Sir Jim Ratcliffe dilaporkan mendapatkan sambutan yang kurang ramah dari staf Manchester United (MU) ketika menghadiri acara nonton bareng final Liga Europa di Manchester. Hal ini terjadi di tengah rencana pemangkasan besar-besaran tenaga kerja di klub yang terus berlangsung. Pada pertandingan final yang berlangsung di Bilbao, Kamis dini hari WIB (22-5-2025), MU harus menerima kenyataan pahit setelah kalah 0-1 dari Tottenham Hotspur. Kekalahan tersebut bukan hanya menghalangi mereka untuk meraih trofi, tetapi juga membuat mereka kehilangan tiket ke Liga Champions untuk musim mendatang.
Ratcliffe terlihat hadir secara langsung di Stadion San Mames, bersama beberapa petinggi klub lainnya, termasuk Avram Glazer dan CEO baru, Omar Berrada. Sebelum pertandingan dimulai, ketiganya sempat terlihat berbincang-bincang. Menariknya, pemilik INEOS ini duduk berdampingan dengan Glazer dan mantan manajer legendaris MU, Sir Alex Ferguson. Momen ini menunjukkan betapa pentingnya pertemuan tersebut, meskipun diwarnai dengan situasi yang tidak menyenangkan bagi Ratcliffe.
Advertisement
Sementara para pemimpin klub menyaksikan pertandingan secara langsung di Spanyol, klub juga mengadakan acara nonton bareng (nonbar) untuk staf di Manchester, tepatnya di tempat bernama Diecast yang terletak di area pergudangan. Namun, seperti yang dilaporkan oleh The Athletic, suasana nonbar tersebut berubah menjadi tidak menyenangkan ketika wajah Ratcliffe dan Glazer muncul di layar — pertama saat pertandingan berlangsung, dan kemudian setelah peluit akhir berbunyi. Kedua sosok tersebut mendapatkan teriakan "boo" dari staf klub yang hadir. Reaksi tersebut muncul di tengah pelaksanaan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang besar-besaran yang sedang dijalankan oleh Ratcliffe.
Dalam beberapa minggu terakhir, sekitar 200 karyawan telah diberitahu bahwa posisi mereka berada dalam risiko. Tindakan ini bukanlah yang pertama kali: delapan bulan lalu, Ratcliffe juga telah memutuskan hubungan kerja dengan sekitar 250 staf klub. Kini, ia disebut-sebut sedang merancang langkah-langkah efisiensi lanjutan sebagai bagian dari program pemangkasan biaya yang lebih besar. Situasi ini menunjukkan tantangan yang dihadapi klub dalam upaya untuk mencapai efisiensi sambil mempertahankan moral staf yang tersisa.
Advertisement
Kekalahan yang dialami oleh Tottenham tidak hanya berdampak negatif pada prestasi klub, tetapi juga merugikan dari segi finansial. Ketidakberhasilan Manchester United untuk lolos ke Liga Champions mengakibatkan hilangnya potensi pendapatan lebih dari 100 juta euro, dan pada musim depan, mereka bahkan tidak akan berpartisipasi dalam kompetisi Eropa mana pun. Menurut laporan yang sama, suasana di tempat nonton bar di Manchester digambarkan "sangat muram" setelah peluit akhir berbunyi. Ini sejalan dengan informasi yang disampaikan oleh CEO Omar Berrada sebelumnya, yang menyatakan bahwa rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) gelombang kedua disusun dengan asumsi bahwa klub akan tampil di Liga Europa setidaknya dalam empat musim mendatang.
Sementara itu, laporan dari Mail Sport mengungkapkan bahwa para pemain merasa kecewa dengan kebijakan penghematan yang diterapkan klub menjelang final. Informasi menyebutkan bahwa tiket, penerbangan, dan akomodasi untuk pertandingan di Bilbao sangat terbatas dan tidak dikelola dengan baik. Bahkan, pelatih Ruben Amorim harus menggunakan dana pribadinya untuk membiayai keberangkatan sekitar 30 staf kepelatihan beserta keluarga mereka ke Spanyol, setelah klub menolak untuk menyediakan tiket gratis. Situasi ini menunjukkan betapa sulitnya keadaan yang dihadapi oleh klub saat ini.
Sumber: Dailymail