Pelestarian Seni Kutai Tarsul: Antara Perlindungan dan Tantangan Pengembangan
Upaya pelestarian Seni Kutai Tarsul, nyanyian tradisional Kutai, masih terfokus pada perlindungan dan belum menyentuh fase pengembangan, memicu kekhawatiran akan masa depannya.
Upaya pelestarian kesenian tradisional Kutai, Tarsul, saat ini masih berada pada tahap perlindungan dan belum sepenuhnya merambah fase pengembangan. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur dan Utara, Titit Lestari, di Samarinda pada Sabtu, 23 Mei. Penetapan Tarsul sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2025 membawa konsekuensi hukum bagi pemerintah, namun fokus pelestarian sejauh ini baru sebatas dokumentasi dan penetapan status.
Tarsul sendiri merupakan kesenian tradisional berupa nyanyian yang berkembang di tengah masyarakat Kutai, memiliki kemiripan dengan pantun karena liriknya berisi pesan yang saling berbalas-balasan. Kesenian ini biasa digelar dalam dua macam, yaitu Tarsulan Berkhatam Al-Quran dan Tarsulan Perkawinan. Kesenian lisan ini menghadapi tantangan besar dalam pemanfaatannya di ruang publik, mengingat pertunjukannya umumnya hanya dapat disaksikan secara eksklusif pada upacara tradisional tertentu.
Keterbatasan ini, ditambah dengan kurangnya minat generasi muda untuk mengeksplorasi dan menyesuaikan kesenian Tarsul dengan konteks kekinian, menjadi faktor penghambat utama laju pengembangannya. Lestari menekankan bahwa sebuah produk kebudayaan memiliki sifat dinamis yang menuntut adanya adaptasi berkelanjutan agar tradisi tersebut tidak berisiko punah ditelan zaman. Oleh karena itu, diperlukan jembatan komunikasi interaktif antara ide-ide digital kaum muda dengan kebijaksanaan para maestro penjaga pakem.
Tantangan Pengembangan dan Adaptasi Kesenian Tarsul
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur dan Utara menyoroti bahwa meskipun Tarsul akan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2025, upaya pelestarian masih terbatas pada aspek dokumentasi dan penetapan status. Kondisi ini menunjukkan bahwa langkah konkret untuk mengembangkan kesenian lisan ini agar lebih dikenal dan dinikmati masyarakat luas masih belum optimal. Kesenian Tarsul yang merupakan nyanyian tradisional Kutai ini membutuhkan strategi inovatif agar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di era modern.
Salah satu hambatan utama dalam pengembangan Seni Kutai Tarsul adalah minimnya pemanfaatan di ruang publik. Pertunjukan Tarsul cenderung eksklusif, hanya muncul dalam upacara tradisional tertentu seperti khatam Al-Quran dan pernikahan. Hal ini membatasi akses masyarakat umum, terutama generasi muda, untuk mengenal dan mengapresiasi keindahan serta nilai-nilai yang terkandung dalam Tarsul. Kurangnya paparan ini secara langsung berdampak pada minat generasi muda terhadap kesenian leluhur.
Titit Lestari menegaskan pentingnya adaptasi berkelanjutan bagi setiap produk kebudayaan agar tidak tergerus oleh zaman. Oleh karena itu, Balai Pelestarian Kebudayaan mendorong terwujudnya komunikasi interaktif antar generasi. Tujuannya adalah untuk mempertemukan ide-ide digital kaum muda dengan kearifan para maestro Tarsul. Komunikasi lintas generasi ini diharapkan dapat menyepakati batasan modifikasi yang memungkinkan Tarsul bertransformasi menjadi sumber inspirasi karya kekinian tanpa menghilangkan esensi aslinya.
Pandangan Seniman dan Komitmen Konservasi Tarsul
Seniman Tarsul, Saipul Anwar, membenarkan adanya penurunan ketertarikan masyarakat terhadap kesenian ini di tengah pesatnya arus modernisasi. Saipul, yang menimba ilmu Tarsul secara autodidak dari perayaan khatam Al-Quran dan pernikahan, berkomitmen untuk menghidupkan kembali tradisi ini di lingkungan keluarganya. Komitmen ini menunjukkan dedikasi pribadi dalam menjaga keberlangsungan Seni Kutai Tarsul meskipun menghadapi tantangan globalisasi.
Meskipun memahami tujuan modernisasi untuk meningkatkan jumlah peminat, Saipul Anwar memilih jalur konservatif. Ia berpendapat bahwa menjaga kemurnian pakem Tarsul dari intervensi gaya baru adalah prioritas. Pendekatan ini menunjukkan adanya dua pandangan berbeda dalam upaya pelestarian: satu sisi mendorong adaptasi dan inovasi, sementara sisi lain berpegang teguh pada tradisi asli untuk mempertahankan keasliannya.
Kendati demikian, Saipul tidak menutup diri terhadap inovasi. Ia mempersilakan para kreator muda untuk menciptakan modifikasi modern yang sesuai dengan zamannya. Sementara itu, Saipul sendiri akan tetap konsisten mendedikasikan diri untuk merawat bentuk asli kesenian Tarsul. Sikap ini mencerminkan harapan bahwa Seni Kutai Tarsul dapat terus hidup melalui berbagai bentuk, baik yang murni tradisional maupun yang telah diadaptasi, sehingga warisan budaya ini tetap lestari.
Sumber: AntaraNews