Ini Sosok Pemain Timnas Indonesia yang Pertama Kali Menjebol Gawang Australia, Pernah Disejajarkan dengan Pele

Dia mencetak gol dalam laga persahabatan melawan Australia di Jakarta pada 20 November 1967.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Ini Sosok Pemain Timnas Indonesia yang Pertama Kali Menjebol Gawang Australia, Pernah Disejajarkan dengan Pele
abdul kadir (wikipedia)

Sejarah mencatat timnas Indonesia pernah mempunyai pemain hebat di era 1960-an yang tidak kalah dengan legenda sepak bola dunia dari Brasil yaitu Pele.

Dialah Abdul Kadir yang terkenal dengan julukannya 'Si Kancil' berkat kelincahannya mengolah bola.

Dengan tinggi tubuhnya yang hanya 160 sentimeter, Abdul Kadir adalah pencetak gol pertama Timnas Indonesia melawan Australia dalam sejarah. Gol ini tercipta pada pertandingan persahabatan yang berlangsung pada 20 November 1967 di Jakarta. Dalam laga tersebut, Indonesia kalah dengan skor 1-3 dari Australia, tetapi Abdul Kadir mencatatkan namanya sebagai pemain pertama dari Timnas Indonesia yang berhasil menjebol gawang Australia.

Pria kelahiran Denpasar, 27 Desember 1948 itu memulai debutnya di Timnas PSSI ketika usianya masih sangat belia yaitu 16 tahun. Abdul Kadir sudah ditarik masuk Timnas tampil di Ganefo (sekarang Asian Games) di Pyongyang pada 1964.

Abdul Kadir mulai mencuat namanya pada era 1964. Berkat kelincahan yang tinggi meski bertubuh mungil, dia kemudian menjadi langganan tim nasional hingga 1979. Menurut rekan seangkatannya M Basri, Abdul Kadir telah membuktikan kepada dunia olahraga bahwa postur tubuh bukan merupakan ukuran yang pasti tentang kemampuan seorang atlet berprestasi.

Bersama dengan Soetjipto Soentoro, Max Timisela, Iswadi Idris, dan Jacob Sihasale, ia terpilih sebagai pemain Asia All Stars pada tahun 1966-1970. Mereka adalah kuartet tercepat di Asia pada saat itu.

Abdul Kadir memiliki teknik sepak bola yang sangat tinggi, bahkan tidak kalah dibandingkan pemain dunia saat itu seperti Pele. Maha bintang sepak bola asal Brasil itu pernah bermain di Stadion Dtama Senayan bersama klub Santos, Juni 1972 dan sedang berada di puncak kejayaannya setelah membawa Brasil memenangi Piala Dunia 1970.

Sesudah pertandingan persahabatan yang dimenangi Santos 3-2, Pele diundang ke TVRI untuk melakukan akrobat bola. Pemain nasional yang diminta mendampingi Pele adalah Abdul Kadir.

Pertandingan persahabatan melawan Australia kala itu menjadi catatan awal dari sejarah pertemuan kedua tim, yang kemudian berlanjut dengan berbagai hasil, meskipun Indonesia jarang meraih kemenangan atas Australia. Gol Abdul Kadir tersebut menjadi simbol perlawanan awal Indonesia melawan tim yang kelak menjadi salah satu kekuatan besar di sepak bola Asia.

Abdul Kadir dikenal memiliki karakter yang unik dan mengesankan, baik di dalam maupun di luar lapangan:

Kadir memiliki postur tubuh kecil tetapi sangat gesit, yang membuatnya sulit dihentikan oleh bek lawan. Ia sering disebut "Si Kancil" karena kemampuannya mengelabui lawan dengan dribel cepat dan insting tajam di depan gawang.

Tekniknya yang mumpuni dan kecepatannya menjadikannya penyerang yang ditakuti, bahkan saat menghadapi tim-tim internasional yang lebih kuat secara fisik.

Abdul Kadir juga menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah tim nasional Indonesia, dengan total 70 gol dari 111 pertandingan antara tahun 1967 hingga 1979. ​

Dia juga pernah menjadi saksi sejarah ketika tim Indonesia secara mengejutkan kalah dalam babak penyisihan grup Kualifikasi Olimpiade München 1972 di Rangoon. Ketika itu, Indonesia memang tim yang sangat diunggulkan. Presiden FIFA ketika itu juga mengakui bahwa pemain timnas Yudo Hadianto dan Abdul Kadir termasuk pemain yang sudah berkelas dunia.

Meskipun menjadi bintang besar, Kadir dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. Ia tidak pernah sombong dengan prestasinya dan selalu menunjukkan sikap hormat kepada rekan setim, lawan, dan suporter.

Abdul Kadir meninggal pada 4 April 2003 dalam usia 54 tahun.

Banyak rekan sesama pemain yang mengenangnya sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul, jauh dari kesan arogan yang kadang melekat pada atlet berprestasi. Bahkan nama Abdul Kadir juga diabadikan dalam sebuah lagu P-Project berjudul Kop And Headen yang dirilis pada 1994, berikut lirik lagu itu:

Semenjak zamannya Maladi

Hingga ke zaman Ronny Patinasarany

Mereka berjuang demi negeri

Untuk satu nama PSSI

Namun kini zamannya tlah berganti

Pemain seringnya malah berkelahi

Permainan sudah tidak fair lagi

Hanya jadi ajang bela diri

Reff 1:

Sadarilah bila bermain bola

Lawan jangan cedera

Sadarilah bila dia sengsara

Kita jadi bikin dosa

Wasit ada di posisi yang rumit

Karena keputusannya yang sulit

Tak heran pemain banyak yang berkelit

Mengejar wasit terbirit-birit

Reff 2:

Sadarilah bila disepak bola

Ingat aturannya

Sadarilah bila disepak bola

Wasit berkuasa

Ayo maju mencetak gol harus jitu nendang jangan ragu

Oper sana oper sini awas kena penalti

Penontonpun harus sadar diri

Berikanlah dukungan yang berarti

Dan junjunglah sportivitas yang tinggi

Menuju sepak bola prestasi

Reff 3:

Sadarilah bila penonton tertib

Kitapun gembira

Sadarilah bila penonton tertib

Bukan cari gara-gara

Ruud Gulit Van Basten dan Maradona

Contoh pemain klas dunia yang tlah ternama

Sucipto Suntoro Anjas Asmara

Nobon Oyong Liza Ronny Paslah semua pernah jaya

Kang Jajang kang Asep kang Tata Bu Yati mereka bukan pemain bola atuh,

Mereka itu keluarga saya semua

Paling top adalah Abdul Kadir

Mencetak gol dari pinggir kipernyapun terjungkir

Menahan tendangan bagaikan petir

Jala terkoyak penonton bersorak kiper terkilir

Mereka harus ditiru sepak bola harus fair play.....

Rekomendasi