Pesta Panggil Suku Ketapik: Warisan Budaya Bangka Barat yang Ditingkatkan Pemkab
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat memfasilitasi tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik di Desa Kacung, menjadikannya aset budaya daerah yang mendukung pariwisata lokal dan menarik perhatian publik.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara aktif memfasilitasi pelaksanaan tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang masih dilestarikan oleh warga di Desa Kacung, Kecamatan Kelapa. Dukungan pemerintah daerah ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan adat istiadat serta mempromosikannya sebagai daya tarik wisata.
Bupati Bangka Barat, Markus, menyatakan bahwa tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada Bulan Zulhijah, atau setelah Hari Raya Idul Adha. Pelaksanaan Pesta Panggil menjadi momen penting bagi masyarakat adat Suku Ketapik untuk berkumpul dan merayakan kebersamaan. Perayaan ini juga memperkuat ikatan sosial antarwarga dan kerabat.
Pesta adat ini dikenal dengan sebutan Pesta Panggil karena memiliki makna simbolis untuk memanggil sanak saudara, teman, kerabat, dan handai taulan agar beramai-ramai datang ke Desa Kacung. Kehadiran banyak orang menjadikan acara ini semarak dan penuh kegembiraan. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga mempererat tali silaturahmi.
Melestarikan Tradisi Leluhur Suku Ketapik
Makna utama dari Pesta Panggil adalah ajakan bagi seluruh sanak saudara, teman, kerabat, dan handai taulan untuk berkumpul di Desa Kacung dan menghadiri pesta adat tersebut. Hal ini menciptakan suasana kebersamaan dan keguyuban yang sangat kental di tengah masyarakat. Tradisi ini menjadi penanda penting dalam kalender budaya lokal yang selalu dinanti.
Rangkaian pesta adat dimulai pada Sabtu malam dengan prosesi ngasoh kembang yang dimeriahkan oleh berbagai kesenian tradisional. Pertunjukan seperti rebana, marawis, berzanji, dan semarangan mengisi Balai Adat Ketapik. Acara ini secara khusus bertujuan untuk menambah kegembiraan masyarakat, terutama anak-anak yang baru saja menyelesaikan bacaan (khatam) Al Quran.
Pada pagi harinya, para peserta khataman Al Quran diarak keliling kampung menggunakan 'sador', yaitu kereta hias yang menjadi ciri khas tradisi ini. Arak-arakan dimulai dari Rumah Adat Ketapik menuju Masjid Desa setempat. Prosesi ini menjadi puncak dari perayaan yang menunjukkan kebanggaan masyarakat terhadap generasi muda yang telah menyelesaikan pendidikan agama mereka.
Dukungan Penuh Pemerintah Daerah untuk Pesta Panggil
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat memberikan dukungan penuh terhadap tradisi Pesta Panggil Suku Ketapik, mengakui nilai pentingnya sebagai aset budaya daerah. Bupati Markus menegaskan bahwa tradisi ini harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Tujuannya adalah untuk membantu pembangunan sektor pariwisata Bangka Barat.
Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Bangka Barat telah memasukkan Pesta Panggil Suku Ketapik sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan daerah. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya lokal. Dengan dukungan ini, diharapkan Desa Kacung dapat terus meningkatkan potensi lainnya melalui pokok pikiran kebudayaan daerah.
Dukungan nyata dari pemerintah daerah juga terlihat dari bantuan anggaran yang diberikan. Pada tahun ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat membantu sebesar Rp40 juta untuk mendukung kesuksesan pelaksanaan rangkaian tradisi ini. Bantuan finansial ini sangat berarti untuk memastikan setiap detail acara dapat terlaksana dengan baik dan meriah.
Sumber: AntaraNews