Dunia sepak bola profesional di Indonesia tampaknya selalu berkaitan erat dengan fenomena tarkam. Meskipun banyak risiko yang mengancam, sejumlah pesepak bola di Tanah Air tetap tergoda untuk terlibat. Hingga kini, masih banyak pemain profesional yang berpartisipasi dalam laga-laga tarkam atau antarkampung.
Berbagai alasan mendorong mereka untuk menerima tawaran bermain di level amatir ini. Selain iming-iming bayaran per pertandingan yang menarik, mereka sering kali berdalih bahwa mereka ingin "menjaga kebugaran" saat bermain di tarkam.
Biasanya, acara-acara seperti ini berlangsung saat kompetisi resmi sedang jeda. Di sisi lain, bagi masyarakat, kehadiran pesepak bola terkenal menjadi daya tarik tersendiri. Mereka memiliki kesempatan langka untuk melihat pemain-pemain nasional secara lebih dekat dari pinggir lapangan. Namun, sebenarnya, para pemain tersebut berisiko menghadapi cedera yang bisa terjadi kapan saja.
Selain itu, ada juga yang mendapatkan sanksi dari Komisi Disiplin PSSI akibat terlibat dalam tawuran. Berikut Bola.com menyajikan ulasan mengenai mereka yang menjadi "korban" tarkam.
Advertisement
Tahun lalu, tepatnya pada bulan Juli 2024, Ilham Ramadhani, seorang pemain muda yang bermain untuk Gresik United di Liga 2 2023/2024, mengalami tragedi setelah bertanding dalam pertandingan tarkam di kota asalnya. Menurut laporan dari beberapa media lokal, pertandingan tersebut berlangsung di Lapangan Sumput yang terletak di Kecamatan Driyorejo, Gresik.
Saat itu, Ilham yang bermain untuk Persido Sidowungu mengalami cedera serius berupa patah tulang pada kakinya. Insiden ini terjadi ketika dia berusaha membuang bola dari area pertahanan, namun tiba-tiba datang pemain dari tim BMW Waru Gunung, Supaham, yang mengganjal kakinya.
Supaham bukanlah sosok yang asing dalam dunia sepak bola. Penyerang yang berasal dari Persebaya ini pernah memperkuat beberapa tim besar, termasuk Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Persija Jakarta, dan Persita Tangerang.
Akibat tindakan Supaham, Ilham mengalami patah tulang pada kaki kanannya yang mengharuskannya menjalani operasi. Cedera ini sangat berdampak pada kariernya, mengingat saat itu dia sedang bersiap untuk menandatangani kontrak dengan Persikas Subang untuk berlaga di Liga 2024/2025.
Advertisement
Zulham Zamrun, winger Timnas Indonesia, pernah mengalami pahitnya risiko bermain di turnamen tarkam saat masih aktif sebagai pemain. Insiden tersebut membuatnya harus absen cukup lama karena mengalami cedera serius. Kejadian itu berlangsung saat Zulham berpartisipasi dalam ajang Habibie Cup bersama Persipare Parepare pada November 2015. Sayangnya, ia divonis menderita cedera anterior cruciate ligament (ACL) setelah diterjang oleh pemain Gasma Erekang, Ahmad Hisyam Tolle.
Hisyam Tolle bukanlah sosok yang asing di dunia sepak bola. Ia dikenal sebagai pemain yang "ganas" di lapangan. Bahkan, bek asal Ujung Pandang ini pernah mendapatkan sanksi dari Komdis PSSI berupa larangan bermain selama lima tahun karena menendang pemain lawan dan mengintimidasi wartawan. Cedera ACL yang dialami Zulham membuatnya, yang saat itu memperkuat Persib Bandung, harus menjalani operasi. Ia harus melewati masa pemulihan selama enam bulan sebelum bisa kembali merumput.
Situasi yang dihadapi Zulham pada waktu itu memang cukup rumit. Sanksi yang dijatuhkan FIFA kepada PSSI menyebabkan tidak adanya kompetisi reguler di Indonesia. Para pemain pun terpaksa mencari alternatif untuk mendapatkan penghasilan. Mengikuti tarkam menjadi salah satu pilihan yang harus diambil, meskipun harus menghadapi risiko yang bisa merugikan.
Advertisement
Dunia sepak bola Indonesia pernah dikejutkan oleh insiden kericuhan yang terjadi dalam sebuah pertandingan tarkam. Pertandingan tersebut melibatkan sejumlah pemain profesional, termasuk mereka yang pernah membela Timnas Indonesia.
Kejadian ini berlangsung di Lapangan Pule, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada hari Minggu, 2 Juni 2024. Dalam laga tersebut, terjadi insiden pengeroyokan terhadap wasit yang memimpin pertandingan. Tujuh pemain yang terlibat dalam insiden ini antara lain Bayu Pradana (Barito Putera), Komarudin (Persikabo 1973), Ilham Mahendra (Barito Putera), Hery Susanto (Eks Persita Tangerang), Heru Setyawan (Eks Kalteng Putra), Khrisna Sulistya (PSIM Yogyakarta), dan Wahyu Wijiastanto (Eks Timnas Indonesia).
Akibat dari insiden tersebut, para pemain yang terlibat menerima sanksi yang bervariasi. Bayu Pradana, yang merupakan mantan gelandang Timnas Indonesia, dijatuhi hukuman oleh Komisi Disiplin PSSI Jawa Tengah berupa larangan bermain selama enam bulan serta denda sebesar Rp50 juta.
Di sisi lain, Heru Setiawan (PSKC Cimahi), Komarudin (Persekat Tegal), Ilham Zusril Mahendra (Barito Putera), Krisna Jhon (PSIM Yogyakarta), dan Wahyu Hendra Pambudi (Kalteng Putra) juga menerima sanksi empat bulan dan denda Rp20 juta. Sementara itu, Heri Susanto (Persita Tangerang) mendapatkan hukuman lima bulan dan denda Rp30 juta. Publik pun memberikan kritik tajam terhadap tindakan mereka yang dianggap melanggar norma saat bermain tarkam.