Unas Tegaskan Komitmen Tolak Rasisme, Jamin Lingkungan Kampus Inklusif dan Berkeadilan
Universitas Nasional (Unas) secara tegas menyatakan komitmennya untuk tolak rasisme dan menjunjung tinggi kebhinnekaan di lingkungan akademik. Unas berupaya menciptakan suasana kampus yang aman dan inklusif bagi semua civitas akademika.
Universitas Nasional (Unas) secara tegas menyatakan komitmennya menolak segala bentuk rasisme di lingkungan kampus. Penegasan ini disampaikan untuk menjunjung tinggi nilai kebhinnekaan serta menciptakan suasana akademik yang inklusif. Unas berupaya menjamin setiap civitas akademika dapat merasa aman dan berkeadilan.
Rektor Unas, El Amry Bermawi Putera, melalui Juru Bicara Selamat Ginting, menegaskan kewajiban menjaga toleransi. Tidak ada ruang bagi ujaran kebencian atau diskriminasi yang merendahkan kelompok tertentu. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Sabtu (08/11) lalu.
Komitmen Unas tolak rasisme ini juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan. Salah satunya adalah diskusi dengan Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua (Imapa) se-Jadetabek dan Papua Connect (Pace). Pertemuan penting tersebut telah dilaksanakan pada Kamis (06/11) sebelumnya.
Komitmen Unas Jaga Toleransi dan Kebhinnekaan
Juru Bicara Unas, Selamat Ginting, menjelaskan bahwa perbedaan dipandang sebagai kekayaan. Hal ini bukan alasan untuk memecah persatuan di antara civitas akademika. Sikap saling menghargai dan menghormati menjadi landasan utama dalam setiap aktivitas kampus.
Unas membuka kesempatan pendidikan bagi siapa pun tanpa memandang suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA). Prinsip kesetaraan menjadi dasar penting dalam penerimaan mahasiswa baru. Ini juga berlaku untuk seluruh proses akademik yang berlangsung di kampus.
Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, Unas bertekad melahirkan generasi penerus bangsa. Mereka diharapkan memiliki pemikiran terbuka dan senantiasa menghargai keberagaman. Komitmen Unas tolak rasisme menjadi pilar utama dalam pembentukan karakter mahasiswa.
Upaya Konkret dan Dukungan Mahasiswa Papua
Dalam upaya konkretnya, Unas secara konsisten mengadakan berbagai kegiatan. Ini dimulai dari Pengenalan Lingkungan Budaya Akademik (PLBA) hingga perkuliahan multikulturalisme. Diskusi interaktif lintas budaya juga rutin diselenggarakan.
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk memahami pentingnya hidup berdampingan. Perbedaan harus menjadi kekuatan, bukan sumber kesalahpahaman. Hal ini juga memperkuat rasa kebersamaan sejak awal mahasiswa bergabung di lingkungan kampus.
Ketua IMAPA Se-Jadetabek, Semifon Arikson Kambue, menyampaikan apresiasi tinggi. Ia berterima kasih kepada Unas yang telah memfasilitasi penyelesaian permasalahan dengan baik. Ini menunjukkan respons positif terhadap langkah Unas tolak rasisme.
Sekretaris Jenderal Papua Connect, Cang Waincang, mengimbau mahasiswa Papua di Jakarta. Mereka diminta untuk senantiasa menunjukkan semangat persaudaraan sebagai satu Indonesia. Pesan ini menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman.
Peran Pemerintah dalam Menciptakan Kampus Aman
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, turut menegaskan pentingnya kampus. Ia menyatakan bahwa perguruan tinggi harus bisa menjadi ruang aman bagi semua orang. Ini sejalan dengan komitmen Unas tolak rasisme.
Pemerintah telah membentuk satuan tugas khusus untuk menangani isu ini. Satuan tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) dibentuk. Tujuannya adalah memastikan lingkungan akademik bebas dari kekerasan.
Mekanisme pelaporan kasus kekerasan telah disediakan bagi korban maupun saksi. Pelaporan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Kanal pelaporan tersedia di kampus masing-masing atau melalui Inspektorat Jenderal Kemdiktisaintek.
Sumber: AntaraNews