Pelemahan Rupiah: Ketegangan Geopolitik dan Defisit APBN Bayangi Ekonomi Nasional
Pelemahan Rupiah terus berlanjut di tengah ketidakpastian perang Iran-AS-Israel dan kekhawatiran defisit APBN 2026, memicu pelaku pasar menghindari aset berisiko.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat pagi, bergerak melemah signifikan. Mata uang Garuda tercatat melemah 30 poin atau 0,18 persen, mencapai level Rp16.923 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya yang berada di Rp16.893 per dolar AS.
Kondisi ini dipicu oleh dua faktor utama yang saling berkaitan: ketidakpastian geopolitik global dan tekanan dari sisi domestik. Konflik yang belum mereda antara Iran melawan AS-Israel menjadi sentimen negatif utama di pasar keuangan internasional.
Di sisi lain, kekhawatiran pelaku pasar terhadap defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) juga turut memberikan tekanan. Kenaikan subsidi akibat lonjakan harga minyak serta isu disiplin fiskal pemerintah menjadi sorotan utama.
Dampak Ketidakpastian Geopolitik Global terhadap Pelemahan Rupiah
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan yang berlarut-larut antara Iran melawan AS-Israel membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko (risk off).
Perilaku risk off ini secara langsung menyebabkan peningkatan indeks dolar AS, karena investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan jual yang cukup besar.
Situasi geopolitik ini semakin memanas dengan pernyataan dari Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ari Larijani, pada Kamis (12/3). Ia menegaskan bahwa Iran akan membuat Presiden AS Donald Trump membayar atas agresi terhadap negaranya.
Trump sendiri pada Rabu (11/3) sempat mengancam akan menghancurkan kapasitas listrik Iran dalam waktu satu jam, meskipun berharap langkah tersebut tidak perlu dilakukan. Pernyataan-pernyataan keras dari kedua belah pihak ini terus menciptakan volatilitas di pasar global.
Tekanan Domestik: Kekhawatiran Defisit Anggaran dan Harga Minyak
Selain faktor global, sentimen domestik juga berkontribusi pada pelemahan rupiah. Rully Nova menyoroti kekhawatiran pelaku pasar terhadap defisit anggaran yang diproyeksikan.
Defisit ini diperkirakan meningkat akibat kenaikan subsidi yang dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia. Isu disiplin fiskal pemerintah juga menjadi perhatian serius bagi investor.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 mencatatkan defisit 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau senilai Rp135,7 triliun per akhir Februari 2026.
Secara keseluruhan, APBN 2026 diproyeksikan mengalami defisit yang lebih besar, mencapai Rp698,15 triliun, atau setara 2,68 persen terhadap PDB. Angka ini menunjukkan tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global dan domestik.
Sumber: AntaraNews