Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Tak Mampu Angkat Rupiah dari Tekanan, Pengamat Beri Penjelasan Begini
Pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya menjadi sentimen positif bagi mata uang suatu negara. Namun kali ini, rupiah justru bergerak berlawanan arah.
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (12/5). Pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah telah menembus Rp17.510 per USD berdasarkan data wise.com.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang justru tercatat cukup tinggi, yakni sebesar 5,61 persen.
"Saya melihat bahawa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang begitu besar di 5,61 persen tidak serta-merta bisa membuat ekonomi membaik. Tidak serta-merta bisa membuat rupiah mengalami penguatan," kata Ibrahim kepada Media, Selasa (12/5).
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di pasar. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya menjadi sentimen positif bagi mata uang suatu negara. Namun kali ini, rupiah justru bergerak berlawanan arah.
Ia menilai, tingginya pertumbuhan ekonomi belum cukup untuk menopang penguatan rupiah karena struktur pertumbuhan masih belum berkualitas dan dibayangi tekanan global.
Ibrahim menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama tahun ini memang terlihat tinggi. Namun, pembentukan pertumbuhan tersebut lebih banyak berasal dari konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah.
Menurutnya, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi masih relatif kecil, sehingga belum mampu memberikan kepercayaan besar bagi investor pasar keuangan.
"Karena pembentukan dari pertumbuhan ekonomi kuartal pertama itu adalah dari konsumsi masyarakat kemudian dan belanja negara. Itu yang membuat sehingga tidak berdampak terhadap investasi. Walaupun investasi mengalami kenaikan, prosentasenya sangat kecil sekali," ujarnya.
Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Dunia Tekan Kurs Rupiah
Di sisi eksternal, Ibrahim menilai memanasnya konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat menolak proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
Meski perang disebut mulai mereda, serangan-serangan kecil di Selat Hormuz disebut masih terus berlangsung. Bahkan, aksi saling serang antara Iran dan pasukan AS dinilai masih memicu kekhawatiran pasar global.
Situasi semakin memanas setelah Uni Emirat Arab disebut tetap melakukan serangan terhadap Iran, termasuk serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April lalu.
Kondisi tersebut membuat indeks dolar AS kembali menguat karena investor memburu aset safe haven. Di saat yang sama, harga minyak mentah BRENT juga mengalami kenaikan signifikan.
"Nah, ini yang membuat indeks dolar kembali lagi mengalami penguatan yang cukup signifikan, sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah terutama dalam BRENT crude oil," pungkasnya.