AI Tak Bisa Gantikan Karakter Manusia
Generasi muda diminta bijak memanfaatkan AI dan tetap menjaga karakter, integritas, serta kemampuan berpikir kritis.
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, James T. Riady, mengingatkan generasi muda agar bijak menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pesan itu disampaikan James dalam acara wisuda Universitas Pelita Harapan (UPH). Ia menilai perkembangan teknologi global membawa perubahan besar sekaligus tantangan baru bagi anak muda.
Menurut James, kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan nilai, karakter, dan arah hidup.
“Saya berharap kalian membawa pulang dua hal ini, yaitu keyakinan yang kokoh dan kemampuan berpikir kritis. Sebab tanpa itu, kalian dapat dengan mudah dibentuk bukan oleh kebenaran,” kata James dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Ia menyebut generasi saat ini tumbuh dengan akses teknologi yang semakin maju, tetapi juga rentan mengalami kebingungan secara spiritual dan kehilangan pegangan hidup.
AI Tak Bisa Gantikan Peran Manusia
James menegaskan kecerdasan buatan tidak akan mampu menggantikan hikmat dan karakter manusia.
Menurut dia, teknologi seharusnya digunakan untuk memberi dampak positif bagi masyarakat, bukan membuat manusia kehilangan arah.
“Jadilah pribadi yang mau berkontribusi dan memimpin, karena kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kehidupan tidak cukup dibangun hanya melalui intelektualitas dan pengetahuan, tetapi juga memerlukan keyakinan terhadap nilai dan kebenaran.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala LLDikti Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, mengatakan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi saat ini berfokus pada program “Diktisaintek Berdampak”.
Menurut Henri, perguruan tinggi didorong menghasilkan riset, inovasi, dan lulusan yang mampu menghadirkan solusi nyata di tengah perkembangan AI dan otomatisasi.
Ia menilai pendidikan di UPH tidak hanya menekankan transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter berbasis integritas dan iman.
“Kecerdasan buatan dan otomatisasi mungkin mengubah cara kita bekerja, tetapi kreativitas, empati, dan kepemimpinan yang berintegritas tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin,” ujar Henri.