Pemkab Bangka Barat Perkuat Pelestarian Tradisi Ziarah Kute Seribu, Jaga Warisan Budaya dan Silaturahmi
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat aktif mendukung pelestarian tradisi Ziarah Kute Seribu, sebuah ritus budaya yang mempererat silaturahmi dan menjaga warisan sejarah di Mentok.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menunjukkan komitmen kuat dalam melestarikan warisan budaya lokal dengan mendukung penuh tradisi Ziarah Kute Seribu. Ritus tahunan ini dilaksanakan di Kampung Tanjung, Mentok, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menjadi simbol penjagaan nilai-nilai luhur.
Dukungan tersebut tidak hanya berupa moril, melainkan juga finansial, dengan alokasi anggaran signifikan untuk memastikan kelangsungan acara. Inisiatif ini bertujuan agar tradisi berharga ini dapat terus diwariskan kepada generasi selanjutnya, menjaga identitas budaya daerah.
Ziarah Kute Seribu telah resmi diakui sebagai salah satu ritus dalam objek pemajuan kebudayaan daerah. Kegiatan ini juga telah ditetapkan sebagai agenda tahunan kebudayaan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, memperkuat posisinya dalam identitas lokal.
Dukungan Pemkab Bangka Barat untuk Pelestarian Budaya
Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, menegaskan pentingnya pelestarian tradisi yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, upaya ini krusial untuk menjaga nilai-nilai terkandung dalam tradisi agar tidak luntur seiring waktu.
Pada tahun ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Bangka Barat telah memberikan dukungan anggaran sebesar Rp20 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk membantu pelaksanaan kegiatan Ziarah Kute Seribu, menunjukkan keseriusan pemerintah daerah.
Komitmen ini juga terlihat dari langkah Pemkab Bangka Barat yang telah memasukkan Ziarah Kute Seribu sebagai ritus penting. Tradisi ini kini menjadi bagian dari objek pemajuan kebudayaan dan agenda tahunan daerah, memperkuat posisinya dalam kalender budaya lokal.
Ziarah Kute Seribu: Simbol Silaturahmi dan Penghormatan
Tradisi Ziarah Kute Seribu, yang juga dikenal dengan Haul Kute Seribu, merupakan ajang penting untuk mengenang dan mendoakan para pemimpin terdahulu. Tokoh-tokoh ini adalah mereka yang telah wafat dan dimakamkan di Mentok, meninggalkan jejak sejarah yang mendalam.
Kegiatan ini menarik ribuan peserta, tidak hanya dari Kota Mentok, tetapi juga dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Palembang. Kehadiran mereka menjadikan ziarah ini sebagai momen spesial untuk mempererat tali silaturahmi antara umara, ulama, dan umat Muslim.
Melalui tradisi ini, masyarakat diingatkan akan pentingnya menghargai jasa para pendahulu yang telah berkontribusi bagi perkembangan wilayah. Semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap sejarah menjadi inti dari setiap pelaksanaan Ziarah Kute Seribu.
Mengenang Tokoh Pendiri Kota Mentok
Para peziarah secara khusus mengunjungi makam tokoh-tokoh penting yang diyakini sebagai pendiri Kota Mentok. Mereka adalah figur-figur bersejarah yang memiliki peran besar dalam pembentukan dan perkembangan wilayah tersebut.
Beberapa nama besar yang diziarahi antara lain Wan Abdul Jabar, Abang Pahang, Abang Ismail, dan Abang Muhammad Toyib. Selain itu, makam Habib Hamid Bin Abdurahman Assegaf, Habib Hud Bin Muhammad Assegaf, serta Habib Syatho juga menjadi tujuan utama.
Penghormatan kepada para pendiri ini bukan sekadar ritual, melainkan juga upaya untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat. Tradisi ini memastikan bahwa kontribusi mereka tidak terlupakan dan terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Sumber: AntaraNews