Produsen Tahu Tempe Jateng Tertekan Harga Kedelai, Gubernur Ahmad Luthfi Kasih Respons Begini
Pengrajin tempe dan tahu mendorong swasembada kedelai.
Harga kedelai yang terus merangkak naik dalam dua bulan terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan produsen tahu dan tempe di Jawa Tengah. Pasalnya, harga bahan baku utama produk legendaris rakyat ini kini hampir menembus Rp10.000 per kilogram.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tergabung dalam Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jawa Tengah. Mereka menyebut, lonjakan harga kedelai tak lepas dari gejolak global, khususnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
"Impor kedelai kita itu 90 persen dari Amerika. Tapi sekarang karena China menolak beli kedelai dari AS, dampaknya terasa ke kita. Biasanya kita nitip jalur pengangkutan via China, lalu Singapura, baru ke Indonesia," ujar Ketua Kopti Jateng, Sutrisno Supriantoro, saat ditemui pada Sabtu (10/5).
Harga kedelai yang sebelumnya berkisar Rp8.000 kini mendekati Rp10.000, dan kondisi itu dikhawatirkan akan terus memburuk tanpa intervensi pemerintah. Sutrisno menyampaikan kegelisahan ini kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan meminta agar pemerintah pusat segera turun tangan.
"Kami berharap ada solusi jangka panjang. Tidak hanya soal harga, tapi juga bagaimana Indonesia bisa mandiri dalam produksi kedelai,” tambahnya.
Respons Gubermur Jateng
Respon atas keluhan tersebut datang dari Gubernur Ahmad Luthfi, yang menyatakan bahwa tata niaga kedelai merupakan wewenang pemerintah pusat. Meski begitu, pihaknya siap menjembatani komunikasi antara pelaku usaha dan kementerian terkait.
"Kita tetap akan dorong agar ada kreativitas lokal. Koperasi seperti Kopti harus terus eksis, dan salah satu caranya adalah dengan membangun kemandirian bahan baku,” ujar Luthfi.
Ia pun menyetujui bahwa potensi produksi kedelai lokal di Jawa Tengah masih sangat terbuka lebar. Daerah seperti Grobogan, Wonogiri, Cilacap, Kebumen, hingga Purworejo disebut memiliki lahan yang cocok untuk budidaya kedelai.
Dukungan juga disampaikan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, yang menjelaskan bahwa meski harga kedelai naik, masih belum melebihi Harga Acuan Pemerintah (HAP) yaitu Rp12.000 per kilogram. Maka dari itu, Pemprov belum dapat memberikan subsidi secara langsung.
“Saat ini rata-rata harga kedelai di angka Rp11.100, masih di bawah HAP. Jadi belum bisa kita intervensi lewat subsidi,” jelasnya.