Puluhan Paspampres Venezuela Tewas saat Penculikan Maduro, Senjata Rahasia Dipakai Tentara AS Terungkap
Menhan Venezuela menuding AS menjadikan negaranya sebagai ajang uji coba senjata eksperimental dalam operasi militer penculikan Maduro.
Ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat kembali memanas. Pemerintah Caracas menuding Washington menjadikan wilayah mereka sebagai ajang uji coba senjata eksperimental dalam operasi militer yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada 3 Januari lalu.
Tuduhan itu dilontarkan langsung oleh Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez. Ia menilai operasi tersebut bukan sekadar misi militer biasa, melainkan demonstrasi teknologi tempur generasi baru yang belum pernah digunakan di medan perang.
Menurut laporan surat kabar El Universal, Lopez menyebut Amerika Serikat mengerahkan “teknologi militer canggih” berbasis kecerdasan buatan dan sistem persenjataan yang masih dirahasiakan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump secara tersirat membenarkan penggunaan perangkat khusus dalam operasi tersebut. Kepada New York Post, ia mengatakan pasukan AS memakai senjata yang ia sebut sebagai "discombobulator".
“Saya tidak diizinkan untuk membicarakannya,” katanya, seraya menambahkan bahwa senjata itu “menyebabkan peralatan tidak berfungsi,” demikian dilansir Aljazeera, Selasa (27/1/2026).
Hingga kini, rincian resmi misi tersebut belum dipublikasikan. Namun, catatan sejarah menunjukkan militer AS memang kerap menggunakan teknologi nonkonvensional untuk mengacaukan pertahanan lawan, melumpuhkan komunikasi, atau menonaktifkan infrastruktur sebelum serangan utama dilakukan.
AS Dituding Jadikan Venezuela Tempat Uji Coba Senjata Rahasia
Pada 16 Januari, Lopez mengklaim sedikitnya 47 tentara Venezuela tewas akibat serangan AS di Caracas. Selain itu, 32 tentara Kuba yang bertugas melindungi Maduro juga dilaporkan gugur.
Ia kemudian melontarkan tudingan keras bahwa negaranya dijadikan tempat uji coba persenjataan eksperimental.
"Presiden Amerika Serikat mengakui bahwa mereka telah menggunakan senjata yang belum pernah digunakan di medan perang, senjata yang tidak dimiliki siapa pun di dunia. Mereka menggunakan teknologi itu terhadap rakyat Venezuela pada 3 Januari 2026," tegasnya.
Pernyataan tersebut diduga merujuk pada wawancara Trump dengan NewsNation, di mana ia menyebut penggunaan “senjata sonik”.
Kesaksian Tentara Venezuela dan Klaim Trump soal “Senjata Rahasia”
Beberapa hari setelah insiden penculikan, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membagikan ulang kesaksian seorang petugas keamanan Venezuela di platform X. Petugas itu menggambarkan adanya gelombang suara ekstrem saat operasi berlangsung.
“Tiba-tiba, saya merasa kepala saya seperti meledak dari dalam,” tulisnya.
“Kami semua mulai mimisan. Beberapa muntah darah. Kami jatuh ke tanah, tidak bisa bergerak,” sambungnya.
Laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Dalam wawancara lainnya, Trump kembali menyinggung keberadaan teknologi khusus milik AS.
“Tidak ada orang lain yang memilikinya. Dan kita memiliki senjata yang tidak diketahui siapa pun,” katanya.
“Dan saya katakan mungkin lebih baik tidak membicarakannya, tetapi kita memiliki beberapa senjata yang luar biasa. Itu adalah serangan yang luar biasa. Jangan lupa bahwa rumah itu berada di tengah-tengah benteng dan pangkalan militer,” lanjutnya.
Ia juga menyebut perangkat pelumpuh yang dijuluki “Si pengacau”, meski menolak menjelaskan detailnya.
Apa Itu Senjata “Sonik”?
Analis militer dan politik berbasis di Brussels, Elijah Magnier, menjelaskan bahwa sistem sonik paling dikenal milik AS adalah LRAD (Long-Range Acoustic Device).
“Ini bukanlah senjata tradisional. Sebaliknya, ini adalah proyektor suara yang kuat dan terfokus yang digunakan untuk hal-hal seperti menghentikan kapal, mengamankan pangkalan, melindungi konvoi, mengelola pos pemeriksaan, dan terkadang pengendalian massa,” katanya.
Perangkat ini memancarkan suara berfrekuensi tinggi yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan, pusing, mual, hingga gangguan pendengaran. Namun, LRAD tidak dirancang untuk merusak perangkat elektronik.
Selain itu ada Active Denial System (ADS), yang sering disalahartikan sebagai senjata sonik.
“Sebaliknya, alat ini menggunakan energi gelombang milimeter untuk menciptakan sensasi panas yang kuat pada kulit, membuat orang menjauh,” kata Magnier.
Kedua sistem tersebut lebih ditujukan untuk memengaruhi manusia, bukan melumpuhkan mesin atau infrastruktur.
Teknologi Pelumpuh Elektronik
Jika benar terjadi kerusakan pada peralatan militer Venezuela, Magnier menilai kemungkinan besar penyebabnya adalah teknologi nonkinetik lain, seperti:
-Perang elektronik (EW) untuk mengacaukan radar, komunikasi, dan GPS
-Operasi siber-fisik, termasuk sabotase perangkat lunak seperti kasus Stuxnet
-Senjata gelombang mikro berdaya tinggi (CHAMP) untuk melumpuhkan sirkuit elektronik
-Amunisi grafit/serat karbon yang memicu korsleting jaringan listrik
Teknologi-teknologi ini memungkinkan suatu negara melumpuhkan sistem pertahanan musuh tanpa ledakan fisik.
“Strategi dasarnya tetap sama: pertama, lumpuhkan sumber daya listrik, komunikasi, sensor, dan koordinasi, kemudian mulailah serangan fisik,” kata Magnier.
Soal apakah AS melakukan uji coba senjata di Venezuela saat menculik Maduro, Magnier menilai praktik menguji teknologi baru di zona konflik bukan hal baru.
“Ya, dan ini bukan hanya sesuatu yang dilakukan Amerika Serikat. Perang modern seringkali menjadi ujian nyata pertama bagi teknologi baru begitu teknologi tersebut siap digunakan,” katanya.