Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bisa Tembus Rp18.000 per USD, Ini Sejumlah Penyebabnya
Pelemahan mata uang rupiah dipicu kombinasi sentimen global yang memburuk, lonjakan harga minyak dunia, hingga terbatasnya ruang intervensi.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) atau USD dalam waktu dekat.
Pelemahan mata uang rupiah dipicu kombinasi sentimen global yang memburuk, lonjakan harga minyak dunia, hingga terbatasnya ruang intervensi pasar domestik selama periode libur panjang.
"Kemudian yang terakhir kita juga melihat bahwa besok ya pasar ini akan tutup dan ini akan membuat rupiah kemungkinan besar pelemahannya cukup tajam. Pelemahan cukup tajam ini ini akan berdampak terhadap rupiah dalam minggu ini kemungkinan besar target Rp18.000 per USD kemungkinan besar akan tercapai," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada Media, Selasa (26/5).
Ia mengatakan, pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa cukup signifikan. Hingga siang hari, rupiah telah melemah sekitar 50 poin ke level Rp17.794 per dolar AS.
"Dalam perdagangan siang ini rupiah ini sudah melemah 50 poin di Rp 17.794," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut patut diwaspadai karena pasar domestik akan menghadapi libur nasional yang berpotensi membuat tekanan eksternal semakin besar terhadap pergerakan nilai tukar.
Libur Panjang Batasi Ruang Intervensi
Ibrahim menjelaskan, libur nasional dapat menjadi salah satu faktor yang memperbesar volatilitas rupiah. Saat pasar domestik tutup, Bank Indonesia tidak dapat melakukan intervensi secara optimal di pasar obligasi maupun Surat Berharga Negara (SBN) untuk meredam gejolak nilai tukar.
Kondisi itu membuat pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen global yang berkembang di pasar internasional. Jika tekanan eksternal meningkat selama masa libur, maka pelemahan rupiah berpotensi berlanjut ketika pasar domestik kembali dibuka.
"Bank Indonesia tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara sehingga hanya di pasar internasional ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan," uujarnya.
Konflik Global Picu Penguatan Dolar AS
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari memburuknya kondisi geopolitik dunia. Harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memudar setelah muncul laporan mengenai serangan Amerika Serikat ke wilayah Iran Selatan.
Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah perundingan yang sebelumnya diharapkan dapat meredakan konflik menghadapi berbagai hambatan. Situasi ini membuat investor kembali memburu dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Selain konflik Iran dan Amerika Serikat, perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung juga menjadi sumber kekhawatiran pasar global. Serangan yang terus terjadi di sejumlah wilayah Ukraina menunjukkan bahwa konflik di Eropa Timur masih jauh dari kata selesai. Di kawasan Timur Tengah, konflik antara Israel dan kelompok-kelompok di Lebanon juga terus memanas.
"Di sisi lain pun juga Israel terus melakukan penyerangan di Lebanon Selatan bahkan wilayah Lebanon 20% itu sudah dikuasai oleh Israel dan kemungkinan besar akan dipatok. Nah, ini yang mengindikasikan bahwa Israel Raya kemungkinan besar sudah akan berlanjut ya itu di sebagian wilayah Lebanon dan ini cukup masif ya sehingga membuat dolar kembali lagi mengalami penguatan," pungkasnya.