PP Tunas Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan di Era Digital
Implementasi PP Tunas memperkuat peran ayah dalam pengasuhan di era digital, menjadi langkah strategis pemerintah untuk perlindungan anak dan menciptakan ketahanan keluarga.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menyatakan, implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) dapat menguatkan peran ayah dalam pengasuhan di era digital. Kebijakan ini hadir sebagai respons terhadap peningkatan durasi penggunaan internet masyarakat Indonesia yang mencapai rata-rata 7–8 jam per hari.
Wihaji menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk memastikan perlindungan anak tetap terjaga di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin masif. Penguatan regulasi melalui PP TUNAS harus diiringi dengan kesadaran keluarga dalam mengendalikan penggunaan teknologi pada anak.
Menurut Mendukbangga, teknologi seharusnya menjadi alat pendukung kehidupan keluarga, bukan justru mengendalikan perilaku anak dalam proses pengasuhan. Kontrol orang tua, terutama kehadiran ayah, menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan psikologis anak.
Peran Ayah Krusial di Tengah Tantangan Digital
Di era digital yang serba cepat ini, peran ayah dalam pengasuhan menjadi semakin krusial. Meskipun teknologi dapat dibatasi dan platform digital diatur, kontrol serta pendampingan dari orang tua tetap menjadi kunci utama dalam melindungi anak-anak. Hal ini penting untuk memastikan bahwa teknologi dimanfaatkan secara positif dan tidak menimbulkan dampak negatif pada perkembangan anak.
Data menunjukkan sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless, baik secara fisik maupun emosional. Kondisi ini menyoroti urgensi keterlibatan aktif ayah dalam setiap aspek pengasuhan. Kehadiran figur ayah sangat berpengaruh terhadap perilaku dan kesehatan psikologis anak di masa depan.
Wihaji menekankan bahwa "Wahai para orang tua khususnya ayah, kalian punya anak yang membutuhkan sentuhan psikologis yang berpengaruh terhadap perilaku anak ke depan," ujarnya. Sentuhan psikologis dari ayah dapat membentuk karakter anak, membangun rasa percaya diri, dan memberikan dukungan emosional yang stabil.
Gerakan Ayah Teladan Indonesia Dorong Keterlibatan Aktif
Menjawab tantangan pengasuhan di era digital dan fenomena fatherless, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menginisiasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Gerakan ini bertujuan untuk mendorong keterlibatan aktif para ayah dalam proses pengasuhan anak.
Kreator konten parenting Ario Pratomo turut mendukung inisiatif ini, menilai bahwa pengasuhan adalah proses belajar bersama antara orang tua dan anak. "Justru sebagai Bapak tuh kita banyak belajar dari anak, tanpa disadari," kata Ario. Ia menambahkan bahwa kehadiran figur publik juga dapat memperluas edukasi pengasuhan positif di ruang digital.
Melalui GATI, diharapkan semakin banyak ayah yang menyadari pentingnya peran mereka, tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, dan teman bagi anak-anak mereka. Keterlibatan ini akan menciptakan lingkungan keluarga yang lebih seimbang dan suportif.
Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045
Penguatan implementasi PP TUNAS dan Gerakan Ayah Teladan Indonesia secara simultan menjadi strategi penting Kemendukbangga/BKKBN untuk menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak-anak. Upaya ini juga ditujukan untuk memperkuat ketahanan keluarga secara keseluruhan.
Kehadiran ayah dalam pengasuhan diharapkan mampu menciptakan ruang tumbuh kembang yang sehat bagi ibu dan anak. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Keluarga yang kuat dan anak-anak yang terlindungi adalah fondasi utama untuk mencapai tujuan nasional tersebut.
Dengan sinergi antara regulasi pemerintah, kesadaran keluarga, dan dukungan komunitas, Indonesia dapat memastikan bahwa generasi penerus tumbuh dalam lingkungan yang kondusif. Ini akan menghasilkan individu yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sumber: AntaraNews