Pemkab Jayawijaya Perkuat Identitas Masyarakat Adat Demi Harmoni Bangsa
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya berupaya memperkuat identitas masyarakat adat setempat, menegaskan pentingnya persatuan dan keselarasan dalam naungan berbangsa dan bernegara.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya, Papua Pegunungan, secara aktif memperkuat identitas masyarakat adat di wilayahnya. Langkah ini diambil untuk menciptakan keselarasan serta keharmonisan dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara. Upaya ini menjadi fokus utama Pemkab dalam menjaga stabilitas daerah.
Bupati Jayawijaya, Atenius Murib, menjelaskan bahwa penguatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan peran kelembagaan masyarakat adat yang sudah ada. Hal ini dilakukan demi kepentingan seluruh warga di daerah setempat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis di Wamena pada hari Minggu.
Inisiatif ini muncul di tengah adanya usulan dari masyarakat sembilan distrik di Jayawijaya yang ingin mengajukan permohonan pembentukan wilayah adat “Bomta”. Pemkab Jayawijaya menekankan pentingnya persatuan di atas segala-galanya.
Optimalisasi Kelembagaan Adat dan Usulan Wilayah Baru
Bupati Atenius Murib menegaskan bahwa kelembagaan masyarakat adat yang telah berdiri harus diperkuat dan dioptimalkan terlebih dahulu. Penguatan ini esensial untuk kepentingan masyarakat Jayawijaya secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa persatuan dan kekeluargaan adalah kunci menjaga situasi keamanan yang kondusif.
Meskipun ada pengakuan terhadap keberadaan kelembagaan adat, Bupati Murib mengingatkan agar tidak terburu-buru melepaskan diri dari wilayah adat yang sudah ada. “Pengakuan berdiri itu ada, tetapi jangan berpikir untuk cepat-cepat lepas dari wilayah adat yang sudah ada,” ujarnya. Ia percaya bahwa segala sesuatu telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Mengenai usulan pembentukan wilayah adat “Bomta”, Bupati menyatakan bahwa hal tersebut akan terwujud pada waktunya. “Nanti ada waktunya, ketika Tuhan menghendaki maka usulan pembentukan wilayah adat Bomta pasti jadi suatu saat nanti,” jelasnya. Prioritas utama saat ini adalah memperkuat struktur yang sudah ada.
Menjaga Persatuan Suku dan Konsep Honai Besar Jayawijaya
Bupati Atenius Murib menyoroti pentingnya memperkuat suku-suku yang ada di Jayawijaya, seperti Walak, Lani, dan Hubula. Penguatan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perpecahan di masa mendatang. Ia mengingatkan bahwa seluruh masyarakat Jayawijaya adalah satu kesatuan.
“Ingat, kita semua satu yaitu Jayawijaya,” kata Bupati Murib. Ia mengajak seluruh masyarakat adat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan untuk terus menciptakan kedamaian. Kolaborasi ini sangat penting demi kebaikan bersama di wilayah tersebut.
Jayawijaya digambarkan sebagai “honai besar” bagi seluruh masyarakat adat, baik dari Papua Pegunungan maupun non-Papua Pegunungan, yang telah hidup bersama di sana. Dalam honai besar ini, kebersamaan, persaudaraan, dan kekompakan harus senantiasa dijaga. Hal ini menjadi dasar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sumber: AntaraNews