Viral! Pengemis Modus Pemulung di Cengkareng Terjaring, Warga Jakbar Diimbau Tak Beri Uang Sembarangan
Suku Dinas Sosial Jakarta Barat mengimbau warga tak mudah beri uang pada pengemis modus pemulung setelah kasus viral di Cengkareng, sebab mereka hanya mencari simpati.
Suku Dinas Sosial Jakarta Barat (Sudinsos Jakbar) mengeluarkan imbauan penting kepada masyarakat. Mereka meminta warga tidak mudah memberikan uang kepada pengemis yang meminta-minta di jalan raya. Imbauan ini muncul menyusul maraknya fenomena pengemis dengan modus baru yang meresahkan.
Kasus terbaru yang menjadi sorotan adalah seorang pengemis di Cengkareng, Jakarta Barat. Ia viral di media sosial karena aksinya yang mengundang simpati publik. Sosok ini kerap berpose seperti bersujud di depan gerobaknya.
Kepala Sudinsos Jakbar, Suprapto, menegaskan bahwa tindakan tersebut hanyalah modus. Tujuannya adalah agar masyarakat merasa kasihan dan memberikan sumbangan. Oleh karena itu, warga diminta lebih bijak dalam menyalurkan bantuan.
Modus Baru Pengemis yang Viral di Cengkareng
Fenomena pengemis modus pemulung semakin marak di Jakarta Barat. Salah satu kasus yang menarik perhatian publik terjadi di kawasan Cengkareng. Pengemis ini menggunakan gerobak dan berlagak seperti pemulung.
Video aksi pengemis tersebut sempat viral di berbagai platform media sosial. Ia terlihat tertunduk seolah bersujud di depan gerobaknya. Aksi ini berhasil memancing rasa iba dari para pengguna jalan.
Suprapto menjelaskan bahwa perilaku tersebut adalah tipuan belaka. "Itu pengemis berkedok pemulung," ujarnya. Ia menambahkan, "Jadi dia pura-pura sambil bawa gerobak, pura-pura menjatuhkan diri lah, sujud, tertunduk, pokoknya supaya orang kasihan lah, nah itu banyak orang yang ngasih."
Pihak Sudinsos Jakbar telah mengamankan individu tersebut pada Rabu (24/9) lalu. Ia kini berada di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1 Kedoya. Jika tidak ada keluarga, ia bisa dirujuk ke panti sosial lansia.
Imbauan Sudinsos Jakbar: Salurkan Bantuan ke Tempat yang Jelas
Sudinsos Jakbar secara tegas mengimbau masyarakat agar tidak mudah memberikan uang tunai kepada pengemis modus pemulung. Tindakan ini justru dapat mendorong mereka untuk terus beroperasi. Warga diharapkan lebih selektif dalam menyalurkan donasi.
"Jangan gampang merasa kasihan terus memberi sesuatu kepada pengemis," kata Suprapto. Ia menyarankan agar bantuan disalurkan melalui lembaga resmi. "Lebih baik salurkan kepada tempat yang jelas," tambahnya.
Penyaluran bantuan melalui lembaga terpercaya memastikan donasi sampai kepada yang benar-benar membutuhkan. Hal ini juga membantu mengurangi praktik eksploitasi dan modus penipuan. Masyarakat dapat berkontribusi secara lebih efektif.
Data Penjaringan PMKS di Jakarta Barat
Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) menjadi fokus utama Sudinsos Jakarta Barat. Dalam delapan bulan terakhir, mereka telah menjaring ribuan PMKS. Upaya ini menunjukkan komitmen dalam menjaga ketertiban sosial.
Kepala Sudinsos Jakarta Barat, Suprapto, mengungkapkan data terbaru. Sebanyak 1.178 orang PMKS berhasil dijaring dari Januari hingga Agustus 2025. Angka ini mencakup berbagai kategori PMKS di wilayah tersebut.
Dari total tersebut, kategori gelandangan mendominasi dengan 467 orang. Disusul oleh psikotik sebanyak 308 orang, dan pengamen 79 orang. Sisanya adalah pengemis, pak ogah, anak jalanan, pedagang asongan, dan lainnya.
Data ini menunjukkan kompleksitas masalah PMKS di ibu kota. Penjaringan terus dilakukan untuk memberikan pembinaan dan penanganan yang tepat. Masyarakat diharapkan mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi isu ini.
Sumber: AntaraNews