Makna Tarian Bocah Dalam Tradisi Pacu Jalur Kuansing yang Kini Viral Hingga Mancanegara
Pacu Jalur adalah tradisi lomba dayung dari Riau yang sarat makna filosofis.
Jagat media sosial (medsos) dihebohkan dengan tari Pacu Jalur khas Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau. Tarian yang umumnya dilakukan oleh seorang bocah di atas jalur (perahu) itu, ditiru oleh banyak orang di medsos.
Tren ini bahkan semakin dikenal setelah dipopulerkan oleh klub sepakbola internasional, seperti Paris Saint-Germain (PSG) dan AC Milan melalui akun resmi mereka. Banyak orang menyebut gerakan tarian Pacu Jalur itu dengan istilah 'aura farming'.
Di medsos, cuplikan video merekam bocah yang sedang menari di atas jalur dibubuhi dengan backsound lagu “Young Black & Rich” milik Melly Mike. Tradisi lokal ini pun mendadak ramai diperbincangkan di berbagai platform digital. Lalu, apa sebenarnya makna dari tarian tersebut?
Asal Usul dan Sejarah Pacu Jalur
Pacu Jalur adalah perlombaan dayung tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Nama "Pacu Jalur" berasal dari bahasa Minangkabau Timur.
Dalam bahasa tersebut, "pacu" berarti lomba dan "jalur" berarti perahu atau sampan panjang. Perahu ini terbuat dari kayu gelondongan utuh tanpa sambungan. Sejarah Pacu Jalur dimulai sejak abad ke-17.
Awalnya, jalur berfungsi sebagai alat transportasi utama masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan. Jalur digunakan untuk mengangkut hasil bumi dan manusia. Hanya kalangan bangsawan dan penguasa yang memiliki jalur yang dihias indah dengan ukiran.
Seiring waktu, lomba adu kecepatan antar jalur mulai diadakan, yang kemudian dikenal sebagai Pacu Jalur. Awalnya, perlombaan ini diadakan untuk merayakan hari besar Islam.
Pada masa penjajahan Belanda, Pacu Jalur juga digunakan untuk merayakan hari lahir Ratu Wilhelmina. Setelah kemerdekaan Indonesia, Pacu Jalur dirayakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, biasanya sekitar bulan Agustus.
Prosesi Pelaksanaan Pacu Jalur
Pacu Jalur bukan hanya sekadar lomba dayung, tetapi juga pesta rakyat yang meriah. Pesta ini melibatkan banyak orang dengan peran masing-masing di dalam perahu. Perahu yang digunakan memiliki panjang sekitar 25-40 meter dan dapat memuat 40-60 orang pendayung.
Dalam setiap perahu Pacu Jalur, terdapat beberapa peran penting. Anak Pacu atau Pendayung bertugas mendayung perahu dengan jumlah paling banyak.
Tukang Tari bertugas sebagai penari di bagian depan perahu yang berfungsi sebagai penyemangat. Kemudian, Tukang Timba atau Tukang Timbo Ruang bertugas menimba air yang masuk ke dalam perahu dan memberi semangat.
Selain itu, ada juga Tukang Concang atau Komandan yang bertugas memberi aba-aba dan komando. Tukang Pinggang atau Juru Mudi bertugas menetapkan arah perahu.
Terakhir, Tukang Onjai bertugas memberi irama dengan menggoyangkan badan. Perlombaan dimulai dengan dentuman meriam sebagai tanda dimulainya lomba.
Makna Tarian
Di setiap perlombaan Pacu Jalur, di bagian depan biasanya ada seorang anak yang bertugas untuk menari saat lomba berlangsung. Seperti disebutkan di atas, jika anak tersebut disebut sebagai Tukang Tari.
Pemilihan anak-anak ternyata bukan tanpa alasan. Sebab, berat badan anak-anak tergolong ringan. Sehingga posisinya sangat pas berada di depan jalur.
"Anak-anak kan badannya ringan, ada dewasa di tengah itu untuk memberikan aba-aba juga. Lalu di ujung itu agak dewasa sedikit karena dia akan memberi daya dorong ke jalur namanya onjai," mengutip dari keterangan di laman wonderfulimages.kemenparekraf (7/7).
Makna Filosofis dan Signifikansi Pacu Jalur
Pacu Jalur lebih dari sekadar perlombaan, karena memiliki makna filosofis yang dalam bagi masyarakat Kuantan Singingi. Tradisi ini mencerminkan semangat kolektif dan kebersamaan. Pacu Jalur membutuhkan kerja sama tim yang solid untuk mencapai kemenangan.
Kemenangan dalam Pacu Jalur membawa kehormatan bagi kampung peserta. Selain itu, Pacu Jalur juga mengandung nilai spiritual dan sosial. Upacara adat sebelum lomba menunjukkan penghormatan terhadap alam dan leluhur. Pacu Jalur menjadi identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Kuantan Singingi dan Riau.
Pemenang Pacu Jalur tidak hanya ditentukan oleh kecepatan dan kekuatan mendayung. Aspek magis dari kayu yang digunakan dan kemampuan pawang juga turut menentukan kemenangan. Hal ini menambah nilai sakral dan unik dari tradisi Pacu Jalur.