Microlibrary Jalan Bima: Cahaya Literasi yang Kini Meredup di Tengah Kota
Bangunan tersebut adalah microlibrary, ruang baca publik yang kini tampak sunyi, tak lagi dipenuhi canda tawa anak-anak yang dulu menjadi pengunjung setianya.
Di Jalan Bima, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, berdiri sebuah bangunan mencolok dengan tampilan tak biasa. Dindingnya disusun dari ember bekas es krim, membentuk pola menyerupai jendela simbol bahwa buku adalah jendela dunia.
Bangunan tersebut adalah microlibrary, ruang baca publik yang kini tampak sunyi, tak lagi dipenuhi canda tawa anak-anak yang dulu menjadi pengunjung setianya.
Microlibrary ini kini terkunci rapat. Tak ada aktivitas membaca atau kegiatan belajar seperti dahulu.
"Sekarang sepi. Sudah hampir dua pekan enggak ada kegiatan," ujar Dede, Ketua RW 02 Kelurahan Arjuna, saat ditemui pada Minggu (14/9).
Dulu Lapangan Kumuh, Kini Monumen Warga
Dua puluh tahun lalu, lahan tempat microlibrary berdiri hanyalah lapangan kumuh yang jarang digunakan. Warga mulai menatanya sebagai ruang terbuka untuk kegiatan sosial seperti acara Agustusan hingga pesta pernikahan. Keinginan untuk menyediakan kegiatan positif bagi anak-anak di luar sekolah menjadi pemicu lahirnya ide sederhana, membuat perpustakaan keliling.
Dari situlah lahir Gorbacling, singkatan dari Gerobak Baca Keliling. Inisiatif ini dimulai dengan membeli roda bekas seharga Rp400 ribu, yang kemudian dimodifikasi menjadi gerobak baca. Buku-bukunya berasal dari sumbangan warga, dan setiap anak yang datang diberi susu kotak sebagai bentuk apresiasi.
"Waktu itu kami beli roda bekas, kayak roda gerobak gorengan. Harganya Rp400 ribu, lalu dibenahi sampai Rp600 ribuan. Kami tempel stiker bergambar anak membaca, lalu isi buku dari sumbangan warga," kenang Dede.
Gorbacling menjadi magnet literasi bagi anak-anak sekitar, dengan jumlah pengunjung mencapai 20 hingga 40 anak setiap sesi.
Dilirik Pemkot Bandung dan Bertransformasi
Kegiatan Gorbacling akhirnya menarik perhatian Pemerintah Kota Bandung ketika wilayah tersebut menjadi pilot project Kampung Juara di era Wali Kota Ridwan Kamil. Saat diundang ke Balai Kota, Dede menceritakan soal gerobak baca yang menjadi pusat kegiatan anak-anak.
"Waktu itu saya diundang sama Pak Wali ke Balai Kota. Di Balai Kota saya memaparkan bahwa disana, di wilayah kami ada Gorbacling," ujarnya.
Tak lama setelah itu, kabar baik datang: Dompet Dhuafa bersama arsitek dari SHAU bersedia membangun perpustakaan permanen. Maka, pada 5 September 2015, microlibrary Jalan Bima diresmikan langsung oleh Ridwan Kamil, menjadi landmark literasi unik dengan tampilan fasad berbahan ember es krim daur ulang.
Ruang Belajar, Ruang Hidup Warga
Sejak berdiri, microlibrary bukan hanya menjadi ruang baca, tapi juga ruang interaksi sosial warga. Anak-anak sekolah kerap datang bergiliran untuk membaca. Kelas belajar dan les pun digelar di sana, bahkan hingga donor darah rutin setiap tiga bulan.
“Anak-anak sekolah juga sering diajak ke sini. Bergilir baca buku di atas, sejam-dua jam. Waktu itu ramai,” kata Dede.
Pandemi Meredupkan Semangat
Sayangnya, pandemi Covid-19 menjadi titik balik penurunan aktivitas. Depi, pemuda karang taruna yang aktif mengelola microlibrary, meninggal dunia karena terpapar virus. Sejak saat itu, pengelolaan perpustakaan pun terhenti.
“Depi itu yang paling rajin. Walau enggak digaji, dia peduli banget sama perpustakaan. Setelah dia meninggal, susah cari yang mau mengelola,” tutur Dede.
Dompet Dhuafa telah menyerahkan pengelolaan bangunan kepada Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip), namun hingga kini ruang tersebut belum difungsikan kembali.
“Kuncinya saja saya enggak tahu ada di mana. Katanya di Dispusip. Saya mau konsultasi juga ke Dispusip buat bentuk kepengurusan lagi,” ucapnya.
Sudah Direnovasi, Tapi Tak Dihidupkan
Pada 2024, bangunan microlibrary sempat diperbaiki dengan dukungan dana CSR dari BNI. Perbaikan meliputi pergantian elemen fasad, plafon, hingga instalasi listrik. Namun, renovasi fisik tidak dibarengi dengan perbaikan sistem pengelolaan dan regenerasi pengurus.
Saat ini, hanya kegiatan donor darah triwulan yang masih berjalan. Kegiatan literasi anak-anak dan kelas pembelajaran lainnya berhenti total.
Harapan untuk Menghidupkan Kembali
Dede berharap pemerintah dan masyarakat bisa kembali bergandeng tangan menghidupkan microlibrary Jalan Bima. Ia meyakini, jika ada pengelola tetap dengan dukungan anggaran, ruang ini bisa kembali menjadi pusat kegiatan edukatif.
“Kalau ada yang menjaga dengan gaji jelas, saya yakin bisa ramai lagi. Sekolah-sekolah bisa diajak kerja sama, anak-anak outing belajar di sini. Jangan sampai perpustakaan ini hanya jadi pajangan,” harapnya.
Baginya, bangunan ini bukan sekadar ruang baca, melainkan warisan semangat warga untuk membangun peradaban literasi dari nol. Dede pun berencana membuka dialog dengan Dispusip agar microlibrary tak hanya berdiri, tapi kembali berdenyut bersama warga.
“Saya juga sedang berpikir. Mau datang ke Dispusip. Mau berbicara dengan Bu Kadisnya. Supaya aktif lagi. Berharap ada yang mau nunggu di sini,” katanya.