Strategi Menko Airlangga Kendalikan Rupiah di Tengah Penurunan Nilai Tukar Terhadap Dolar AS
Menko Airlangga menjelaskan salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah meningkatnya permintaan dolar AS pembayaran dividen.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga stabilitas rupiah.
Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap dolar AS meningkat pada waktu-waktu tertentu, terutama saat musim ibadah haji, di mana kebutuhan masyarakat terhadap valuta asing, termasuk dolar AS, meningkat. Selain itu, pembayaran dividen dari beberapa perusahaan juga turut menyumbang pada kenaikan permintaan dolar AS.
Airlangga menambahkan bahwa pemerintah selalu memantau dinamika ini, termasuk membandingkan pergerakan mata uang di berbagai negara untuk menentukan apakah tekanan yang terjadi bersifat global atau domestik.
"Jadi nanti kita juga akan monitor kebutuhan tersebut dan juga biasanya pada kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen jadi demand terhadap dolar AS tinggi dan kita lihat tetap monitor bagaimana dengan negara-negara lain," ujarnya.
Untuk mengatasi gejolak nilai tukar rupiah, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif, salah satunya melalui kerja sama pertukaran mata uang atau currency swap dengan negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
Di samping itu, pemerintah juga tengah mengkaji strategi pembiayaan yang lebih beragam, termasuk kemungkinan penerbitan surat berharga dalam denominasi mata uang selain dolar AS, seperti Yuan dan Yen. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
Airlangga menegaskan bahwa semua upaya ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga keseimbangan eksternal dan memastikan volatilitas rupiah tetap terkendali.
"Sehingga berharap nanti ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat hutang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari China ataupun dari Yen itu untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS," tuturnya.
Nilai Rupiah Sentuh Rp 17.400
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) akhirnya memberikan tanggapan terkait penurunan nilai rupiah yang kini telah menembus angka Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS). BI menekankan bahwa pergerakan nilai rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang dari negara berkembang lainnya.
Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, menyatakan bahwa BI terus berupaya untuk hadir di pasar guna memastikan bahwa mekanisme pasar berfungsi dengan baik, sehingga stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga sesuai dengan nilai fundamentalnya.
"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," kata Erwin dalam keterangan resmi BI pada Selasa (5/5).
Menurut BI, rupiah tidak mengalami pelemahan secara terpisah. Nilai tukar mata uang negara tetangga juga mengalami penurunan, seperti Philippine Peso yang melemah sebesar 6,58%, Thailand Baht yang turun 5,04%, dan India Rupee yang melemah 4,32%.
Selain itu, Chile Peso juga mengalami penurunan sebesar 4,24%, diikuti oleh Indonesia Rupiah yang melemah 3,65%, dan Korea Won yang turun 2,29%. Erwin menambahkan bahwa Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Langkah-langkah ini diambil secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih berlanjut. "Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," pungkasnya.
Bantah Isu Fiskal Tak Stabil jadi Penyebab
Isu tentang pelemahan rupiah yang dikaitkan dengan kondisi fiskal Indonesia mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyatakan bahwa pandangan tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh data, terutama ketika mempertimbangkan kekuatan fundamental ekonomi nasional, termasuk ketahanan energi.
Purbaya menegaskan bahwa dalam konteks global yang penuh tekanan, Indonesia justru berada dalam posisi yang relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Ia merujuk pada sejumlah kajian internasional yang menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam jajaran teratas ketahanan energi saat menghadapi potensi krisis global.
“Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah. Maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah nanti tanya BI ya, jangan tanya saya, mereka yang berhak menjawab. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers, Selasa (5/5).
Ia juga membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara besar lainnya, yang menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi domestik masih solid di tengah risiko global.
“Itu nomor dua tuh. Perbandingan ketahanan energi terhadap krisis energi global. Kalau ada krisis global, Kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain,” ujarnya.
Lebih lanjut, Purbaya membantah narasi yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1998. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini justru masih berada dalam fase ekspansi dan akselerasi, berbeda jauh dengan kondisi resesi yang terjadi sebelum krisis 1998.
Ia mengingatkan agar publik tidak terjebak pada spekulasi yang tidak berbasis data, serta menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tetap stabil dan terkendali.