Netanyahu Kirim Perwakilan ke Qatar Bahas Gencatan Senjata dengan Hamas, Kebiasaan 'Berkhianat' Israel Jadi Sorotan
Netanyahu kirim delegasi bahas gencatan senjata di Gaza, banyak pihak ragukan konsistensinya.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengirim delegasi ke Qatar untuk melakukan pembahasan bersama Hamas mengenai gencatan senjata di Gaza, Palestina.
Melansir dari The Hill, tim negosiasi dikabarkan telah berangkat pada 6 Juli 2025 kemarin. Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Netanyahu di Gedung Putih hari ini, Senin (7/7).
Pada Jumat, pejabat Hamas mengatakan bahwa mereka telah menanggapi usulan gencatan senjata selama 60 hari dari Trump dengan positif. Namun, perlu dilakukan negosiasi lebih lanjut.
"Israel telah menyetujui persyaratan yang diperlukan untuk menuntaskan GENCATAN SENJATA 60 Hari, di mana kami akan bekerja sama dengan semua pihak untuk mengakhiri perang," kata Trump melalui platform Truth Social miliknya.
Wacana soal gencatan senjata ini kemudian ramai jadi perbincangan. Tak sedikit pihak meragukan konsistensi Israel mengingat sebelumnya para zionis kerap 'berkhianat' dengan tetap melakukan serangan saat masa gencatan senjata sementara berlangsung.
Israel Berkhianat dan Serang Palestina saat Gencatan Senjata
Sebelumnya, gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas pernah disepakati pada Rabu (15/1/2025). Namun, Israel berkhianat dan tidak menepati perjanjian dengan tetap melakukan penyerangan.
Sumber keamanan Palestina mengungkapkan kepada Al Jazeera, mereka mencatat ada 266 pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang dilakukan Israel. Selain membunuh 132 warga Palestina, serangan Israel juga melukai lebih dari 900 orang lainnya.
Sebagian besar pelanggaran ini terjadi di Gaza tengah, di mana tercatat ada 110 serangan, kemudian di Rafah 54 serangan, 49 serangan di Kota Gaza, 19 serangan di Khan Younis, dan 13 serangan di Jalur Gaza utara.
Serangan Israel ke Jenin
Perjanjian gencatan senjata awalnya disepakati dimulai pada 19 Januari, namun sampai tanggal 21 Januari Israel ternyata melakukan serangan ke Jenin wilayah Tepi Barat.
Menurut otoritas Palestina, operasi tersebut diketahui merenggut nyawa sekurang-kurangnya 17 orang dan melukai lebih dari 40 orang lainnya. Diperkirakan ada 3.000 keluarga yang mengungsi di pengungsian Jenin selama 2 bulan terakhir.
Meski banyak dikecam, Netanyahu menyampaikan jika serangan tersebut merupakan bagian dari langkah politik untuk memuaskan menteri keuangannya, Bezalel Smotrich yang tidak setuju dengan perjanjian gencatan senjata.
Hal itu dilakukan oleh Netanyahu agar Smotrich tidak mengundurkan diri karena bisa mengguncang pemerintahannya. Serangan itu menyebabkan ketegangan yang terus meningkat di seluruh wilayah Tepi Barat pada masa gencatan senjata.
Israel sendiri memang kerap melanggar kesepakatan dengan berbagai dalih. Pelanggaran-pelanggaran ini disebabkan oleh kombinasi faktor politik, militer, dan sosial yang kompleks.
Ambisi Netanyahu untuk terus berkuasa juga dianggap turut berperan besar sehingga perang terus berlanjut dan Israel terus melanggar gencatan senjata di Gaza.