Tidak Jodoh, Rahmad Darmawan Ungkap 4 Kali Gagal Hampir Melatih Persib, Kok Bisa?

Rahmad Darmawan mengungkapkan bahwa ia hampir melatih Persib sebanyak empat kali, namun sepertinya belum ada kesempatan yang tepat.

Vincentius Atmaja
Oleh Vincentius Atmaja - Reporter
Tidak Jodoh, Rahmad Darmawan Ungkap 4 Kali Gagal Hampir Melatih Persib, Kok Bisa?
Pelatih kepala Barito Putera, Rahmad Darmawan saat laga lanjutan BRI Liga 1 2023/2024 antara Persija Jakarta melawan Barito Putera di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Sabtu (07/10/2023 (Pelatih kepala Barito Putera, Rahmad Darmawan saat laga lanjutan BRI Liga 1 2023/2024 antara Persija Jakarta melawan Barito Putera di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Sabtu (07/10/2023)

Rahmad Darmawan dikenal luas di kalangan penggemar sepak bola di Indonesia. Sebagai pelatih yang memiliki banyak pengalaman dan prestasi yang membanggakan, pelatih asal Lampung ini telah menangani berbagai tim besar di tanah air, termasuk Persija Jakarta, Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, dan Arema, serta timnas Indonesia U-23. Salah satu prestasi gemilangnya adalah membawa Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC meraih gelar juara Liga Indonesia. Selain itu, ia juga berhasil meraih Piala Indonesia sebanyak tiga kali bersama Sriwijaya FC.

Menariknya, Rahmad Darmawan memiliki kisah unik terkait karirnya yang telah melibatkan 12 klub berbeda di Indonesia. Namun, ada satu klub yang tidak pernah ia tangani, yaitu Persib Bandung. Ia mengungkapkan bahwa ia telah hampir mendapatkan kesempatan untuk melatih tim yang dijuluki Maung Bandung tersebut sebanyak empat kali. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan Rahmad dengan dunia sepak bola Indonesia meskipun belum pernah berkarier di klub tersebut.

Rahmad Darmawan mengungkapkan bahwa ia hampir menjadi pelatih Persib pada tahun 2011. Namun, kesempatan tersebut tidak terwujud karena ia ditunjuk sebagai pelatih Timnas Indonesia U-23 untuk ajang SEA Games. "Waktu itu saya sudah agreement dengan manajemen Persib, bahkan sudah terima DP. Ketika sudah oke, tanda tangan kontrak, tapi di dalam klausul kontrak itu memang tertulis apabila PSSI menginginkan tenaga yang bersangkutan menjadi salah satu bagian pengurus PSSI maka kontrak gugur demi hukum," jelas pelatih berusia 58 tahun itu dalam sebuah wawancara di kanal Youtube Bicara Bola by Akmal.

Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa setelah mengetahui situasi tersebut, ia segera menemui Pak Umuh Muchtar di Solo untuk mengembalikan uang muka sambil meminta maaf. "Di 2013, kejadiannya juga sama. Saya batal ke Persib karena dipanggil ke Timnas Indonesia," tuturnya. Pengalaman ini menunjukkan betapa sulitnya bagi seorang pelatih untuk mengambil keputusan ketika ada panggilan dari tim nasional, meskipun sudah memiliki komitmen dengan klub lain.

Momen kegagalan selanjutnya bagi pelatih yang akrab disapa RD terjadi pada musim 2015, ketika ia kembali tidak berjodoh dengan Persib. Sebelumnya, pada tahun 2014, ia melatih Persija dan kemudian beralih ke klub Liga Malaysia, Terengganu FC. Dalam situasi yang mirip, RD sudah menjalin komunikasi dengan klub Malaysia tersebut saat Persib datang dan menunjukkan ketertarikan untuk merekrutnya.

"Ada satu momen sebelum saya ke Malaysia, saya sudah ketemu dengan petinggi Persib. Memang momennya tidak tepat, walau sudah buat agreement. Saya bilang saya enggak bersedia karena ada beberapa pertimbangan yang waktu itu sangat saya tidak etis karena ada kolega dan sebagainya, akhirnya saya pikir-pikir nanti saja," ungkap Rahmad Darmawan.

Setelah memutuskan untuk berangkat ke Malaysia, RD kembali ke tanah air dan hampir mendapatkan kesempatan untuk melatih Persib. Namun, ia harus menerima kenyataan bahwa itu bukan jodohnya.

"Akhirnya, saya berangkat ke Malaysia. Pulang dari Malaysia itu, terakhir saya hampir lagi dengan Persib, tapi kembali lagi bukan jodoh. Bahkan saya ingat cerita dari Aliyudin gabung ke Persib karena mau ngikut, tapi saya yang enggak jadi melatih di sana," kenang RD dengan rasa nostalgia.

Pengalaman ini menunjukkan betapa sulitnya perjalanan karier seorang pelatih, di mana banyak faktor yang memengaruhi keputusan dan kesempatan yang ada.

Saat ini, RD tidak memiliki klub setelah meninggalkan Barito Putera pada 23 Januari 2025. Ia mengamati fenomena di mana pelatih asing mendominasi BRI Liga 1 dan berpendapat bahwa pelatih lokal seharusnya tidak merasa inferior dalam bersaing dengan mereka. Menurutnya, pelatih lokal memiliki potensi yang besar untuk menunjukkan kemampuan mereka.

"Di Liga 1, kesempatan untuk pelatih asing lebih besar. Ada pelatih asing yang sudah beberapa kali degradasi, tapi masih dipercaya. Sementara, pelatih lokal kalau sudah sekali jatuh, susah dapat pekerjaan lagi," beber Rahmad Darmawan.

RD juga menyatakan kebahagiaannya melihat banyak pelatih muda yang menjanjikan, seperti Nova Arianto dan Bima Sakti. Ia menambahkan bahwa bahkan ada beberapa pelatih yang berhasil melanjutkan karier mereka di luar negeri.

"Sekarang, saya senang melihat ada banyak pelatih muda potensial seperti Nova Arianto dan Bima Sakti. Bahkan, ada beberapa pelatih yang bekerja di luar negeri," ucapnya. Dengan semangat ini, RD berharap pelatih lokal dapat lebih dihargai dan mendapatkan kesempatan yang lebih baik di liga domestik.

Sumber: Kanal Youtube Bicara Bola by Akmal

Rekomendasi