Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda untuk Fondasi Indonesia Emas
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyoroti pentingnya penguatan karakter generasi muda sebagai pilar utama dalam membangun peradaban bangsa dan menyongsong Indonesia Emas 2045. Simak selengkapnya!
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto baru-baru ini menyoroti urgensi penguatan karakter generasi muda. Penekanan ini disampaikan dalam acara pengukuhan Pengurus Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) yang berlangsung di Jakarta, Sabtu.
Bima Arya menegaskan bahwa penanaman nilai budaya, moral, dan kebangsaan menjadi fondasi esensial. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan pemimpin masa depan Indonesia yang berkualitas dan berintegritas.
Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh karakter yang kuat. “Peradaban besar ditopang oleh pengetahuan dan dipertahankan oleh karakter,” kata Bima.
Pentingnya Karakter di Era Digital
Bima Arya menjelaskan bahwa tantangan dalam pembentukan karakter semakin kompleks di era digital saat ini. Perkembangan pesat media sosial memungkinkan penyebaran informasi berlangsung sangat cepat.
Namun, kecepatan ini seringkali tidak diiringi dengan proses verifikasi yang memadai. Kondisi ini menuntut generasi muda untuk memiliki bekal yang kuat.
Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, etika, dan kebijaksanaan. Kemampuan ini vital agar mereka mampu menyaring informasi secara bijak dan tetap berpegangan pada kebenaran.
Penguatan karakter generasi muda menjadi kunci untuk menghadapi arus informasi yang deras tanpa kehilangan arah. Ini juga membentuk individu yang bertanggung jawab dalam berinteraksi.
Integrasi Pendidikan dan Integritas
Upaya menyiapkan generasi penerus bangsa tidak cukup hanya melalui pendidikan formal semata. Peningkatan kompetensi akademik memang penting, namun tidak berdiri sendiri.
Bima Arya menilai bahwa karakter dan integritas harus berjalan beriringan dengan kecerdasan. Keduanya merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Integrasi ini krusial untuk melahirkan pemimpin yang berkualitas dan bertanggung jawab. Pemimpin masa depan harus memiliki moralitas yang tinggi.
Dengan demikian, kecerdasan yang diimbangi integritas akan menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki komitmen kuat terhadap kebenaran dan keadilan.
Menatap Dunia dengan Akar Budaya
Dalam kesempatan yang sama, Bima Arya mengajak generasi muda untuk memiliki wawasan global yang luas. Namun, ia menekankan pentingnya tidak meninggalkan akar budaya dan identitas kebangsaan.
Ia mengutip filosofi “Melayu itu kosmopolitan. Menjejak bumi Melayu, berpijak di bumi Nusantara, dan menatap dunia.” Ini adalah cerminan para pendiri bangsa.
Para pendiri bangsa berangkat dari budaya lokal, berpikir dalam bingkai nasional, dan berkiprah di tingkat global. Tradisi intelektual Melayu telah melahirkan banyak tokoh besar.
Tokoh seperti Raja Ali Haji dan Buya Hamka adalah contoh nyata kontribusi pemikiran Melayu bagi bangsa. Pemikiran dan keteladanan mereka tetap relevan untuk membangun penguatan karakter generasi muda.
Peran ISMI dan Indonesia Emas 2045
Bima Arya berharap Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) dapat berperan aktif dalam menghidupkan kembali nilai budaya, etika, dan kebangsaan. Ini bisa dilakukan melalui berbagai kegiatan edukasi.
Pengembangan pemikiran juga menjadi fokus penting bagi ISMI. Upaya ini krusial untuk menyiapkan generasi muda yang tangguh.
Generasi muda harus mampu menjawab berbagai tantangan masa depan. Mereka juga perlu memanfaatkan peluang bonus demografi yang akan datang.
Semua ini merupakan langkah strategis menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. Penguatan karakter generasi muda adalah investasi jangka panjang.
Sumber: AntaraNews