Rupiah Tertekan hingga Rp17.870, Ekonom Nilai BI Kewalahan Stabilkan Rupiah
Pada perdagangan hari ini, rupiah disebut telah melemah sekitar 70 poin ke level Rp17.870 per dolar Amerika Serikat (AS).
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dinilai semakin berat di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang terus membebani pasar keuangan Indonesia.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi bahkan menilai upaya intervensi Bank Indonesia (BI) saat ini belum cukup kuat untuk menahan pelemahan rupiah.
"Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi hanya di pasar internasional kekuatan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi ini sudah sekuat mungkin tetapi kita harus tahu bahwa kekuatan eksternal dan internal ini cukup besar ya wajar kalau seandainya rupiah mengalami pelemahan," kata Ibrahim kepada Media, Kamis (28/5).
Pada perdagangan hari ini, rupiah disebut telah melemah sekitar 70 poin ke level Rp17.870 per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan hingga penutupan pasar, rupiah diperkirakan masih berpotensi turun menuju Rp17.900 per dolar AS.
"Hari ini cukup luar biasa terhadap pelemahan mata uang rupiah. Saat saya membuat satu tulis ini, rupiah sudah melemah 70 poin, yaitu di Rp17.870. Kemungkinan besar 100 poin rupiah akan melemah bisa saja dalam perdagangan di sampai sore ini rupiah akan melemah di Rp17.900," jelasnya.
Ibrahim mengatakan tekanan terhadap rupiah kali ini tergolong sangat besar karena datang dari dua sisi sekaligus, yakni faktor eksternal akibat geopolitik global dan faktor internal dari kondisi ekonomi domestik.
Konflik Global Bikin Dolar AS Perkasa
Menurut Ibrahim, faktor eksternal menjadi penyebab utama derasnya tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur disebut membuat investor global memburu dolar AS sebagai aset aman.
Soroti Serangan AS
Ia menyoroti serangan Amerika Serikat terhadap instalasi di Iran Selatan yang dinilai berpotensi memicu perang lebih luas di kawasan tersebut. Situasi diperparah dengan ancaman Amerika terhadap Oman serta meningkatnya aktivitas militer di wilayah Israel.
"Kemudian di Eropa sendiri kita melihat bahwa ibu kota Ukraina Kiev hancur lebur oleh penyerangan oleh Rusia. Yang kita tahu bahwa Rusia membombardir ibu kota Ukraina dikarenakan Ukraina melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah strategis di Rusia," pungkasnya.