KKP Identifikasi 30 Ribu Hektare Tambak Budidaya Ikan Aceh Rusak Akibat Banjir
Banjir yang melanda beberapa wilayah di Aceh telah menyebabkan sekitar 30 ribu hektare tambak budidaya ikan Aceh rusak. Kejadian ini menimbulkan kerugian besar bagi puluhan ribu pembudidaya di provinsi tersebut.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengidentifikasi kerusakan signifikan pada area tambak budidaya perikanan di Aceh. Sekitar 30 ribu hektare tambak dilaporkan rusak parah akibat bencana banjir yang melanda beberapa wilayah di provinsi tersebut. Kejadian ini menimbulkan dampak ekonomi serius bagi sektor perikanan lokal.
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono, setelah meninjau langsung lokasi terdampak di Kabupaten Bireun dan Aceh Utara, mengonfirmasi bahwa kerusakan tambak terjadi di 16 kabupaten/kota di Aceh. Kerugian ini memengaruhi ribuan pembudidaya yang bergantung pada sektor perikanan.
Identifikasi awal menunjukkan bahwa tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan hingga sangat berat, dengan sejumlah besar tambak yang rata dengan tanah. Bencana banjir besar disertai longsor beberapa waktu lalu menjadi penyebab utama dari kerusakan ekstensif ini.
Skala Kerusakan dan Dampak Terhadap Pembudidaya
Kerusakan tambak budidaya di Aceh mencapai angka yang mengkhawatirkan, dengan total sekitar 30 ribu hektare yang terdampak banjir. Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah paling parah dengan luasan lebih dari 10 ribu hektare tambak yang rusak. Disusul oleh Kabupaten Bireun dengan 4,9 ribu hektare dan Aceh Tamiang dengan 3,4 ribu hektare.
Menteri KKP Trenggono menjelaskan bahwa dari total area terdampak, sekitar 300 hektare mengalami kerusakan yang sangat berat, sementara sisanya didominasi oleh kerusakan ringan hingga berat. Kondisi ini mengakibatkan kerugian bagi lebih dari 30 ribu pembudidaya di seluruh Aceh.
Tambak-tambak yang rusak tersebut tersebar di wilayah daratan dan pesisir, dengan berbagai komoditas budidaya. Komoditas yang terdampak meliputi udang, bandeng, kakap, kerapu, lele, nila, mas, serta patin. Kerusakan ini mengancam keberlangsungan mata pencarian masyarakat setempat.
Respons Pemerintah dan Upaya Penanganan Awal
Pemerintah melalui KKP bergerak cepat melakukan identifikasi dan peninjauan lokasi untuk mengukur skala kerusakan. Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono secara langsung meninjau area terdampak untuk memastikan data yang akurat dan merumuskan langkah penanganan selanjutnya.
Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan juga telah meninjau lokasi budidaya perikanan terdampak banjir di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam merespons bencana dan membantu pemulihan sektor perikanan.
KKP mencatat bahwa banjir besar disertai longsor yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkan kerusakan bervariasi. Banyak tambak yang bahkan sampai rata dengan tanah karena tergenang lumpur yang dibawa oleh banjir, menunjukkan tingkat keparahan bencana.
Sumber: AntaraNews