Media Sosial: Arena Pertarungan Frugal Living vs Flexing Generasi Muda
Fenomena Frugal Living vs Flexing di media sosial disorot antropolog Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, mengungkap peran ganda platform digital dalam membentuk pola konsumsi generasi muda.
Media sosial kini menjadi medan pertempuran sengit antara dua gaya hidup kontras di kalangan generasi muda: frugal living dan flexing. Platform digital ini tidak hanya mendorong konsumsi berlebihan, tetapi juga menjadi wadah bagi penyebaran literasi finansial. Antropolog Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menyoroti peran ganda media sosial dalam membentuk perilaku ekonomi masyarakat.
Menurut Semiarto, media sosial secara efektif mendorong pola hidup konsumtif dengan menjadi ruang pamer pencapaian dan gaya hidup. Fenomena ini, yang disebutnya sebagai "economy of appearance", membuat individu merasa perlu menampilkan identitas dan kesuksesan mereka kepada publik.
Namun, di sisi lain, media sosial juga mulai menyajikan narasi tandingan melalui konten-konten tentang budgeting, hidup hemat, dan tantangan finansial. Ini menunjukkan adanya dinamika kompleks di mana platform yang sama dapat memicu konsumsi sekaligus mengedukasi tentang pengelolaan keuangan.
Peran Ganda Media Sosial dalam Pola Konsumsi
Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa media sosial adalah instrumen paling efektif untuk mendorong pola hidup konsumtif. Platform ini memungkinkan setiap orang untuk memamerkan pencapaian serta gaya hidup mereka di hadapan publik luas.
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut "economy of appearance," yaitu dorongan kuat untuk mempertunjukkan identitas dan kesuksesan diri melalui unggahan digital. Masyarakat merasa perlu untuk menunjukkan sesuatu, baik itu berupa barang terbaru maupun lokasi nongkrong yang sedang hits.
Pencapaian yang sering ditampilkan di media sosial umumnya berkaitan dengan aspek ekonomi dan gaya hidup, mulai dari tempat nongkrong tertentu hingga pembelian barang-barang mewah. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan standar sosial dan memicu perbandingan antarindividu.
Dorongan 'Economy of Appearance' dan Standar Sosial
Semiarto menyoroti bagaimana media sosial mendorong individu untuk terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Perbandingan ini seringkali memicu keinginan untuk segera memiliki apa yang dimiliki orang lain, terutama barang-barang terbaru.
Fenomena ini mempercepat tren konsumsi, di mana seseorang yang melihat ponsel model baru akan terdorong untuk segera memilikinya. Semiarto mengatakan, "Saya sudah punya HP model baru nih, kalau bisa saat itu juga saya juga punya." Siklus perbandingan dan keinginan ini menciptakan tekanan sosial yang signifikan terhadap pola belanja.
Akibatnya, standar sosial di masyarakat terus meningkat karena adanya dorongan untuk selalu mengikuti tren dan menunjukkan kemewahan. Lingkaran ini dapat menjebak individu dalam pola konsumsi yang tidak berkelanjutan.
Kontra Narasi Frugal Living dan Literasi Finansial
Meskipun memiliki potensi mendorong konsumsi, media sosial juga menjadi ruang efektif bagi penyebaran narasi tandingan. Konten-konten yang mempromosikan frugal living atau hidup hemat kini mulai berkembang pesat di berbagai platform digital.
Narasi ini mencakup tips budgeting, tantangan "no buy challenge," dan berbagai strategi untuk mengelola keuangan dengan lebih bijak. Kehadiran konten semacam ini menawarkan alternatif gaya hidup yang lebih sadar finansial kepada generasi muda.
Semiarto melihat media sosial sebagai platform yang mampu menyajikan kontra narasi terhadap budaya konsumtif. Ini menunjukkan bahwa platform digital memiliki kapasitas untuk memberikan edukasi dan mempromosikan kebiasaan finansial yang sehat.
Peran Penting Influencer dalam Membentuk Perilaku Konsumsi
Influencer memiliki peran krusial dalam membentuk perilaku konsumsi masyarakat, baik secara positif maupun negatif. Mereka memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi pilihan dan gaya hidup pengikutnya.
Oleh karena itu, diperlukan lebih banyak figur influencer yang tidak hanya mendorong konsumsi berlebihan, tetapi juga mempromosikan literasi finansial. Semiarto menegaskan, "Kita perlu influencer yang bukan mendorong konsumsi tetapi mempromosikan financial literacy."
Dengan adanya influencer yang berfokus pada literasi finansial, diharapkan generasi muda dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan ekonomi. Ini akan membantu menyeimbangkan dorongan untuk flexing dengan kesadaran akan pentingnya hidup hemat.
Sumber: AntaraNews