Neraca Perdagangan Sulsel Surplus Rp918 Miliar per Mei 2026, Mate Nikel Jadi Penopang Utama
Kabar baik! Neraca Perdagangan Sulsel mencatat surplus signifikan Rp918 miliar per Mei 2026, didorong oleh ekspor mate nikel. Simak detail capaiannya!
Makassar, Sulawesi Selatan, kembali menunjukkan performa ekonomi yang positif. Neraca perdagangan provinsi ini berhasil mencetak surplus sebesar 51,54 juta dolar Amerika Serikat (AS) pada Mei 2026. Angka tersebut setara dengan Rp918,76 miliar, berdasarkan kurs rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp17.800.
Capaian membanggakan ini diungkapkan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Total nilai ekspor Sulawesi Selatan mencapai 141,83 juta dolar AS, jauh melampaui nilai impor yang tercatat sebesar 90,29 juta dolar AS.
Kepala Bidang Kepabeanan Kantor Wilayah DJBC Sulbagsel, Alimuddin Lisaw, menjelaskan bahwa dominasi komoditas mate nikel menjadi kunci utama surplus ini. Sektor ekspor masih sangat bergantung pada produk unggulan tersebut.
Kinerja Ekspor Unggulan dan Kontribusi Mate Nikel
Komoditas mate nikel memberikan kontribusi devisa yang sangat signifikan bagi Sulawesi Selatan. Tercatat, mate nikel menyumbang sebesar 338,6 juta dolar AS, atau mencakup 51,2 persen dari total ekspor kumulatif daerah ini.
Meskipun komoditas ini sedikit mengalami kontraksi pertumbuhan secara tahunan atau year-on-year (yoy) sebesar 1,9 persen, mate nikel tetap menjadi penyangga utama neraca perdagangan. Ini menunjukkan ketahanan komoditas tersebut di pasar global.
Di sisi lain, beberapa komoditas lain menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Rumput laut dan produk kakao masing-masing tumbuh sebesar 0,1 persen dan 7,7 persen. Namun, ekspor paduan ferro mengalami penurunan tajam hingga 77,9 persen.
Alimuddin Lisaw menambahkan bahwa ekspor berbagai komoditas unggulan Sulawesi Selatan bersifat fluktuatif setiap bulannya. Namun, transaksi ekspor Sulsel masih selalu lebih dominan dibandingkan impornya, menjaga keseimbangan neraca perdagangan.
Dinamika Perdagangan Lima Tahun Terakhir dan Faktor Penentu
Secara kumulatif selama lima tahun terakhir, periode 2022-2026, terjadi fluktuasi signifikan pada nilai ekspor Sulawesi Selatan. Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2022 sebesar 1,19 miliar dolar AS, nilai ekspor mengalami penurunan bertahap.
Pada periode Januari-Mei 2026, nilai ekspor berada di angka 0,67 miliar dolar AS. Penurunan ini sebagian besar dipengaruhi oleh melemahnya harga komoditas global.
Selain itu, perubahan regulasi hilirisasi juga turut memengaruhi tren penurunan ekspor. Kebijakan ini berdampak pada struktur dan volume perdagangan komoditas tertentu.
Sementara itu, nilai impor kumulatif pada periode yang sama tahun 2026 tercatat sebesar 0,44 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 33,3 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Mitra Dagang Utama dan Komoditas Impor Prioritas
Jepang masih memegang posisi sebagai negara tujuan ekspor terbesar bagi Sulawesi Selatan. Nilai ekspor ke Jepang mencapai 359,60 juta dolar AS.
Jepang diikuti oleh China dan Amerika Serikat sebagai mitra dagang ekspor penting lainnya. Diversifikasi pasar ekspor menjadi strategi vital untuk menjaga stabilitas perdagangan.
Untuk impor, China mendominasi sebagai negara asal barang dengan nilai 114,21 juta dolar AS. Komoditas gandum menjadi penyumbang impor terbesar dengan nilai 80,3 juta dolar AS dan tumbuh 18,7 persen.
Disusul oleh minyak petroleum yang melonjak drastis hingga 360,5 persen menjadi 63,9 juta dolar AS. Alimuddin Lisaw menegaskan bahwa DJBC terus memantau dinamika perdagangan ini untuk memastikan kepatuhan regulasi dan mendukung kelancaran arus barang ekspor-impor yang berdampak pada perekonomian daerah.
Sumber: AntaraNews