipublikasikan di US National Library of Medicine, mengkaji hubungan antara karakteristik kepribadian Dark Triad dan pola makan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat psikopati sekunder yang lebih tinggi, yang berhubungan dengan impulsivitas dan kurangnya kontrol diri, memiliki kecenderungan lebih besar untuk terlibat dalam kebiasaan makan yang tidak teratur. Selain itu, psikopati sekunder juga berhubungan dengan peningkatan perilaku makan emosional, terutama di kalangan pria. Temuan ini menunjukkan bahwa bukan hanya preferensi rasa yang berbeda, tetapi pola makan secara keseluruhan pada orang-orang yang memiliki ciri psikopati dapat menyimpang dari norma yang umum.

Kurangnya kontrol diri dan impulsivitas yang merupakan ciri khas dari psikopati sekunder dapat terlihat dalam kebiasaan makan yang tidak teratur atau yang dipicu oleh emosi. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor psikologis dapat berperan penting dalam cara individu berinteraksi dengan makanan. Dengan demikian, pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan ini dapat membantu dalam merancang intervensi yang lebih efektif untuk mengatasi masalah kebiasaan makan yang tidak sehat. Penelitian ini membuka peluang untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai bagaimana karakteristik kepribadian dapat memengaruhi perilaku makan dan kesehatan secara keseluruhan.

Ilustrasi Makanan
Ilustrasi Makanan (Foto: Freepik.com)

Selain kecenderungan terhadap rasa pahit, penelitian juga mengungkap bahwa orang-orang dengan ciri psikopati cenderung menjauh dari hidangan yang rumit dan tidak terduga. Mereka lebih memilih makanan yang sederhana dan sudah dikenal, dengan cita rasa yang kuat dan jelas.

Preferensi ini dapat menjelaskan ketertarikan banyak individu dengan ciri-ciri psikopati terhadap makanan dasar yang memiliki rasa yang intens, seperti kopi hitam, lobak, dan cokelat hitam tanpa tambahan pemanis. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan kebutuhan mereka akan kepastian dan kontrol, di mana makanan yang sederhana dan sudah familiar memberikan rasa nyaman serta mengurangi perasaan ketidakpastian.

Psikopat sering kali merasakan dorongan yang kuat untuk mengatur segala sesuatu di sekitarnya, termasuk cara mereka berinteraksi dengan makanan. Mereka bisa memiliki aturan atau preferensi yang sangat rinci mengenai jenis makanan yang mereka pilih, metode penyajian, dan cara makanan tersebut disiapkan.

Ketatnya kontrol yang mereka terapkan ini menjadi salah satu indikasi dari sifat kepribadian mereka yang dominan dan manipulatif. Kecenderungan untuk mengendalikan tidak hanya berlaku pada makanan yang mereka konsumsi, tetapi juga mencakup keseluruhan suasana saat makan. Hal ini mencerminkan sifat dasar psikopat, yaitu hasrat untuk mendominasi dan mengontrol orang lain serta situasi di sekitarnya.

Ilustrasi Makanan
Ilustrasi Makanan (Foto: Freepik/jcomp).

Ketika berada dalam situasi makan bersama, individu yang memiliki sifat psikopati sering kali tidak menunjukkan pertimbangan atau rasa empati terhadap preferensi dan alergi makanan yang dimiliki orang lain. Mereka cenderung mengabaikan kebutuhan atau keinginan orang lain jika hal tersebut bertentangan dengan apa yang mereka inginkan. Ini merupakan contoh nyata dari kurangnya empati, yang menjadi salah satu ciri utama psikopati.

Lebih jauh, psikopat dapat memanfaatkan makanan sebagai alat untuk memanipulasi orang lain. Misalnya, mereka mungkin memaksa orang lain untuk memilih restoran tertentu atau menu spesifik, atau bahkan mengkritik pilihan makanan orang lain untuk menunjukkan dominasi dan mengendalikan situasi saat makan. Perilaku semacam ini mencerminkan bagaimana mereka memanfaatkan setiap kesempatan, termasuk dalam konteks sosial seperti saat makan, untuk menegaskan kekuasaan dan kontrol atas orang lain.

Rekomendasi