Sejarah mencatat timnas Indonesia pernah mempunyai pemain hebat di era 1960-an yang tidak kalah dengan legenda sepak bola dunia dari Brasil yaitu Pele.
Dialah Abdul Kadir yang terkenal dengan julukannya 'Si Kancil' berkat kelincahannya mengolah bola.
Dengan tinggi tubuhnya yang hanya 160 sentimeter, Abdul Kadir adalah pencetak gol pertama Timnas Indonesia melawan Australia dalam sejarah. Gol ini tercipta pada pertandingan persahabatan yang berlangsung pada 20 November 1967 di Jakarta. Dalam laga tersebut, Indonesia kalah dengan skor 1-3 dari Australia, tetapi Abdul Kadir mencatatkan namanya sebagai pemain pertama dari Timnas Indonesia yang berhasil menjebol gawang Australia.
Pria kelahiran Denpasar, 27 Desember 1948 itu memulai debutnya di Timnas PSSI ketika usianya masih sangat belia yaitu 16 tahun. Abdul Kadir sudah ditarik masuk Timnas tampil di Ganefo (sekarang Asian Games) di Pyongyang pada 1964.
Advertisement
Abdul Kadir mulai mencuat namanya pada era 1964. Berkat kelincahan yang tinggi meski bertubuh mungil, dia kemudian menjadi langganan tim nasional hingga 1979. Menurut rekan seangkatannya M Basri, Abdul Kadir telah membuktikan kepada dunia olahraga bahwa postur tubuh bukan merupakan ukuran yang pasti tentang kemampuan seorang atlet berprestasi.
Bersama dengan Soetjipto Soentoro, Max Timisela, Iswadi Idris, dan Jacob Sihasale, ia terpilih sebagai pemain Asia All Stars pada tahun 1966-1970. Mereka adalah kuartet tercepat di Asia pada saat itu.
Abdul Kadir memiliki teknik sepak bola yang sangat tinggi, bahkan tidak kalah dibandingkan pemain dunia saat itu seperti Pele. Maha bintang sepak bola asal Brasil itu pernah bermain di Stadion Dtama Senayan bersama klub Santos, Juni 1972 dan sedang berada di puncak kejayaannya setelah membawa Brasil memenangi Piala Dunia 1970.
Advertisement
Sesudah pertandingan persahabatan yang dimenangi Santos 3-2, Pele diundang ke TVRI untuk melakukan akrobat bola. Pemain nasional yang diminta mendampingi Pele adalah Abdul Kadir.
Pertandingan persahabatan melawan Australia kala itu menjadi catatan awal dari sejarah pertemuan kedua tim, yang kemudian berlanjut dengan berbagai hasil, meskipun Indonesia jarang meraih kemenangan atas Australia. Gol Abdul Kadir tersebut menjadi simbol perlawanan awal Indonesia melawan tim yang kelak menjadi salah satu kekuatan besar di sepak bola Asia.
Abdul Kadir dikenal memiliki karakter yang unik dan mengesankan, baik di dalam maupun di luar lapangan:
Kadir memiliki postur tubuh kecil tetapi sangat gesit, yang membuatnya sulit dihentikan oleh bek lawan. Ia sering disebut "Si Kancil" karena kemampuannya mengelabui lawan dengan dribel cepat dan insting tajam di depan gawang.
Advertisement
Tekniknya yang mumpuni dan kecepatannya menjadikannya penyerang yang ditakuti, bahkan saat menghadapi tim-tim internasional yang lebih kuat secara fisik.
Abdul Kadir juga menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah tim nasional Indonesia, dengan total 70 gol dari 111 pertandingan antara tahun 1967 hingga 1979.
Dia juga pernah menjadi saksi sejarah ketika tim Indonesia secara mengejutkan kalah dalam babak penyisihan grup Kualifikasi Olimpiade München 1972 di Rangoon. Ketika itu, Indonesia memang tim yang sangat diunggulkan. Presiden FIFA ketika itu juga mengakui bahwa pemain timnas Yudo Hadianto dan Abdul Kadir termasuk pemain yang sudah berkelas dunia.
Meskipun menjadi bintang besar, Kadir dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. Ia tidak pernah sombong dengan prestasinya dan selalu menunjukkan sikap hormat kepada rekan setim, lawan, dan suporter.
Abdul Kadir meninggal pada 4 April 2003 dalam usia 54 tahun.
Advertisement
Banyak rekan sesama pemain yang mengenangnya sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul, jauh dari kesan arogan yang kadang melekat pada atlet berprestasi. Bahkan nama Abdul Kadir juga diabadikan dalam sebuah lagu P-Project berjudul Kop And Headen yang dirilis pada 1994, berikut lirik lagu itu:
Semenjak zamannya Maladi
Hingga ke zaman Ronny Patinasarany
Mereka berjuang demi negeri
Untuk satu nama PSSI
Namun kini zamannya tlah berganti
Pemain seringnya malah berkelahi
Permainan sudah tidak fair lagi
Hanya jadi ajang bela diri
Reff 1:
Sadarilah bila bermain bola
Lawan jangan cedera
Sadarilah bila dia sengsara
Kita jadi bikin dosa
Wasit ada di posisi yang rumit
Karena keputusannya yang sulit
Tak heran pemain banyak yang berkelit
Mengejar wasit terbirit-birit
Reff 2:
Sadarilah bila disepak bola
Ingat aturannya
Sadarilah bila disepak bola
Wasit berkuasa
Ayo maju mencetak gol harus jitu nendang jangan ragu
Oper sana oper sini awas kena penalti
Penontonpun harus sadar diri
Berikanlah dukungan yang berarti
Dan junjunglah sportivitas yang tinggi
Menuju sepak bola prestasi
Reff 3:
Sadarilah bila penonton tertib
Kitapun gembira
Sadarilah bila penonton tertib
Bukan cari gara-gara
Ruud Gulit Van Basten dan Maradona
Contoh pemain klas dunia yang tlah ternama
Sucipto Suntoro Anjas Asmara
Nobon Oyong Liza Ronny Paslah semua pernah jaya
Kang Jajang kang Asep kang Tata Bu Yati mereka bukan pemain bola atuh,
Mereka itu keluarga saya semua
Paling top adalah Abdul Kadir
Mencetak gol dari pinggir kipernyapun terjungkir
Menahan tendangan bagaikan petir
Jala terkoyak penonton bersorak kiper terkilir
Mereka harus ditiru sepak bola harus fair play.....